Oleh: Isnawati
Muslimah Penulis Peradaban
SSCQMedia.Com—Empat anak menjadi harapan baru bagi SD Negeri 2 Sawohan di Dusun Kepetingan, Buduran, Sidoarjo, pada tahun ajaran 2026/2027. Jumlah itu memang sangat kecil. Namun, bagi sekolah yang hanya dapat dijangkau dengan perahu kayu, empat murid adalah napas yang menjaga sekolah itu tetap hidup. Kini sekolah tersebut hanya memiliki 27 siswa. Setiap hari para guru menempuh perjalanan sekitar satu jam menyusuri sungai, menghadapi ombak kecil dan banjir rob yang berkali-kali merendam ruang kelas. Mereka tetap datang mengajar, bukan karena fasilitas yang memadai, melainkan karena tidak tega melihat anak-anak kehilangan hak memperoleh pendidikan (Ngopibareng, Juli 2026).
Luka Pendidikan Negeri
Sulit menahan air mata melihat perjuangan para guru yang mempertaruhkan tenaga, waktu, bahkan keselamatan demi tiba di ruang kelas. Namun, rasa haru tidak boleh berhenti sebagai belas kasihan. Di balik kisah yang menyentuh itu tersimpan luka besar yang sedang menggerogoti dunia pendidikan di negeri ini. Sekolah-sekolah masih berdiri, tetapi perlahan kehilangan murid. Ruang kelas yang dahulu riuh oleh tawa anak-anak kini semakin sunyi. Bangku-bangku kosong seolah menjadi saksi bahwa ada sesuatu yang tidak berjalan sebagaimana mestinya.
Banyak pihak menyebut turunnya angka kelahiran sebagai penyebab utama. Padahal, kenyataannya jauh lebih kompleks. Tidak sedikit orang tua rela bekerja lebih keras, menjual harta, bahkan berutang agar anak-anak mereka dapat bersekolah di tempat yang dianggap mampu menjaga akhlak sekaligus masa depannya. Mereka tidak sedang mengejar kemewahan. Mereka hanya ingin anak-anaknya tumbuh menjadi generasi yang berilmu, beradab, dan terlindungi dari arus kerusakan moral.
Inilah persoalan yang tidak boleh terus disembunyikan. Krisis pendidikan bukan sekadar persoalan gedung yang rusak, buku pelajaran, atau kurikulum yang silih berganti. Akar persoalannya adalah hilangnya kepercayaan masyarakat terhadap kemampuan sistem pendidikan dalam membentuk kepribadian yang kokoh. Pendidikan lebih sibuk mengejar nilai, prestasi, dan peringkat, sementara pembinaan akhlak semakin tersisih dan kehilangan ruhnya.
Akibatnya, berbagai persoalan terus bermunculan. Perundungan, kekerasan, penyalahgunaan narkoba, pornografi, pergaulan bebas, hingga kenakalan remaja terus menghiasi pemberitaan. Memang, setiap kasus memiliki latar belakang yang berbeda. Namun, semuanya menunjukkan satu kenyataan yang sulit dibantah, yakni pendidikan belum mampu menjadi benteng yang melindungi generasi dari kerusakan moral yang semakin mengkhawatirkan.
Yang paling menyayat hati adalah kegelisahan para orang tua. Setiap pagi mereka melepas anak-anak ke sekolah dengan doa yang sama. Mereka tidak hanya berharap anak-anak pulang membawa nilai yang baik, tetapi juga kembali dengan akhlak yang tetap terjaga, tutur kata yang santun, hati yang bersih, serta pergaulan yang tidak merusak masa depan. Sungguh menyedihkan ketika harapan yang begitu sederhana justru terasa semakin sulit diwujudkan. Jika keadaan ini terus dibiarkan, yang hilang bukan hanya murid dari ruang kelas, melainkan juga masa depan generasi.
Perubahan Hakiki yang Menyeluruh
Sungguh, pendidikan tidak akan pernah pulih hanya dengan tambal sulam kebijakan. Pergantian kurikulum, pembangunan gedung, digitalisasi, maupun penambahan anggaran tidak akan menyelesaikan persoalan selama sistem yang menaunginya tetap melahirkan masalah yang sama. Pendidikan tidak pernah berdiri sendiri. Pendidikan berkaitan erat dengan sistem ekonomi, sosial, budaya, media, hingga aturan kehidupan yang diterapkan negara. Selama semua itu tidak dibenahi secara menyeluruh, luka pendidikan akan terus diwariskan dari satu generasi kepada generasi berikutnya.
Islam memandang pendidikan sebagai kebutuhan dasar yang wajib dijamin oleh negara. Setiap anak, baik yang tinggal di perkotaan maupun di pesisir, di pedesaan maupun di pelosok, memiliki hak yang sama untuk memperoleh pendidikan yang berkualitas tanpa dibatasi keadaan ekonomi ataupun letak geografis. Negara wajib memastikan tidak ada satu pun anak kehilangan hak belajar hanya karena kemiskinan atau keterisolasian wilayah.
Islam juga memuliakan guru sebagai pembangun peradaban. Guru bukan sekadar penyampai ilmu, melainkan pembentuk pola pikir, kepribadian, dan ketakwaan generasi. Oleh karena itu, negara berkewajiban menjamin kesejahteraan guru, menyediakan sarana pendidikan yang layak, serta menerapkan kurikulum yang berlandaskan akidah Islam agar lahir generasi yang cerdas, berkepribadian Islam, dan bertakwa.
Lebih dari itu, pembentukan karakter tidak mungkin hanya dibebankan kepada sekolah. Keluarga, masyarakat, media, sistem ekonomi, budaya, hingga seluruh aturan negara harus berjalan ke arah yang sama. Anak-anak tidak mungkin diminta menjaga akhlaknya jika setiap hari lingkungan justru membiasakan kemaksiatan, kekerasan, dan gaya hidup yang merusak. Pendidikan yang melahirkan generasi bertakwa hanya dapat tumbuh dalam sistem kehidupan yang juga dibangun di atas ketakwaan.
Allah Swt. berfirman, “Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.” (QS. Al-Mujadilah: 11). Ayat ini menegaskan bahwa tujuan ilmu dalam Islam bukan hanya melahirkan manusia yang cerdas, tetapi juga beriman, bertakwa, dan berakhlak mulia.
Kisah SD Negeri 2 Sawohan bukan sekadar cerita tentang sekolah yang diterjang banjir rob atau guru yang menyeberangi sungai setiap hari. Kisah itu adalah jeritan sunyi anak-anak yang sedang menanti keadilan, pengorbanan para guru yang tetap mengabdi di tengah keterbatasan, sekaligus cermin buram pendidikan yang sedang kehilangan arah. Mereka tidak membutuhkan simpati yang hanya ramai sesaat. Mereka membutuhkan perubahan yang menyentuh akar persoalan. Perubahan hakiki itu hanya dapat diwujudkan melalui penerapan syariat Islam secara kaffah dalam naungan Khilafah sehingga pendidikan benar-benar melahirkan generasi yang berilmu, bertakwa, berakhlak mulia, dan mampu membangun peradaban terbaik.
Wallahu a'lam bissawab. [An/UF]
Baca juga:
0 Comments: