Headlines
Loading...

Oleh: Wilda Nusva Lilasari, S.M.
(Kontributor SSCQ Media)

SSCQMedia.com—Kesepian di tengah keramaian menjadi hal yang semakin nyata dialami generasi hari ini. Di tengah dunia yang serba terhubung, seseorang tetap bisa merasa sendirian, kehilangan arah, bahkan merasa hidupnya begitu berat.

Beberapa kasus yang diberitakan media menjadi pengingat bahwa persoalan ini tidak bisa dianggap sepele. Pada September 2026, Kompas.com memberitakan seorang mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya berinisial RR (19) yang diduga mengalami krisis di lingkungan kampus. Dalam kasus lain, seorang pria berinisial FS (30) ditemukan meninggal dunia di kawasan GBK, Jakarta Pusat. Sebelumnya, FS diketahui sempat mengunggah pesan perpisahan dan memberikan donasi kepada komunitas kesehatan mental.

Dua kasus tersebut tentu tidak cukup untuk menjelaskan penyebab seseorang mengalami krisis secara utuh. Bunuh diri merupakan persoalan yang kompleks dan dapat berkaitan dengan banyak faktor. Kementerian Kesehatan sendiri menyebut tekanan hidup, kesepian, kekerasan, gangguan jiwa, serta keterbatasan akses layanan kesehatan mental sebagai beberapa faktor yang dapat berkaitan dengan risiko bunuh diri. Kemenkes juga menyediakan Healing119.id sebagai layanan dukungan psikologis awal bagi masyarakat yang mengalami tekanan atau krisis psikologis.

Lalu, mengapa generasi hari ini bisa merasa begitu kosong?

Ketika Dunia Makin Ramai, tetapi Hati Kehilangan Arah

Generasi muda hidup di tengah arus digital yang sangat cepat. Informasi datang tanpa henti. Tren terus berubah. Standar kesuksesan pun seolah tidak pernah selesai.

Hari ini harus produktif. Besok harus punya pencapaian baru. Harus sukses, mengikuti perkembangan, memiliki pengalaman, dan terlihat baik-baik saja.

Akhirnya, kita bisa merasa pontang-panting mengejar dunia. Ketika satu target tercapai, muncul target berikutnya. Melihat pencapaian orang lain membuat kita kembali merasa tertinggal.

Di sinilah, dari perspektif Islam, sekularisme, yaitu pemisahan agama dari kehidupan, perlu dikritisi. Ketika kehidupan diarahkan terutama pada pencapaian duniawi dan keberhasilan individu, manusia dapat kehilangan pertanyaan yang paling mendasar: untuk apa sebenarnya hidup ini?

Kita mengejar banyak hal, tetapi setelah mendapatkannya, hati masih bertanya, “Setelah ini apa?”

Kita takut tertinggal oleh dinamika ekonomi, pendidikan, pekerjaan, dan kehidupan sosial. Padahal, dunia tidak pernah berhenti bergerak. Jika standar hidup kita hanya mengikuti apa yang sedang dikejar manusia, kita akan terus merasa kurang.

Kita mengejar dunia sedemikian rupa, tetapi terkadang yang didapat hanya remah-remahnya.

Lalu, Bagaimana Islam Membangun Generasi yang Tidak Kosong?

Pertama, Islam membangun akidah sebagai benteng jiwa.

Seorang Muslim meyakini bahwa h(>idup memiliki tujuan. Ada Allah yang menciptakan, mengatur, mengetahui, dan selalu dekat dengan hamba-Nya.

Allah berfirman:

Ù…َا ÙŠَÙƒُونُ Ù…ِÙ†ْ Ù†َجْÙˆَÙ‰ٰ Ø«َÙ„َاثَØ©ٍ Ø¥ِÙ„َّا Ù‡ُÙˆَ رَابِعُÙ‡ُÙ…ْ...

“Tiada pembicaraan rahasia antara tiga orang, melainkan Dia yang keempatnya...”

(QS. Al-Mujadilah: 7)

Kesadaran bahwa Allah selalu mengetahui keadaan kita membuat seorang Muslim tidak melihat ujian sebagai akhir dari segalanya. Kesulitan tetap terasa berat, tetapi ia memiliki tempat untuk bersandar.

Karena itu, seorang Muslim berusaha menggenggam pemikiran yang menghubungkan kehidupan dengan Allah: dari mana kita berasal, untuk apa kita hidup, dan ke mana kita akan kembali. Setiap masalah pun diselesaikan dengan merujuk kepada syariat-Nya.

Kedua, Islam membangun ikatan keluarga dan masyarakat berdasarkan akidah.

Manusia tidak dibiarkan berjalan sendirian. Ada keluarga, sahabat, tetangga, dan masyarakat yang memiliki tanggung jawab untuk saling peduli.

Amar makruf nahi mungkar merupakan bagian dari kepedulian tersebut. Ketika ada saudara yang sedang kesulitan, Islam mengajarkan kita untuk hadir, mendengar, membantu, dan mengingatkan dengan cara yang baik.

Sebab, terkadang seseorang tidak membutuhkan ceramah panjang. Ia hanya membutuhkan seseorang yang mau hadir dan berkata, “Kamu nggak sendirian.”

Ketiga, Islam mengatur kehidupan secara menyeluruh.

Dalam pandangan Islam, pendidikan tidak hanya diarahkan untuk mengejar pekerjaan dan keuntungan. Ilmu seharusnya membentuk manusia yang beriman, berkepribadian Islam, dan bermanfaat bagi umat.

Ekonomi pun tidak semata-mata tentang siapa yang paling kaya atau siapa yang paling banyak mendapatkan keuntungan. Islam memiliki aturan tentang kepemilikan, distribusi, dan tanggung jawab sosial.

Karena itu, semangat belajar dan berkarya seharusnya bukan hanya karena takut kalah dalam persaingan. Lebih dari itu, ada kesadaran untuk memberikan kemaslahatan bagi umat.

Pada akhirnya, mungkin pertanyaannya bukan hanya, “Apa yang belum kita punya?”

Tetapi juga:

“Seberapa dekat kita dengan Allah?”

Sebab, sebanyak apa pun yang kita kejar, hati manusia tetap membutuhkan makna.

Dan bagi seorang Muslim, makna hidup tidak berhenti pada dunia.

Kita hidup untuk beribadah kepada Allah, menjalankan syariat-Nya, dan menjadi manusia yang bermanfaat bagi sesama.

Jadi, jika hari ini hati terasa kosong, mungkin bukan karena hidup kita terlalu sedikit. Bisa jadi, hati kita sedang membutuhkan Allah lebih dekat.

Wallahualam bissawab. [MR/En]


Baca juga:

0 Comments: