Headlines
Loading...
Menghimpun Potensi Umat dalam Satu Kekuatan

Menghimpun Potensi Umat dalam Satu Kekuatan

Oleh: Naila Dhofarina Noor, S.Pd., M.A.
(Kontributor SSCQMedia.Com)

SSCQMedia.Com
Dunia menyaksikan Amerika Serikat (AS) kini dijuluki the sick man from Washington setelah Iran tidak mengindahkan ancaman AS yang menyatakan akan menghancurkan Iran apabila tidak memenuhi keinginannya. Faktanya, ketika tenggat waktu yang ditetapkan AS sendiri telah tiba, ancaman tersebut tidak diwujudkan. Sebaliknya, AS justru mengajukan permohonan agar Iran membuka kembali lalu lintas maritim di Selat Hormuz melalui negosiasi gencatan senjata selama dua pekan.

Iran yang telah menghadapi embargo selama puluhan tahun saja mampu membuat AS mundur dari konfrontasi. Apalagi jika seluruh negeri Muslim bersatu dengan mengoptimalkan seluruh potensi sumber daya alam dan sumber daya manusia yang dimiliki. Potensi tersebut antara lain sebagai berikut.

Pertama, populasi Muslim telah melampaui dua miliar jiwa dan terus mengalami pertumbuhan yang pesat. Sebaliknya, populasi negara-negara Barat justru cenderung menyusut. Selain itu, terdapat potensi youth bulge, yaitu fenomena demografis ketika sebagian besar populasi Muslim berada pada rentang usia produktif 15–24 tahun. Jumlahnya diperkirakan mencapai sekitar 540 juta jiwa pada 2030. Kondisi ini menjadi peluang besar untuk mencetak generasi Muslim yang produktif, inovatif, dan berkarakter pejuang.

Kedua, wilayah negeri-negeri Muslim membentang luas di Asia, Afrika, hingga kawasan pinggiran Eropa. Posisi geografis tersebut menjadikan negeri-negeri Muslim menguasai berbagai chokepoints atau jalur strategis perdagangan internasional. Terusan Suez, Selat Hormuz, Selat Malaka, dan Selat Gibraltar merupakan urat nadi ekonomi global yang berada di kawasan negeri-negeri Muslim.

Ketiga, total luas wilayah 57 negara anggota Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) mencapai sekitar 32 juta kilometer persegi. Luas ini jauh melebihi gabungan wilayah Amerika Serikat, Uni Eropa, dan China. Kondisi tersebut memberikan keuntungan berupa strategic depth dalam menghadapi ancaman militer sekaligus memperkuat ketahanan pangan.

Keempat, sekitar 70 persen cadangan minyak dunia berada di negeri-negeri Muslim, seperti Arab Saudi, Irak, Iran, dan Uni Emirat Arab yang merupakan produsen utama minyak dunia. Cadangan gas alam juga dimiliki Iran, Qatar, dan Turkmenistan. Sementara itu, Indonesia merupakan salah satu produsen batu bara terbesar di dunia.

Kelima, produksi biji-bijian dalam jumlah besar dihasilkan oleh Indonesia, Bangladesh, Pakistan, Turki, dan Nigeria. Adapun produksi daging, seperti unta, sapi, dan kambing, diperkirakan mencapai 36,8 juta ton per tahun yang dihasilkan oleh Turki, Pakistan, Indonesia, Iran, dan Mesir. Hal ini menunjukkan besarnya potensi negeri-negeri Muslim dalam mewujudkan ketahanan pangan.

Keenam, kekayaan mineral, seperti nikel, emas, tembaga, dan bauksit, tersebar melimpah di kawasan Afrika, Asia Tengah, dan Indonesia. Kekayaan sumber daya alam tersebut menunjukkan besarnya potensi ekonomi yang dimiliki negeri-negeri Muslim dibandingkan banyak negara Barat. Masyaallah, kurang potensi apa lagi?

Ketujuh, personel militer dari negara-negara Muslim, seperti Pakistan, Indonesia, Aljazair, Iran, Mesir, Turki, dan Maroko, apabila digabungkan diperkirakan mencapai sekitar 3,6 juta personel. Mereka memiliki pengalaman dan keberanian yang lahir dari semangat jihad. Di sisi lain, penulis berpandangan bahwa tentara Barat cenderung bersifat pragmatis sehingga semangat jihad yang dimiliki tentara Muslim menjadi faktor yang paling ditakuti.

Seluruh potensi tersebut membutuhkan persatuan serta kesamaan pandangan politik. Kegagalan AS dalam menghadapi Iran semestinya menjadi momentum bagi rezim-rezim di dunia Islam untuk membangun kemandirian sebagai negara yang independen, bersatu membangun kekuatan ekonomi, sekaligus memperkuat kemampuan pertahanan mereka sendiri.

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا ۚ وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنْتُمْ عَلَىٰ شَفَا حُفْرَةٍ مِنَ النَّارِ فَأَنْقَذَكُمْ مِنْهَا ۗ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ

"Dan berpegang teguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai. Ingatlah nikmat Allah kepadamu ketika dahulu kamu bermusuhan, lalu Dia mempersatukan hatimu sehingga dengan karunia-Nya kamu menjadi bersaudara. Padahal ketika itu kamu berada di tepi jurang neraka, lalu Dia menyelamatkan kamu darinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu agar kamu mendapat petunjuk." (QS. Ali 'Imran [3]: 103).

Umat Islam membutuhkan persatuan yang dihimpun oleh sebuah kepemimpinan yang berasaskan Islam serta mampu mengayomi seluruh kaum Muslim tanpa memandang mazhab ataupun aliran selama berada dalam akidah tauhid yang sama. Menurut pandangan penulis, kepemimpinan tersebut adalah Khilafah yang secara historis dinilai berhasil menyatukan umat dan menyebarkan rahmat bagi semesta alam selama berabad-abad. [An/IDP]

Baca juga:

0 Comments: