Headlines
Loading...
Persembahan Kurban untuk Dua Guru Kehidupanku

Persembahan Kurban untuk Dua Guru Kehidupanku

Oleh: Lilik Yani
(Kontributor SSCQMedia.com)

SSCQMedia.com—Guru yang membuka tabir kegelapan agar terang bercahaya. Guru yang membuka jalan untuk bisa bersekolah lebih tinggi. Guru yang mengenalkanku pada ilmu-ilmu baru yang sebelumnya tak kudapatkan. Guru yang membuatku mencintai ilmu dan buku. Guru yang menantangku menjadi penulis buku. Guru yang mengajarkan cinta dan berbagi kepada sesama.

Kakakku, Perempuan Pemberani

Di desaku, kebanyakan anak perempuan setelah lulus SD, bahkan yang belum lulus pun, jika ada yang melamar, langsung dinikahkan. Sangat jarang ada perempuan yang melanjutkan sekolah ke SMP di kota. Orang tua tak mau repot membiayai sekolah. Selain lokasinya jauh dan membutuhkan transportasi, mereka juga khawatir melepas anak pergi jauh.

“Nduk, kamu dilamar Pak Karno, orang paling kaya di desa ini. Enak nanti hidupmu, enggak usah repot-repot sekolah. Ibu juga enggak tega melepasmu pergi jauh,” kata Ibu.

Kakakku cantik sekali. Kulitnya putih bersih, tubuhnya tinggi besar, dan rambutnya panjang hingga sepinggang. Cantik alami. Saat itu, ia dianggap sebagai bunga desa. Banyak lelaki yang menaksirnya. Aku melihat beberapa kali kakak dikirimi surat cinta. Beberapa orang bahkan datang langsung melamarnya kepada Ibu.

Namun, kakak memiliki semangat belajar yang tinggi. Impiannya bisa kuliah dan menjadi guru. Ia ingin mengajar anak-anak desa agar terdidik dan memiliki pikiran maju.

“Buk, aku enggak mau! Aku mau sekolah ke kota. Aku mau lanjut ke SMP, SMA, terus kuliah ke Yogya. Aku enggak mau menikah dulu. Aku mau jadi contoh bagi adik-adik agar punya pikiran maju!” jawab kakak sambil menyampaikan impiannya.

Kekuatan komitmen kakak sungguh luar biasa. Meskipun berkali-kali ada yang meminang dan menawarkan kehidupan mewah, beliau tak bergeming. Meski sering harus berdebat dengan Ibu dan Nenek, kakak tetap kukuh dengan impiannya.

Masyaallah, jadilah kakak pelopor yang bersekolah ke kota, bahkan sampai kuliah. Meski sangat berat bagi keluarga untuk membiayai, semangat kakak mengalahkan segalanya. Apa pun yang dimiliki keluarga akan dijual demi pendidikan.

Alhamdulillah, tiga adiknya mengikuti jejaknya. Tak bisa kubayangkan jika setelah lulus SD aku harus menikah. Banyak juga teman seangkatanku yang mencukupkan pendidikan dengan ijazah SD, sekadar bisa membaca dan menulis. Lalu menikah dan menjadi ibu di usia sangat muda.

Buku Tuntunan Salat Milik Kakak

Saat itu, buku yang ada hanyalah buku tulis dan pensil. Buku pelajaran sekolah tidak perlu dibeli karena semuanya dipinjamkan oleh sekolah. Satu-satunya buku yang ada di rumah adalah buku tuntunan salat. Buku itu dibeli kakak saat berada di kota.

Itulah satu-satunya buku panduan yang kubaca setiap saat. Saat itu belum ada mushaf Al-Qur’an di rumah. Orang tuaku juga belum mengenal huruf hijaiah. Hanya kakak yang boleh pergi ke masjid karena jaraknya jauh dari rumah.

Selisih usia kakak denganku enam tahun sehingga Ibu tidak mengizinkanku ikut. Suasana malam tanpa listrik. Kakak dan teman-temannya membawa obor sebagai penerang jalan.

Sebuah pengorbanan besar untuk bisa belajar salat dan mengaji.

Hingga suatu saat, kakak dan temannya melaksanakan salat di rumah. Sungguh, itu merupakan hal baru bagiku. Kakak kelas 6 SD, sedangkan aku masih TK. Jadi, aku belum sepenuhnya memahami apa yang dilakukan kakak.

Hingga suatu ketika aku masuk SD dan sudah bisa membaca buku satu-satunya yang ada di rumah. Aku membaca tulisan latinnya terlebih dahulu karena belum mengenal huruf hijaiah. Allah membuka hidayah. Dengan sering membaca buku tuntunan salat dan melihat kakak salat, perlahan-lahan aku mulai memahami.

Sekali waktu kakak mengajakku salat di masjid. Karena tidak memiliki mukena, aku dipakaikan kain jarik milik Ibu sebagai pengganti mukena.

“Nanti ikuti saja gerakan kakak, jangan mendahului, ya. Kita mengikuti imam. Kita salat berjemaah,” pesan kakak sebelum salat dimulai.

Sungguh, buku tuntunan salat milik kakak sangat bermanfaat. Buku itu menjadi wasilah yang mencerahkan hati dan pikiranku. Aku memohon kepada Allah semoga buku tersebut menjadi amal jariah yang mengalirkan pahala untuk almarhumah kakak.

Ibuku, Pemberani dan Teladan Kebaikan

Ibuku menghadapi siapa saja tanpa rasa takut, apalagi jika menyangkut kepentingan anak-anak dan keluarga. Ibu pantang berutang dan meminta. Apa saja yang ada di rumah akan ditawarkan kepada orang-orang untuk dijual.

Ibu pandai berjualan. Demi membantu Bapak memenuhi kebutuhan keluarga, ketika warung di rumah tidak bisa mencukupi, Ibu berpikir keras.

Kulakan hasil pertanian dari gunung, naik truk untuk mengangkut belanjaan, lalu menjualnya di rumah. Banyak tengkulak datang ke rumah membeli dagangan Ibu.

Sungguh, semua itu tak bisa aku lakukan. Aku pemalu dan takut. Bagaimana mungkin bisa makan dan menyekolahkan empat anak jika Ibu pemalu dan penakut sepertiku?

Ketika ada masalah dengan siapa pun, Ibu terdepan sebagai juru bicara. Ibu tak takut menghadapi siapa pun selama ia merasa tidak bersalah. Namun, ketika Ibu bersalah, ia pula yang terdepan meminta maaf dan memohon keikhlasan kepada orang yang mungkin telah terluka hatinya.

Bahkan ketika merasa tidak bersalah pun, jika melihat wajah seseorang tidak sumringah atau cerah, Ibu akan cepat-cepat meminta maaf. Ibu khawatir jika wajah murung orang di hadapannya itu karena merasa tidak enak kepadanya.

Masyaallah, luar biasa ibuku.

Mengulurkan tangan untuk meminta maaf adalah kebiasaan Ibu.

“Maaf, ya. Maaf kalau Ibu melukai hatimu. Maaf, ya. Orang tua kalau bicara sering kebablasan. Tingkah lakunya kadang kelewatan juga. Tolong maafkan, ya!” ucap Ibu kepada siapa saja, termasuk anak-anak dan keluarga di rumah.

Ibuku Terdepan dalam Ibadah

Ibu akan bersiap mandi dan berwudu sebelum azan berkumandang. Menunggu waktu salat sambil memegang tasbih, membaca wirid apa saja yang beliau hafal. Sambil berkeliling kamar, beliau mengecek anak-anak, memastikan apakah sudah bersiap untuk berwudu.

Ibu juga rajin membaca Al-Qur’an setiap hari, pagi setelah salat Duha dan selepas salat Asar.

“Ini temanku. Hatiku ayem kalau membaca Al-Qur’an. Tapi kadang, ya, setan itu menggoda, rasa malas datang. Tapi yo kudu dilawan!” ucap Ibu penuh semangat.

Selain Al-Qur’an, Ibu juga sangat rajin membaca buku. Buku apa saja yang ada di rumah akan dilahap habis. Meski pendidikannya sederhana, Ibu cerdas. Ia bisa membaca dengan cepat dan menuliskan bagian-bagian penting yang dibutuhkannya.

Apalagi ketika anaknya suka menulis buku, buku-buku yang dibaca Ibu semakin banyak.

“Buku-buku di rumah numpuk. Tak kasihno orang-orang, yo? Buat apa buku numpuk, wis mari diwoco kabeh,” ucap Ibu sambil menata buku-buku yang telah selesai dibaca.

Apalagi dalam hal sedekah, Ibu juaranya. Tetangga sering bercerita bahwa Ibu suka berbagi makanan, uang, buku, majalah, hingga pakaian.

Beliau tak mau sering-sering dibelikan baju. Baju yang masih layak akan diberikan kepada orang lain yang memiliki hubungan dekat dengannya.

Ketika tak ada yang bisa disedekahkan, Ibu akan mencari sayur di pekarangan untuk dimasak dan diantarkan kepada tetangga.

Siapa yang tak terkesan dengan sikap Ibu seperti itu? Bersedekah dalam kondisi lapang maupun sempit.

Semua Tinggal Kenangan di Hati

Keberanian kakak untuk menjadi pelopor pendidikan bagi adik-adik dan orang-orang di sekitarnya kini tinggal kenangan. Teladan terdepan dalam berbagai amal saleh yang dicontohkan Ibu juga tinggal kenangan.

Beliau berdua sudah tiada. Allah memanggil dua orang terdekat yang paling aku cintai dalam jarak waktu yang teramat dekat. Satu luka belum kering, Allah memberikan luka yang lebih dalam.

Mohon kekuatan, ya Allah. Aku yakin, ketentuan-Mu adalah yang terbaik.

Mereka berdua adalah guru-guru kehidupan bagi kami sekeluarga.

Innalillahi wa inna ilaihi raji’un.

Semua berasal dari Allah dan akan kembali kepada Allah. Istirja, kami pahami. Hanya saja, nurani manusia terkadang masih berat untuk menerima dan ikhlas karena Allah.

Mohon pertolongan-Mu, ya Allah.

Pengorbanan Ibu dan kakak tak bisa dibeli dengan harga sebesar apa pun. Yang mereka butuhkan hanyalah doa dan kiriman pahala amal saleh dari anak-anak dan keluarga yang saleh.

Teladan kebaikan, nasihat, dan ilmu yang mereka ajarkan, insyaallah, akan terus mengalirkan pahala jika kami amalkan. Insyaallah, akan terus kami tunaikan semaksimal mungkin.

Impian dan Istikamah Kurban

“Te, enaknya kamu bisa kurban setiap tahun. Tante kerja, punya penghasilan sendiri, bebas mengatur keuangan,” ucap kakak.

“Mbak juga enak, enggak usah bekerja, tetapi semua terpenuhi. Pangkat Mas tinggi, gaji besar,” jawabku.

“Biasanya kalau kurban atas nama keluarga, aku pengin bisa kurban sendiri,” ungkap kakak.

Teringat dialog kecil kala itu, maka ketika kakak dalam kondisi kritis, aku ingin mewujudkan impian itu.

Sedangkan Ibu, insyaallah, istikamah berkurban. Entah dibelikan adik, urunan, atau menggunakan tabungan Ibu sendiri. Bismillah, semoga menjadi amal saleh sebagai bentuk cintanya kepada Allah.

Tahun ini, sebagai tanda terima kasihku kepada dua guru kehidupanku, niat itu kucanangkan ketika beliau berdua dipanggil Allah pada Januari dan Februari 2026 lalu.

Dengan kekuatan niat yang diiringi doa dan harapan kuat, Allah mencukupkan dana untuk membeli dua ekor kambing kurban atas nama kakak dan Ibu.

Allahku, dua guru kehidupanku telah kembali menghadap-Mu. Mereka yang mengenalkanku kepada-Mu dan terus menjaga istikamah dalam ketaatan kepada-Mu dengan teladan keberanian beramal saleh.

Allahku, mohon terima doa-doa dan amal saleh yang kami kirimkan untuk almarhumah berdua. Allahku, mohon terima kurban atas nama kakak dan Ibu. Semoga menjadi wasilah menuju surga-Mu kelak.

Pertemukan mereka dalam kondisi bahagia dan gembira di taman surga. Mohon pertemukan kami, keluarga besar, di surga-Mu kelak. Berkumpul kembali dan bahagia bersama, melampaui kebahagiaan di dunia.

Amin.

Wallahualam bissawab. [Ni/EKD]

Surabaya, 20 Mei 2026

Baca juga:

0 Comments: