Oleh: Ummu Kayfa Lestari
Kontributor SSCQMedia.Com
SSCQMedia.Com—Menyaksikan berita dari Gaza hari ini bukan lagi sekadar menyaksikan pertempuran militer, melainkan pembantaian sistematis terhadap masa depan sebuah bangsa. Laporan terbaru UNICEF mengungkap fakta yang menyayat hati sekaligus memancing keprihatinan. UNICEF melaporkan bahwa rata-rata satu anak Palestina terbunuh setiap hari di Gaza selama lebih dari delapan bulan terakhir sejak gencatan senjata diumumkan pada Oktober 2025 (CNN Indonesia, 20 Juni 2026).
Zionis Israel secara sengaja menargetkan anak-anak Gaza sebagai sasaran. Rata-rata, satu anak Palestina gugur setiap hari. Angka kematian tersebut hanyalah puncak gunung es dari penderitaan yang lebih besar. Anak-anak yang selamat harus menanggung beban yang tidak semestinya dipikul pada usia mereka. Banyak di antara mereka mengalami luka fisik yang berujung pada kecacatan permanen, seperti kehilangan kaki, tangan, atau indra penglihatan akibat reruntuhan bangunan. Selain itu, trauma psikologis yang berat juga menjadi ancaman yang terus membayangi kehidupan mereka.
Anak-anak ini tumbuh dalam bayang-bayang kematian. Mereka kehilangan hak untuk bermain, belajar, dan merasakan kasih sayang orang tua secara utuh. Masa depan mereka bukan hanya terancam, tetapi, menurut penulis, sedang dihancurkan secara sistematis.
Mengapa anak-anak menjadi sasaran? Hal ini bukan sekadar kerusakan kolateral (collateral damage) atau dampak yang tidak dapat dihindari dari perang. Zionis sengaja menargetkan anak-anak dalam rangka genosida untuk menghabisi muslim Palestina. Tujuan akhir mereka sangat jelas: menguasai seluruh wilayah Palestina dan mewujudkan proyek "Israel Raya". Demi mencapai ambisi teritorial tersebut, mereka menghalalkan segala cara.
Gencatan senjata yang digadang-gadang dunia internasional, terbukti belum mampu menghentikan jatuhnya korban. UNICEF bahkan menyebut gencatan senjata di Gaza sebagai "ilusi yang mematikan". Sedikitnya 265 anak Palestina dilaporkan tewas sejak gencatan senjata diumumkan pada Oktober 2025 (Anadolu Agency, 19 Juni 2026). Kondisi ini menunjukkan bahwa kecaman internasional dan berbagai instrumen hukum internasional belum mampu memberikan perlindungan yang efektif bagi anak-anak Palestina.
Dalam kondisi seperti ini, kepada siapa harapan harus disandarkan? Zionis tidak akan menghentikan agresinya hanya karena pergantian pemimpin. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) belum mampu menjalankan fungsinya secara efektif karena berbagai resolusi yang dihasilkan tidak disertai langkah yang mampu menghentikan kekerasan.
Selain itu, sebagian negara Muslim yang dinilai belum menunjukkan langkah nyata untuk menghentikan tragedi di Palestina. Kepentingan nasional dan pertimbangan politik sering kali lebih diutamakan daripada persatuan umat Islam dalam membela Palestina.
Khilafah merupakan satu-satunya institusi politik Islam yang memiliki kapasitas, legalitas, dan komitmen untuk melakukan jihad fi sabilillah guna membebaskan Palestina.
Di bawah naungan Khilafah, perlindungan terhadap anak-anak Palestina tidak berhenti pada resolusi atau bantuan kemanusiaan semata. Negara akan menjamin keselamatan jiwa, pemulihan kesehatan fisik dan mental, pendidikan yang layak, kesejahteraan, serta masa depan mereka. Anak-anak Gaza dipandang sebagai generasi penerus umat yang harus dilindungi dan dipersiapkan menjadi pemimpin. Seluruh kebutuhan tersebut dapat dibiayai melalui pengelolaan sumber daya alam umat secara mandiri tanpa bergantung pada utang luar negeri.
Penegakan Khilafah bukan sekadar utopia, melainkan qadhiyah mashiriyah (persoalan yang menentukan nasib) bagi umat Islam yang harus diperjuangkan. Selama dunia masih bergantung pada sistem kapitalisme, penderitaan anak-anak Gaza akan terus berlanjut. Pembebasan Masjidil Aqsa dan keselamatan generasi Palestina hanya dapat terwujud apabila umat Islam bersatu, menghapus sekat nasionalisme, dan menegakkan Khilafah sebagai institusi yang menjalankan fungsi pelayanan umat dan mengakhiri kezaliman. Dengan demikian, senyum anak-anak Gaza dapat kembali merekah tanpa bayang-bayang perang dan genosida. [My/UF]
Baca juga:
0 Comments: