Headlines
Loading...

Oleh: Nur Syamsiah Tahir
(Kontributor SSCQMedia.com)

SSCQMedia.com— Bapakku bernama H. Ahmad Tahir. Beliau lahir pada 29 Desember 1942 dari rahim seorang ibu bernama Suwarni. Adapun ayahnya bernama Sukrowi. Sebagai anak yang lahir dan tumbuh di desa, kehidupan bapakku tidak jauh berbeda dengan anak-anak desa lainnya. Beliau bermain di sawah, mandi di sungai, beternak ayam, bermain layang-layang, bersembunyi di balik tanaman tebu saat bermain petak umpet, dan mengayuh sepeda ontel demi menuntut ilmu agar tidak tertinggal oleh perkembangan zaman.

Berdasarkan cerita bapak saat aku masih duduk di bangku sekolah dasar, Mbah Kung, panggilan untuk ayah bapakku, tidak pernah mengatakan tidak punya uang ketika bapak meminta uang untuk kebutuhan sekolahnya.

Suatu pagi, selepas salat Subuh, bapakku sudah siap berangkat ke sekolah dengan sepeda ontelnya. Mbah Kung kemudian berkata, “Ayo, jalan dah,” sambil membawa rumput yang kemudian diikatkan pada boncengan sepeda ontelnya sendiri.

Melihat hal itu, tentu saja bapakku heran. Dalam hati, beliau bertanya-tanya, Aku minta uang, kok malah diajak berangkat dengan membawa rumput?

Tanpa banyak bertanya, bapakku mengayuh sepeda ontelnya sendiri mengikuti Mbah Kung. Setibanya di pasar, bapak diminta menunggu di tepi jalan, sedangkan Mbah Kung langsung menemui penjual rumput di pojok pasar.

Tak lama kemudian, transaksi selesai. Mbah Kung menghampiri bapak sambil memberikan sejumlah uang sesuai dengan permintaannya sehari sebelumnya.

Di situlah bapakku menyadari bahwa meskipun hidup dalam keterbatasan, orang tuanya tidak pernah menolak ketika anaknya membutuhkan uang untuk keperluan sekolah. Dengan mata berkaca-kaca, bapak meraih tangan Mbah Kung dan berpamitan untuk berangkat sekolah seraya mengucapkan terima kasih atas perjuangan ayahnya.

Pada kesempatan lain, saat bapak sudah bersekolah di kota, kereta api menjadi salah satu alat transportasi termurah kala itu. Ketika duduk di deretan kursi gerbong, bapak melihat sosok lelaki bertubuh tegap dengan pakaian putih dan celana panjang. Penampilannya necis, rapi, dan bersahaja, dengan sepatu mengilap.

Sekilas, bapakku mengenali sosok tersebut sebagai seorang guru di salah satu lembaga pendidikan di kota. Saat itulah terbersit keinginan dalam benaknya untuk menjadi guru. Bapak tidak ingin meneruskan profesi orang tuanya sebagai petani.

Sejak peristiwa itu, bapak semakin giat belajar demi mewujudkan cita-citanya menjadi seorang guru. Menurut bapak, guru merupakan profesi yang sangat mulia. Gurulah yang berperan mengantarkan generasi berikutnya menuju kesuksesan dalam kehidupan.

Waktu terus berlalu hingga akhirnya cita-cita bapak menjadi guru terwujud. Saat itu, tenaga guru memang sangat dibutuhkan. Meskipun harus tetap mengayuh sepeda ontel untuk menuju sekolah tempatnya mengabdi, bapak tidak pernah kehilangan semangat. Beliau bertekad agar generasi setelahnya memiliki kehidupan yang lebih baik daripada dirinya.

Bapak dikenal sebagai guru yang tegas, disiplin, dan tidak banyak bicara. Penampilannya yang demikian justru membuat beliau disegani banyak orang, baik di kalangan sesama guru maupun masyarakat umum. Di kalangan murid-muridnya, bapak yang memiliki kumis di atas bibir mendapat julukan Pak Raden, seperti tokoh dalam film Si Unyil kala itu.

Bapak tidak hanya mengajar di sekolah dasar, tetapi juga ikut merintis sekolah menengah pertama yang saat itu baru ada satu di daerah kami dan berstatus swasta. Setelah menyelesaikan tugas di sekolah dasar, bapak pulang sebentar, kemudian berangkat lagi untuk mengajar di SMP PGRI.

Saat tiba di teras sekolah, derap langkah bapak dengan sepatu kulitnya terdengar mantap hingga ke dalam kelas. Secara otomatis, para murid langsung duduk diam. Tidak terdengar suara berisik sedikit pun. Respons tersebut muncul karena para murid sudah memahami karakter bapak.

Ketika ada murid yang bersalah atau melanggar peraturan sekolah, bapak terkadang memelintir telinga atau mencubit bagian bawah ketiak mereka. Bahkan, pernah suatu ketika bel masuk berbunyi, tetapi dua murid masih asyik menghabiskan segelas es sirup yang dibelinya. Tanpa banyak bicara, bapak mendatangi penjual es sirup dan memborong dagangannya. Setelah itu, kedua murid tersebut diminta menghabiskan minuman mereka saat itu juga di bawah pengawasan bapak.

Tentu saja, jika tindakan semacam itu dilakukan oleh guru pada masa sekarang, persoalannya bisa menjadi panjang. Guru bahkan berisiko dilaporkan kepada pihak berwenang. Namun, pada masa itu, tidak ada wali murid yang memprotes tindakan bapak ataupun guru lainnya. Bahkan, para orang tua berterima kasih atas tindakan guru ketika anak-anak mereka melanggar peraturan.

Suatu hari, seorang tamu datang ke rumah kami. Setelah berbincang sebentar, tamu tersebut berkata, “Saya, kalau tidak dipelintir telinga saya oleh Bapak, tidak mungkin saya bisa jadi kepala desa seperti saat ini.”

Mendengar perkataan tamu itu, aku mendapatkan pemahaman bahwa didikan tegas dari orang tua atau guru tidak selalu berarti kebencian atau ketidaksukaan. Namun, ketegasan tersebut perlu disertai kepedulian dan bertujuan membimbing anak agar tidak menyimpang dari jalan yang benar sehingga kehidupannya kelak menjadi lebih baik.

Di samping berprofesi sebagai guru, sejak menikah dengan ibuku, bapak juga aktif menjadi pengurus masjid di lingkungan tempat tinggal kami. Kebetulan, ayah dari ibuku juga sering menjadi imam salat berjemaah di masjid tersebut. Sebagai menantu, bapak mengikuti jejak mertuanya, terlebih ketika ada peringatan hari besar keagamaan, seperti Ramadan, menjelang Idulfitri, dan Iduladha.

Khusus pada Iduladha, meskipun penghasilan sebagai guru saat itu masih terbatas, bapak termasuk pengurus masjid yang sangat giat ketika ada tetangga yang menyerahkan hewan kurban. Jumlahnya terkadang hanya satu ekor kambing, tetapi ada pula yang mencapai dua hingga tiga ekor.

Sehari atau dua hari sebelum penyembelihan, bapak memandikan kambing-kambing tersebut agar tampak bersih dan terawat. Bapak ingin memberikan pelayanan terbaik kepada orang-orang yang berkurban sekaligus meneladani semangat pengorbanan Nabi Ibrahim a.s. dan ketaatan Nabi Ismail a.s.

Walaupun saat itu bapak belum mampu berkurban sendiri karena keterbatasan ekonomi dan gaji guru yang minim, beliau tetap bersemangat melayani para jemaah yang berkurban.

Bahkan, pernah suatu pagi saat sarapan, kakak sulungku bertanya kepada bapak, “Pak, cuma nasi dan kerupuk ini yang kita makan?”

Mendengar pertanyaan anak sulungnya, bapak terdiam. Beliau menangis dalam hati. Demikian pula ibuku.

Oleh karena itu, ketika Iduladha tiba, bapak selalu menjalankan tugas sebagai pengurus masjid dengan sebaik-baiknya. Sebagai pengurus, beliau biasanya mendapatkan bagian daging kurban lebih banyak daripada warga sekitar. Hal itu dimanfaatkan agar anak-anak dan istrinya bisa menikmati daging kambing, meskipun hanya setahun sekali atau ketika ada tetangga yang mengadakan hajatan.

Tahun demi tahun berlalu tanpa banyak perubahan. Hingga akhirnya, tibalah saat bapak mampu membeli kambing untuk dikurbankan pada hari raya Iduladha. Saat itu, kedua kakakku sudah beranjak remaja.

Bagi kami, anak-anaknya, hal tersebut merupakan kejutan yang membahagiakan. Akhirnya, kami bisa menikmati daging kambing selama beberapa hari.

Kejutan lain yang tak kalah membahagiakan datang ketika pada 1990 bapak tercatat sebagai calon jemaah haji. Beliau berangkat sendiri tanpa didampingi ibu. Ada kebanggaan dan keharuan, tetapi juga kesedihan yang menyelimuti hati ibu dan kami, anak-anaknya.

Saat itu, terjadi tragedi di terowongan Mina yang menelan banyak korban. Kami terus mengikuti berita melalui televisi dan radio karena saat itu belum ada telepon di desa kami. Peristiwa tersebut menjadi kenangan yang tidak terlupakan. Kami bersujud syukur karena bapak selamat dan pulang dalam keadaan sehat walafiat.

Tahun demi tahun terus berganti hingga kakak sulungku menikah dengan seorang lelaki asal Pulau Bawean yang tinggal di Singapura. Sejak saat itu, kehidupan kakak berubah. Kami pun merasakan kebahagiaan dan keberkahan dari pernikahan tersebut.

Menjelang Iduladha, kakak dan suaminya selalu mengirimkan dana untuk membeli hewan kurban, baik kambing maupun sapi, yang kemudian disembelih di desa kami dan dibagikan kepada masyarakat sekitar.

Kami pun berbagi tugas. Bapak dan suami kakak keduaku mencari serta membeli kambing atau sapi sesuai dengan dana yang dikirimkan. Aku bertugas menyiapkan daftar nama orang yang menitipkan dana kurban, sedangkan kakak keduaku menjadi fotografer selama proses penyembelihan hingga pembagian daging.

Setelah itu, foto-foto dan rekaman video dikirimkan kepada kakakku yang tinggal di Singapura. Dari tahun ke tahun, jumlah hewan kurban terus bertambah seiring dengan bertambahnya sanak saudara dari pihak kakak ipar yang menitipkan dana untuk pembelian hewan kurban. Amanah tersebut dipercayakan kepada bapak dan kakak iparku.

Keteladanan bapak juga kurasakan ketika aku menikah dengan seorang lelaki yang secara ekonomi belum semapan kedua kakakku. Saat anak pertamaku lahir, kondisi perekonomian keluarga kami masih belum stabil.

Suatu ketika, suamiku berniat pergi ke Kalimantan untuk mengadu nasib. Kebetulan, ada kerabat jauh yang telah sukses di sana. Namun, bapak memberikan nasihat.

“Rezeki itu Allah Swt. yang mengatur. Jika Allah memberi secangkir, tidak akan mungkin tertukar dengan satu timba. Begitu pula sebaliknya. Jika Allah Swt. memberimu rezeki satu timba, tidak akan tertukar dengan yang secangkir. Teruslah berusaha dan lebih mendekat kepada Sang Pemberi Rezeki.”

Sejak saat itu, suamiku kembali bertekad menekuni profesinya semula, yakni menjadi guru di sekolah swasta di daerah kami. Aku pun mengikuti jejak bapak dengan menjadi guru di sekolah yang sama dengan tempat suamiku mengajar.

Setelah beberapa waktu mengamati kehidupan kami, bapak kembali memberikan nasihat.

“Selama bapak berkeluarga dengan ibu, urusan yang harus didahulukan setelah urusan agama adalah urusan perut. Urusan perut maksudnya stok beras harus ada. Itu yang terpenting karena jika badan sehat, makan dengan lauk apa pun, bahkan tanpa lauk sekalipun, akan terasa nikmat. Sebaliknya, jika beras tidak ada, kondisi perut akan berpengaruh pada hal-hal lainnya.”

Nasihat itu kami pegang hingga sekarang. Kami juga meneruskannya kepada sanak saudara dan teman-teman yang telah berkeluarga. Alhamdulillah, lambat laun, dengan izin Allah Swt., kondisi perekonomian kami mulai membaik meskipun secara perlahan.

Kini, lima tahun telah berlalu sejak bapakku dipanggil kembali oleh Sang Pemilik Kehidupan. Nasihat dan keteladanan beliau terus kami jalankan. Demikian pula dengan kegiatan penyembelihan hewan kurban yang didanai keluarga kakakku dari Singapura. Amanah tersebut kini diteruskan oleh kakak iparku dan anak serta menantu kakak sulungku.

Sementara itu, hingga saat ini, meskipun perekonomian keluarga kami mulai membaik, aku belum mampu berkurban sendiri. Dengan lima orang anak, kami masih harus berjuang memenuhi kebutuhan hidup dan biaya pendidikan mereka.

Namun, di lubuk hati yang paling dalam, keinginan untuk berkurban tetap ada dan terus menyala. Keinginan itu secara khusus kupersembahkan untuk bapakku karena beliau adalah sosok guru dalam kehidupanku, pemberi cahaya bagi kehidupan diriku dan keluargaku.

Semoga Allah Swt. menerima segala amal ibadah bapak dan ibu, mengampuni dosa-dosa mereka, serta menempatkan keduanya di dalam surga-Nya. Amin, ya Rabbalalamin.

[Ni/EKD]

Baca juga:

0 Comments: