Oleh: Ratty S. Leman
(Kontributor SSCQMedia.Com)
SSCQMedia.Com—
الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَالَّذِيْنَ هَاجَرُوْا وَجَاهَدُوْا فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ أُولٰۤىِٕكَ يَرْجُوْنَ رَحْمَتَ اللّٰهِ ۗ وَاللّٰهُ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ
"Sesungguhnya orang-orang yang beriman, berhijrah, dan berjihad di jalan Allah, mereka itulah yang mengharapkan rahmat Allah. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."
(QS Al-Baqarah [2]: 218)
Sebelumnya saya mengikuti ODOJ biasa sehingga baru mampu membiasakan diri untuk rutin tilawah. Alhamdulillah, meskipun baru sampai di tahap itu, tetap patut disyukuri. Meluangkan waktu untuk tilawah ternyata bukan perkara mudah. Yang terpenting adalah berani memulai langkah hijrah. Jangan sampai kesibukan ini dan itu membuat kita tidak sempat membaca Al-Qur'an.
Sering kali saya bertanya kepada diri sendiri, "Ya Allah, mengapa aku belum mampu mengatur waktu untuk membaca Al-Qur'an satu juz setiap hari?" Padahal sebenarnya tidak terlalu berat jika dilakukan secara konsisten. Saat itu saya hanya mampu membaca sekitar dua hingga tiga lembar, atau seperempat juz. Itu pun rasanya sudah cukup baik karena masih bisa meluangkan waktu setelah Subuh atau setelah Magrib untuk tilawah.
Saya iri kepada mereka yang dimudahkan Allah untuk membaca setengah juz, bahkan satu juz setiap hari. Lebih iri lagi kepada mereka yang mampu menghatamkan dua juz atau lebih dalam sehari. Mengapa mereka bisa, sedangkan saya belum? Ternyata jawabannya sederhana, karena mereka sudah terbiasa. Kebiasaan itu dibangun sejak lama, bahkan sebagian telah dilatih sejak kecil.
Saat itulah saya bertekad untuk mulai membiasakan diri. Bagaimana caranya? Ya, dengan memaksa diri. Jika tidak dipaksa, saya tidak akan pernah memulai. Akhirnya saya mencari komunitas yang dapat membantu menjaga konsistensi tilawah.
Alhamdulillah, saya menemukan beberapa komunitas ODOJ (One Day One Juz), di antaranya Grup ODOJ Bogor, Grup KhatamQu AQL, dan Komunitas Pecinta Al-Qur'an. Saat itu fokusnya masih pada tilawah, sesekali ditambah dengan tadabbur.
Pada Ramadan 1443 H, tepatnya Challenge ke-6, saya memberanikan diri mengikuti ODOJ Plus-Plus SSCQ. Sempat muncul keraguan. ODOJ biasa saja masih sering keteteran, bagaimana mungkin harus membaca terjemah sekaligus menuliskan ayat pilihan beserta hasil tadabburnya? Mampukah saya? Bismillah. Di mana ada kemauan, insyaallah Allah akan membukakan jalan.
Alhamdulillah, saya memulai dari kelas Teras dengan target seperempat juz setiap hari. Pertimbangannya, selain tilawah juga harus membaca terjemah dan menuliskan hasil tadabbur. Pada Challenge ke-8 saya naik ke Kelas A dengan target setengah juz. Kemudian, pada Challenge ke-13, Allah memberi kemudahan untuk masuk Kelas B dengan target satu juz setiap hari. Hingga Challenge ke-61 saat ini, saya masih istiqamah menjalaninya.
Artinya, sejak Challenge ke-13 hingga Challenge ke-61, sudah 48 kali saya menghatamkan ODOJ Plus-Plus setiap bulan. Kurang lebih sudah empat tahun Allah memberi nikmat itu. Masyaallah, betapa besar karunia-Nya. Allah memberikan izin, pertolongan, dan penjagaan sehingga kami dapat terus tilawah, membaca terjemah, serta menuliskan hasil tadabbur. Nikmat mana lagi yang hendak kita dustakan?
Bagi saya, berinteraksi dengan Al-Qur'an tidak cukup hanya membaca untuk meraih pahala. Al-Qur'an juga harus dipahami maknanya. Apa pesan yang Allah sampaikan melalui surat cinta-Nya ini? Alhamdulillah, saya juga sedang belajar bahasa Arab meskipun masih pada tahap dasar. Namun, langkah yang paling mudah adalah membaca terjemahnya.
Membaca terjemah saya usahakan menjadi kebiasaan setiap selesai tilawah. Tanpa membaca terjemah, bagaimana mungkin memahami isi Al-Qur'an? Bagaimana pula dapat memilih ayat yang akan ditulis sebagai laporan tadabbur? Biasanya saya memilih ayat yang sesuai dengan tema challenge. Misalnya, pada Challenge ke-61 bertema Hijrah, maka saya mencari ayat-ayat tentang hijrah. Ketika temanya Haji dan Kurban, saya mencari ayat-ayat yang berkaitan dengan haji dan kurban. Begitulah seterusnya. Alhamdulillah, setidaknya setiap hari saya tetap membaca terjemah Al-Qur'an, meskipun secara cepat, untuk menemukan ayat pilihan yang akan ditadabburi dan dituliskan.
Demikian tulisan hari kedua ini yang sedikit terlambat saya setorkan karena padatnya aktivitas pada hari Ahad, sejak pukul 03.00 dini hari hingga malam. Seusai mengambil rapor anak, kami langsung bersafar ke Garut, kota Teh Noi Yani Mulyani dan Teh Iim Imas Komalasari.
Garut, 28 Juni 2026
[My/Wa]
Baca juga:
0 Comments: