Headlines
Loading...

Oleh: Imas Sunengsih
(Kontributor SSCQMedia.com)

SSCQMedia.com— Suatu ketika, aku berada dalam kondisi yang serba sulit. Rasa sesak di dada seolah tak terbendung lagi. Aku menyadari betapa lemahnya diri ini. Air mata kerap jatuh dari pelupuk mata. Kebimbangan terus menghantui, membuatku bingung harus berbuat apa. Setiap hari, aku hanya bisa mencurahkan isi hati kepada Sang Pencipta.

Aku menyadari bahwa manusia memang memiliki sifat suka berkeluh kesah. Baru saja diuji dengan persoalan seperti ini, aku sudah merasa sebagai orang yang paling menderita. Ya, begitulah manusia, termasuk diriku yang masih kurang ilmu.

Aku pun mulai belajar menyikapi setiap ujian dengan bijaksana. Ada satu sosok yang selalu menyadarkanku dalam proses tersebut, yaitu guru kecilku.

Setiap hari, aku senantiasa melantunkan doa kepada Rabb-ku dengan penuh harap agar keinginanku terwujud. Namun, seiring berjalannya waktu dan bertambahnya ilmu, aku menyadari bahwa ada yang kurang tepat dalam doaku. Keinginan yang kita harapkan belum tentu baik dalam pandangan Allah. Bisa jadi, sesuatu yang kita inginkan justru membawa keburukan bagi diri kita. Oleh karena itu, aku belajar untuk senantiasa berprasangka baik terhadap segala ketetapan Allah.

Aku terus berproses, belajar memaknai dan mengambil ibrah dari setiap ujian yang dihadapi. Ilmu yang kudapatkan menyadarkanku bahwa sesuatu yang kita inginkan belum tentu diridai Allah. Akhirnya, doaku pun berubah. Aku belajar menyerahkan segala urusan kepada Sang Pemilik alam semesta karena Allah Mahamengetahui apa yang terbaik bagi hamba-Nya.

Di tengah kondisi yang belum stabil, aku berusaha menguatkan diri dan tetap tersenyum ketika tampil di hadapan publik. Aku terus menjalani proses ini, hingga suatu hal membuatku terharu. Ternyata, ada tangan mungil yang senantiasa menemaniku. Dialah malaikat kecilku.

Ia selalu menghapus air mataku ketika aku menangis dalam doa. Dengan suara lirih, ia berkata, "Uma, jangan menangis. Aku sayang Uma."

Mendengar ucapan lembutnya, aku tersadar bahwa masalah yang sedang kuhadapi tidak seharusnya terus menguras air mata hingga membuatku kehilangan semangat.

Malaikat kecilku menyadarkanku untuk senantiasa bersabar dalam menghadapi ujian. Aku belajar dari sosok guru kecil yang membuatku tertegun sekaligus malu. "Uma, sabar, ya," katanya.

Kalimat sederhana itu menjadi penyemangat bagiku untuk bangkit. Tanpa disadarinya, ia telah menjadi guru dalam proses pembelajaran hidupku.

Aku pun berpikir lebih dalam. Masalah yang kuhadapi ternyata tidak seberat yang kubayangkan. Coba bayangkan saudara-saudara muslim di Palestina yang menghadapi ujian berat, bahkan berada dalam ancaman kehilangan nyawa. Kesulitan yang mereka alami mengingatkanku untuk lebih bersyukur dan menguatkan kesabaran.

Aku selalu mengingat janji Allah bahwa bersama kesulitan ada kemudahan. Sebagaimana firman Allah Swt. dalam Al-Qur'an surah Al-Insyirah ayat 5–6:

Ayat 5:

فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا

Artinya: "Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan."

Ayat 6:

إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا

Artinya: "Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan."

Dari guru kecilku, aku belajar banyak hal, terutama tentang kesabaran, kekuatan, dan senyuman. Tingkahnya yang lucu dan polos mengajarkanku pelajaran hidup yang luar biasa. Karena itu, ingin rasanya memberikan hadiah kecil untuknya sebagai ungkapan terima kasih atas segala hal yang telah dilakukannya untukku.

Dialah yang selalu memelukku ketika perasaan tak lagi terbendung. Dialah yang menghapus air mataku saat jatuh di atas sajadah. Dialah yang mengusap dan menepuk pundakku dengan lembut. Kehadiran malaikat kecilku membuat perjalanan hidup ini dipenuhi pelajaran berharga.

Ia sosok yang penurut ketika diminta melakukan sesuatu. Ia juga tidak mudah menyimpan dendam. Berbagai keunikannya membuatku semakin bersyukur karena Allah telah menghadirkannya dalam hidupku.

Ketika mengingat masa kelahirannya, aku kembali mengenang perjuangan yang tak terlupakan. Saat itu, aku menghadapi proses persalinan yang penuh perjuangan. Ia lahir tanpa bantuan bidan ataupun dokter. Setelah itu, kami pulang dari rumah sakit menggunakan angkutan kota, hanya berdua.

Rasa sakit setelah melahirkan masih sangat terasa ketika aku menggendongnya. Namun, semua perjuangan itu menjadi bagian dari kenangan yang tidak akan pernah kulupakan.

Kini, ia tumbuh menjadi guru kecilku yang senantiasa menemani dalam suka maupun duka. Terima kasih, Nak, karena telah menjadi guru kecil bagi Uma. Kehadiranmu mengajarkan Uma untuk terus berproses menjadi hamba yang lebih baik di hadapan Allah Swt.

Hadiah kurban ingin kupersembahkan untuk guru kecilku sebagai wujud rasa syukur sekaligus pengingat tentang pentingnya ketaatan kepada Allah Swt. Aku teringat kisah Nabi Ibrahim a.s. dan Nabi Ismail a.s. tentang pengorbanan, ketaatan, serta kepatuhan kepada perintah Allah.

Doakan, ya, Nak, semoga Uma dimudahkan untuk mewujudkan hadiah kurban untukmu. Semoga Allah memberikan kelapangan rezeki dan kemudahan agar niat baik ini dapat terlaksana.

Doa pun senantiasa Uma panjatkan untuk guru kecilku. Jadilah sosok pemimpin dan pejuang Islam yang berkepribadian Islam. Jadilah anak yang berbakti kepada orang tua dan berakhlak mulia. Semoga engkau menjadi teladan bagi umat pada masamu kelak.

Semoga Allah Swt. mempertemukan kita kembali di Jannah Firdaus. Amin, ya Rabbalalamin.

Semoga generasi muslim tumbuh menjadi generasi tangguh yang mampu mengemban amanah perjuangan Islam. Kita mengenal sosok Muhammad Al-Fatih yang berhasil menaklukkan Konstantinopel sebagai salah satu teladan dalam sejarah Islam. Semoga lahir generasi penerus yang berilmu, berakhlak mulia, dan berdedikasi tinggi dalam memperjuangkan kebaikan bagi Islam dan kaum muslim.

Wallahualam bissawab.

[Ni/HEM]

Baca juga:

0 Comments: