Iklan Adidas, Boikot, dan Tragedi Palestina
Oleh: Alfi Ummuarifah
(Kontributor SSCQMedia.Com)
SSCQMedia.Com— Dunia internasional memang sedang berpihak. Bukan kepada para korban di Palestina, tetapi justru terlihat adanya dukungan terhadap IDF, termasuk dari perusahaan pakaian dan sepatu olahraga sekaliber Adidas. Siapa yang tak kenal Adidas? Untungnya, masih ada pihak yang sadar sehingga gelombang boikot tetap bergulir. Inilah yang beberapa hari terakhir menjadi viral. Produsen perlengkapan olahraga raksasa, Adidas, berhadapan dengan gelombang kritik keras tersebut.
Seruan boikot pun tak terelakkan setelah Adidas menampilkan mantan tentara Isr4el dalam kampanye iklan layanan Single Shoe bagi penyandang disabilitas. Sungguh miris dan kontras. Iklan Adidas tersebut memperlihatkan mantan tentara Isr4el, Shalev Biton, sedang mencoba sepatu di sebuah gerai di Isr4el. Biton kemudian memakainya untuk berlari di luar ruangan.
Akhirnya, ada pihak yang berani mengkritiknya. Koordinator kampanye boikot pada Ahad menyebut iklan tersebut sebagai “penghinaan nyata bagi warga Palestina”. Kritik tersebut muncul karena kampanye itu menampilkan mantan tentara Isr4el yang kehilangan anggota tubuh, sementara banyak warga Palestina juga mengalami amputasi akibat konflik di Gaza. Sikap Adidas pun dinilai tidak pantas oleh para pengkritiknya karena dianggap menunjukkan keberpihakan terhadap IDF dan pendudukan (Republika, 8/9/2026).
Biton memang kehilangan kaki akibat luka yang dialaminya ketika bertugas dalam konflik Isr4el-Gaza pada 2021. Ia kemudian menjadi salah satu dari 11 atlet penyandang disabilitas yang ditampilkan dalam materi promosi layanan Single Shoe Adidas di Isr4el. Kampanye tersebut memicu kemarahan publik dan seruan boikot secara daring dari sejumlah aktivis pro-Palestina.
Perkaranya bukan sekadar masalah Adidas yang dianggap kurang peka atau tidak sensitif. Para pengkritik menilai kampanye tersebut sebagai penghinaan bagi warga Palestina yang kehilangan orang-orang tercinta maupun anggota tubuh akibat konflik. Stephanie Westbrook, koordinator kampanye boikot olahraga untuk Palestinian Campaign for the Academic and Cultural Boycott of Isr4el (PACBI), salah satu organisasi pendiri gerakan Boikot, Divestasi, dan Sanksi (BDS), turut mengkritik kampanye tersebut.
Westbrook menekankan bahwa kampanye tersebut berisiko menormalisasi tindakan Isr4el terhadap warga Palestina. Menurut para pengkritik, pemilihan mantan tentara Isr4el sebagai salah satu wajah kampanye tersebut menjadi persoalan tersendiri mengingat tingginya jumlah warga Gaza yang mengalami amputasi akibat konflik.
Lebih parah dari itu Isr4el menjalankan pendudukan militer ilegal di wilayah Palestina, bahkan menerapkan aturan apartheid selama puluhan tahun terhadap warga Palestina. Ini tindakan di luar batas kemanusiaan. Sementara itu PBB dan dunia Internasional tidak memberikan sanksi apa pun pada Isr4el.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan lebih dari 5.000 amputasi traumatis pada anggota tubuh telah terjadi di Gaza sejak Oktober 2023. Angka tersebut menunjukkan beratnya dampak konflik terhadap warga sipil Palestina, termasuk mereka yang harus menjalani kehidupan dengan disabilitas akibat cedera.
Nah, iklan tersebut memperlihatkan mantan tentara itu sedang berolahraga, yaitu berlari, di jalanan. Inilah pemandangan yang semakin menyakiti rasa kemanusiaan. Di tengah kondisi warga Gaza yang banyak mengalami kehilangan anggota tubuh, kampanye tersebut dianggap tidak sensitif terhadap penderitaan warga Palestina.
Seorang aktor Spanyol, Javier Bardem, menjadi salah satu tokoh yang menyerukan boikot terhadap merek tersebut. Bardem, yang dikenal menyuarakan hak-hak Palestina, juga membagikan sejumlah gambar dan video terkait kampanye boikot di akun media sosialnya.
Di mana para tokoh dunia hari ini? Berpihak ke mana mereka?
Lantas, di mana pula posisi kita? Tidakkah kita berpihak pada kemanusiaan atau justru diam membisu di balik batas dan sekat nasionalisme? Boikot saja tidak cukup untuk menghentikan penderitaan di Gaza. Kita membutuhkan solusi yang lebih tepat agar penghinaan serupa tidak terulang lagi.
Dahulu, Palestina masih dibela oleh institusi Islam yang mempersatukan dunia. Sedikit saja penderitaan menimpa Palestina menjadi perhatian serius. Apalagi penghinaan seperti yang muncul dalam kontroversi Adidas ini.
Nah, kita membutuhkan institusi tersebut. Institusi yang tidak membolehkan satu manusia pun dihina, dianiaya, dan dibunuh tanpa sebab. Namun, institusi itu hanya bisa ada jika diperjuangkan melalui dakwah berjemaah yang melintasi dunia tanpa batas sekat wilayah.
Oleh karena itu, mari berjuang dan berdakwah untuk mewujudkannya agar dunia bebas dari penjajahan dan pendudukan. Institusi itu adalah rahmat bagi seluruh alam. Institusi itu adalah Khilafah Islamiah.
[An/Wid]
Baca juga:
0 Comments: