Gencatan Senjata Semu, Penjajahan Terus Berlanjut di Gaza
Oleh: Sahnita Ningsih
Pemerhati Sosial Politik, Deli Serdang
SSCQMedia.Com—Data terbaru menunjukkan bahwa korban tewas akibat serangan Israel di Jalur Gaza telah melampaui 1.000 jiwa sejak gencatan senjata yang dimediasi Amerika Serikat diberlakukan pada Oktober 2025. Kementerian Kesehatan Palestina mencatat, hingga pertengahan Juni 2026 sedikitnya 1.005 warga Palestina terbunuh akibat serangan udara, penembakan, dan operasi militer Israel yang terus berlangsung hampir setiap hari, meskipun gencatan senjata secara formal masih berlaku (Al Jazeera, 17 Juni 2026).
Fakta tersebut menunjukkan bahwa gencatan senjata di Gaza tidak pernah benar-benar menghadirkan perdamaian yang hakiki. Dalam praktiknya, gencatan senjata justru menjadi alat legitimasi politik untuk meredakan tekanan opini publik internasional, sementara di lapangan penjajahan dan pembunuhan terus berlangsung. Ketika dunia menganggap konflik telah mereda, rakyat Palestina justru masih hidup di bawah bayang-bayang serangan dan kematian setiap hari.
Akar persoalan tidak hanya terletak pada agresi Israel, tetapi juga pada ketiadaan kekuatan politik dan militer umat Islam yang mampu menjadi junnah (perisai) bagi kaum muslim. Selama umat Islam tidak memiliki institusi kepemimpinan yang menyatukan kekuatan mereka serta mampu memberikan perlindungan nyata, tragedi serupa akan terus berulang.
Rasulullah saw. bersabda,
"Sesungguhnya imam itu adalah perisai (junnah). Orang-orang berperang di belakangnya dan berlindung kepadanya."
(HR Muslim).
Hadis ini menunjukkan bahwa institusi kepemimpinan memiliki fungsi strategis sebagai pelindung agama, kehormatan, jiwa, dan wilayah kaum muslim. Ketika institusi tersebut tidak ada, umat menjadi tercerai-berai, kehilangan pelindung, serta mudah menjadi sasaran intervensi dan penjajahan, sebagaimana yang terjadi di Palestina saat ini.
Rasulullah saw. juga bersabda,
"Perumpamaan orang-orang mukmin dalam hal saling mencintai, saling menyayangi, dan saling mengasihi adalah seperti satu tubuh. Apabila salah satu anggota tubuh merasakan sakit, seluruh tubuh akan ikut merasakan demam dan tidak dapat tidur."
(HR Muslim).
Hadis tersebut menggambarkan bahwa kaum muslim seharusnya laksana satu tubuh yang saling peduli dan saling melindungi. Karena itu, penderitaan rakyat Palestina semestinya menjadi luka bersama yang mendorong umat Islam untuk mengambil peran nyata dalam mengakhiri penjajahan.
Oleh sebab itu, umat tidak boleh menggantungkan harapan kepada pihak-pihak yang selama ini terbukti tidak mampu menghentikan penjajahan. Penyelesaian persoalan Palestina tidak cukup dilakukan melalui diplomasi maupun bantuan kemanusiaan semata, tetapi memerlukan persatuan umat Islam serta kekuatan yang mampu menghentikan penjajahan secara nyata.
Dalam pandangan Islam, pembebasan Palestina memerlukan jihad fi sabilillah untuk mengakhiri penjajahan Israel beserta pihak-pihak yang mendukungnya. Persatuan umat di bawah naungan syariat Islam diyakini akan melahirkan kekuatan besar yang mampu melindungi kaum muslim dan menjaga kehormatan mereka. Karena itu, umat Islam perlu memperjuangkan tegaknya kembali kepemimpinan Islam sebagai junnah (perisai) yang menjaga agama, kehormatan, jiwa, serta setiap jengkal tanah kaum muslim dari penjajahan.
Wallahualam bissawab. [MA/AA]
Baca juga:
0 Comments: