Oleh: Ummi Fatih
(Kontributor SSCQ Media)
SSCQMedia.com—Membunuh merupakan tindakan kejam yang menghilangkan nyawa seseorang. Pelakunya harus segera ditangkap, diadili, dan dihukum agar kehidupan kembali aman. Sekalipun nyawa korban telah melayang, keluarganya dapat merasa lebih tenang jika keadilan dan hukuman yang setimpal telah diberikan.
Kendati demikian, bagaimana seandainya pembunuh itu adalah dirinya sendiri melalui tindakan bunuh diri? Jika kita berpikir bahwa hukuman bagi seseorang yang telah meninggal cukup diserahkan kepada Tuhan di akhirat nanti, lalu bagaimana menghadapi orang yang melakukan percobaan bunuh diri tetapi masih hidup? Di samping itu, bagaimana pula cara terbaik untuk mengatasi situasi yang mengkhawatirkan ini agar tidak terus berulang dan diikuti oleh generasi lainnya?
Di Indonesia, jumlah kasus bunuh diri menunjukkan peningkatan. Pada 2023 tercatat 1.332 kasus, kemudian meningkat menjadi 1.403 kasus pada 2024 dan mencapai 1.503 kasus pada 2025. Mirisnya, catatan tersebut dinilai Kementerian Kesehatan masih dapat lebih tinggi jika ditambah dengan kasus serupa yang belum dilaporkan kepada pihak kepolisian. Pelaku bunuh diri juga didominasi kelompok usia 21–30 tahun. Bahkan, anak-anak usia 8–10 tahun juga dikonfirmasi ada yang menunjukkan ketertarikan untuk melakukannya (CNA.id, 11/09/2026).
Alasan Bunuh Diri
Dalam cuplikan informasi Health.detik.com, psikolog klinis Amelia Sari Sani mengatakan bahwa salah satu keluhan yang sering muncul terkait bunuh diri adalah rasa kesepian. Sementara itu, Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Kementerian Kesehatan, Imran Pambudi, menyebut tiga faktor yang dapat menjadi pemicu. Dukungan keluarga menjadi faktor utama, kemudian pertemanan atau perundungan (bullying), dan masalah ekonomi sebagai faktor berikutnya (09/09/2026).
Intinya, alasan individu melakukan bunuh diri berkaitan dengan berbagai persoalan, termasuk kondisi kesehatan mental, kesepian di tengah kehidupan yang ramai, serta keputusasaan ketika menghadapi masalah ekonomi yang semakin berat. Oleh karena itu, kita perlu menelusuri kembali apa yang membuat persoalan tersebut mudah bergejolak sehingga dapat disusun strategi pencegahan yang tepat.
Mulanya, kita telisik dasar ideologi yang diterapkan dalam kehidupan bernegara di Indonesia, yaitu sekularisme dan kapitalisme. Dalam penerapan ideologi kapitalisme yang berorientasi pada keuntungan pribadi, bukankah masyarakat dapat terdorong menjadi semakin individualistis?
Sementara itu, dalam penerapan sekularisme yang memisahkan agama dari kehidupan, masyarakat dapat lebih mudah kehilangan pegangan ketika menghadapi persoalan sehari-hari.
Bayangkan kondisi generasi yang merasa kesepian karena ditinggal orang tua yang sibuk mencari nafkah di tengah sulitnya kehidupan. Dalam pandangan sekularisme, mereka dapat diarahkan untuk memandang persoalan tersebut hanya sebagai ujian dari Tuhan. Ketika kesulitan semakin berat, bisa jadi mereka juga terjebak dalam anggapan bahwa takdir tidak dapat dihindari sehingga tidak ada seorang pun yang dapat membantu. Akibatnya, mereka dapat merasa semakin kesepian, putus asa, dan memilih jalan yang membahayakan diri.
Padahal, berbagai masalah dalam kehidupan belum tentu semata-mata disebabkan oleh kehendak Tuhan. Tuhan Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang tidak akan membebani hamba-Nya di luar batas kemampuan mereka. Sebagian persoalan yang terjadi bisa jadi merupakan akibat dari perbuatan manusia sendiri.
Dalam urusan kesulitan ekonomi, misalnya, dampaknya dapat terlihat dari penerapan sistem ekonomi yang berorientasi pada keuntungan. Bagi sebagian perempuan, kesuksesan dapat dipandang sebagai keberhasilan menjadi wanita karier. Ia mungkin rela menghabiskan banyak waktu untuk bekerja sehingga perhatian kepada buah hati menjadi berkurang. Jika demikian, bukankah kondisi tersebut dapat memengaruhi keutuhan peran dalam keluarga?
Sementara itu, bagi perempuan yang bekerja karena terpaksa membantu suami, tidakkah orang-orang kaya di sekitarnya dapat memberikan bantuan modal tanpa bunga agar suaminya dapat menjalankan usaha dengan lebih baik?
Adapun negara memiliki tanggung jawab terhadap seluruh masyarakatnya. Seandainya negara mengelola sumber daya alam untuk kepentingan rakyat tanpa menyerahkannya kepada kepentingan swasta, bukankah hal itu dapat membuka lebih banyak kesempatan kerja bagi masyarakat? Dengan demikian, kaum perempuan juga dapat lebih tenang menjalankan peran dalam keluarga.
Solusi Masalah Bunuh Diri
Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa persoalan tidak hanya terletak pada individu yang berniat mengakhiri hidupnya. Menurut perspektif tulisan ini, sistem yang diterapkan negara juga perlu dikritisi karena dapat berkontribusi terhadap berbagai persoalan sosial.
Apabila hukuman setimpal bagi kasus pembunuhan adalah memberikan hukuman kepada pelakunya, maka ideologi sekularisme maupun kapitalisme-demokrasi juga perlu ditinggalkan. Dengan kata lain, penerapannya dihentikan dan digantikan dengan sistem yang dianggap mampu memberikan solusi menyeluruh bagi masyarakat.
Setelah itu, negara harus mengisi dan menerapkan ideologi lain yang diyakini paling sempurna, yakni Islam. Tujuannya agar mental generasi berubah menjadi tangguh.
Pasalnya, melalui penerapan ideologi Islam, setiap orang tua akan sadar untuk senantiasa mendidik, membimbing, dan memberikan perhatian kepada anak. Dengan begitu, hubungan mereka akan hangat dan kepribadian generasi juga menjadi kuat.
Dalam kehidupan bermasyarakat, Islam juga memiliki berbagai petunjuk tentang kepedulian. Salah satunya terdapat dalam hadis Rasulullah saw.:
“Tidaklah sempurna iman seseorang yang kenyang sementara tetangganya kelaparan di sampingnya, padahal ia mengetahuinya.”
(HR. Al-Bazzar dan At-Tabrani)
Puncaknya, dalam sistem kenegaraan yang bertanggung jawab mengurusi kebutuhan masyarakat, Islam juga menginstruksikan negara agar membantu masyarakat melalui aktivitas perekonomian yang nyata, bukan hanya sekadar mengucapkan, “Bersabarlah.”
Di samping itu, dunia pendidikan yang diatur negara harus dijadikan pula sebagai sarana untuk memperkuat pembinaan akidah Islam. Dengan demikian, karakter generasi akan semakin kuat sejak dari lingkungan keluarga hingga kehidupan bernegara.
Walhasil, generasi akan selalu yakin dan taat kepada Allah Yang Maha Mengetahui segala sesuatu. Walaupun masalah datang, mereka akan terus bersemangat dan bersabar untuk menghadapinya. Sebab, mereka yakin bahwa petunjuk-Nya mengandung solusi yang sempurna dari Allah Swt. Yang Maha Kuasa. Bantuan juga akan datang dari keluarga, masyarakat, dan negara yang peduli terhadap mereka.
Pada akhirnya, dapat disimpulkan bahwa solusi terhadap persoalan bunuh diri bukan hanya dilakukan ketika seseorang berada dalam kondisi darurat. Harus ada pembinaan pola pikir dan penguatan kondisi ekonomi dengan ideologi Islam sebagai upaya pencegahan yang kuat. [MR/En]
Baca juga:
0 Comments: