Headlines
Loading...
Wukufku di Lorong Rumah Sakit Menuju Padang Arafah

Wukufku di Lorong Rumah Sakit Menuju Padang Arafah

Oleh: Artatiah Achmad
Kontributor SSCQMedia.com

SSCQMedia.com—Pagi itu aku datang ke rumah sakit ketika matahari belum tinggi. Menggendong harapan sekaligus kecemasan. Aku menuntun si bungsu yang masih lemas karena sepuluh hari sebelumnya sempat mengalami demam tinggi dan trombositnya menurun. Hari itu kami memiliki jadwal pemeriksaan laboratorium, kemudian berkonsultasi dengan dokter anak subspesialis endokrin di RS Fatmawati, Jakarta Selatan. Semoga hasil laboratorium itu dapat menjawab kegelisahanku selama berbulan-bulan tentang tumbuh kembang si bungsu.

Tibalah pelajaran tentang kesabaran.

Pertama, aku harus mengantre. Aku mengambil dua nomor antrean: satu untuk konsultasi dengan dr. Bina Akura, Sp.A(K) dan satu lagi untuk pemeriksaan darah. Dua jam kemudian, nama si kecil barulah dipanggil.

Sahabat, dua jam itu terasa seperti wukuf kecilku di dunia yang fana. Aku berdiri, duduk, lalu berdiri lagi. Aku melihat orang-orang di depanku maju satu per satu. Di sana aku belajar menghargai giliran. Aku juga belajar menahan lisan agar tidak mengeluh.

Antrean di lorong rumah sakit itu mengingatkanku pada jutaan manusia yang berkumpul di Padang Arafah. Berdesakan, berpeluh, lalu larut dalam doa dan renungan, memohon ampun atas dosa-dosa yang pernah diperbuat.

Setelah giliran tiba, darah anakku diambil. Dalam dua minggu, itu adalah kali keempat ia menjalani pengambilan darah. Rasanya tak tega melihat jarum menusuk tangan mungilnya. Namun, demi memperoleh diagnosis yang jelas, setiap proses harus dijalani. Alhamdulillah, si bungsu tidak menangis. Aku dan suami terus memberinya semangat agar tetap kuat dan berani.

Aku mengusap punggungnya sambil berzikir pelan.

"Ya Allah, Ya Rahman, Ya Rahim, kasihanilah anakku. Berilah kekuatan kepadanya. Aamiin."

Ujian belum selesai. Setelah pengambilan darah, kami masih harus menunggu hasil laboratorium dengan penuh harap dan cemas. Empat jam kami duduk di bangku rumah sakit yang dingin dan keras. Sesekali aku membuka aplikasi MyRSF untuk melihat apakah hasil laboratorium si bungsu sudah keluar atau belum.

Berbagai pertanyaan terus memenuhi pikiranku.

"Bagaimana jika hasilnya buruk? Bagaimana jika diagnosisnya lebih berat daripada yang kubayangkan?"

Di sela penantian itu, aku memperbanyak zikir dan istigfar. Aku merenungkan dosa-dosa yang pernah kulakukan. Saat itulah aku semakin menyadari bahwa aku hanyalah manusia yang lemah dan penuh keterbatasan. Dokter, perawat, maupun alat-alat medis hanyalah perantara. Jika Allah belum berkehendak, tidak ada yang mampu mengubah keadaan. Sebaliknya, jika Allah berkehendak, segala sesuatu yang tampak mustahil pun akan menjadi mungkin.

Ya Allah, ampunilah dosaku yang sering memaksakan kehendak melalui segala rencanaku. Hari itu aku benar-benar belajar luluh, pasrah, dan bertawakal. Tidak ada alasan untuk sombong, sebab kami semua hanyalah hamba yang sepenuhnya bergantung kepada-Mu.

Akhirnya, hasil laboratorium keluar. Alhamdulillah, aku dapat bernapas sedikit lebih lega, meskipun masih ada proses yang harus dijalani. Setelah membaca hasil pemeriksaan, dr. Bina Akura hanya meresepkan vitamin D. Anakku tidak perlu menjalani terapi hormon pertumbuhan yang kemungkinan harus dilakukan selama bertahun-tahun. Jadwal kontrol berikutnya enam bulan lagi.

Aku menangis. Kali ini, tangis syukur.

Sambil menunggu obat di depan ruang farmasi, aku memejamkan mata dan membayangkan Padang Arafah. Sebuah hamparan luas yang tandus, tempat jutaan manusia mengenakan pakaian putih tanpa sekat, tanpa jabatan, dan tanpa kebanggaan duniawi. Semua menanggalkan gelar yang selama ini melekat pada diri mereka. Semua berdiri sama di hadapan Allah Swt., berpanas-panasan, berpeluh, dan mengangkat tangan seraya bermuhasabah, mengakui dosa, serta memohon segala hajat kepada Sang Pemilik alam semesta.

Hari itu aku merasa pernah "wukuf" juga.

Wukuf di antrean laboratorium.

Wukuf di bangku ruang tunggu.

Wukuf di ruang praktik dokter.

Lalu aku membayangkan Arafah pada Hari Kiamat. Padang yang sama, tetapi dengan suasana yang jauh lebih dahsyat. Matahari begitu dekat di atas kepala. Seluruh manusia berdiri tanpa alas kaki dan tanpa penolong selain amalnya masing-masing. Mereka menunggu hisab. Tidak ada nomor antrean. Tidak ada perawat yang memanggil nama. Yang ada hanyalah amal dan rahmat Allah.

Di sanalah aku memahami bahwa segala lelah hari ini hanyalah latihan kecil. Latihan untuk berdiri dan bersimpuh di hadapan Allah Swt.

Kelak, jika Allah mengizinkan aku berwukuf di Arafah, akan kuadukan semua kisah ini kepada-Nya. Akan kuceritakan bagaimana aku pernah menunggu berjam-jam demi selembar hasil laboratorium. Akan kusampaikan betapa aku bersyukur karena Engkau tidak memberiku ujian yang lebih berat. Dan akan kumohon agar setiap menit penantian hari ini menjadi penghapus dosa-dosaku, serta perjuangan anakku saat diambil darahnya menjadi pemberat timbangan amal kebaikan.

Aku bersyukur karena di balik ujian ini Allah masih memberiku kesempatan untuk bermuhasabah. Semoga tulisan ini menjadi saksi bahwa seorang ibu pernah berwukuf di lorong rumah sakit sebelum benar-benar berwukuf di Padang Arafah.

"Laa ilaaha illallaahu wahdahu laa syariika lah. Lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa 'alaa kulli syai'in qadiir."

Tangerang Selatan, 24 Juni 2026

[My/UF]

Baca juga:

0 Comments: