Headlines
Loading...
Gen Z: Depresi hingga Resistensi

Gen Z: Depresi hingga Resistensi

Oleh: Nurul Bariyah
(Penulis Opini Islam)

SSCQMedia.Com—Dilansir dari Goodstats.id pada 8 Juni 2026, generasi Z (Gen Z) mengalami berbagai gangguan kesehatan mental. Berdasarkan data yang diperoleh, sebanyak 60 persen mengalami depresi akibat kekhawatiran akan masa depan. Setelah itu, gangguan akibat tekanan finansial mencapai 57 persen. Di bawahnya terdapat gangguan yang dipicu oleh ekspektasi sosial. Sementara itu, gangguan mental karena merasa tidak berdaya menghadapi situasi di luar kendali mencapai 36 persen.

Pemicu Gangguan Mental atau Depresi

Berbagai gangguan mental tersebut dipicu oleh rasa khawatir yang berlebihan. Pengaruh media sosial juga menjadi salah satu penyebab gangguan mental. Secara tidak sadar, media sosial memiliki dampak negatif terhadap kesehatan mental. Media sosial kerap menjadi sumber tekanan, perbandingan sosial, serta contoh perilaku buruk bagi remaja yang kondisi mentalnya belum stabil.

Gejala yang diperlihatkan antara lain emosi yang mudah meledak, kecemasan berlebihan, sulit tidur, dan perilaku ekstrem. Semua itu dialami oleh sebagian Gen Z hingga mengganggu aktivitas mereka, bahkan menghambat tumbuh kembangnya. Sebagai generasi penerus bangsa, Gen Z diharapkan mampu tumbuh dan berkembang dengan baik, memiliki ketangguhan mental dan fisik, gigih dalam berjuang, serta memiliki pemikiran yang cemerlang.

Faktanya, hampir setengah dari Gen Z yang mengalami gangguan mental mengaku percaya pada layanan profesional, seperti konseling, terapi, hingga penggunaan obat sebagai cara untuk pulih. Mereka memandang kerentanan emosional bukan sebagai kelemahan, melainkan sesuatu yang wajar dan perlu ditangani. Hal ini dapat dikatakan sebagai salah satu keunggulan mereka dibandingkan generasi sebelumnya. Selain bersikap kritis, mereka juga lebih terbuka dan tidak malu mengakui masalah yang dialaminya.

Tentu saja, kondisi ini merupakan persoalan serius mengingat generasi muda adalah harapan masa depan bangsa. Bukankah kita ingin mewujudkan Indonesia Emas? Lalu, bagaimana hal itu dapat terwujud jika mental Gen Z tidak siap menghadapi gelombang persaingan? Fenomena ini ternyata tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga di berbagai negara di dunia.

Gangguan mental tersebut kemudian mendorong munculnya gelombang resistensi, yaitu fenomena penolakan massal yang kritis dan terorganisasi oleh Gen Z terhadap sistem, kebijakan, atau teknologi yang dianggap mengancam masa depan mereka. Contohnya, sebagian Gen Z memandang perkembangan kecerdasan buatan (AI) sebagai ancaman terhadap lapangan kerja. Mereka melakukan aksi protes di berbagai kampus di dunia, seperti mengecam para pemimpin perusahaan teknologi dan menolak korporasi yang menggantikan tenaga manusia dengan AI demi efisiensi biaya. Bagi mereka, langkah tersebut diharapkan menjadi titik balik untuk mendorong perubahan ke arah yang lebih baik.

Faktanya, biang keladi dari berbagai kegelisahan tersebut adalah krisis multidimensi, yaitu kondisi ketika suatu negara mengalami kemunduran secara bersamaan dalam berbagai aspek kehidupan. Dalam praktiknya, kondisi ini mencakup krisis ekonomi, politik, hukum, serta krisis kepercayaan sosial.

Sudah terbukti bahwa sistem sekuler kapitalisme telah melahirkan berbagai kerusakan. Sistem ini lebih berpihak kepada kelompok pemilik modal. Sementara itu, masyarakat kecil justru semakin terbebani. Kehidupan pun semakin jauh dari aturan Allah Swt., yang tampak dari berbagai persoalan di hampir seluruh lini kehidupan.

Keadaan dunia memang sedang tidak baik-baik saja. Krisis yang terjadi di negeri ini juga dialami oleh banyak negara lain. Namun, jika dibandingkan dengan pemuda pada masa lalu, Gen Z hidup pada masa yang jauh lebih mudah. Berbagai fasilitas tersedia, begitu pula sarana pendidikan dan akses belajar yang semakin mudah diperoleh.

Pandangan Islam Mengenai Depresi pada Gen Z

Islam memandang bahwa berbagai krisis yang terjadi di dunia saat ini merupakan akibat semakin jauhnya para penguasa dari aturan Allah Swt. Pada masa kejayaan Islam, ketika hukum yang diterapkan bersumber dari syariat Allah, masyarakat hidup dalam kemakmuran dan kesejahteraan. Sebaik-baik aturan adalah aturan Allah Swt.

Dari penerapan aturan yang benar akan lahir generasi-generasi yang berkualitas. Dalam Islam, anak-anak dididik sejak dini agar memiliki akidah dan keimanan yang kuat. Mereka diajarkan mengenal Allah, menaati syariat-Nya, dan bergantung hanya kepada-Nya. Mereka juga memahami bahwa segala sesuatu yang terjadi di muka bumi berlangsung atas izin Allah. Oleh karena itu, seorang muslim diajarkan untuk bersabar ketika menghadapi ujian, bukan larut dalam keputusasaan.

Karakter seperti inilah yang dimiliki para pemuda pada masa Rasulullah saw. dan para sahabat. Di antaranya adalah Mush'ab bin Umair, seorang pemuda dari keluarga terpandang yang rela meninggalkan kemewahan demi menjalankan dakwah Rasulullah saw. di Madinah. Berkat dakwahnya, masyarakat Madinah telah siap menerima kedatangan Rasulullah saw. saat hijrah karena telah beriman kepada Allah Swt. Mush'ab rela meninggalkan kehidupan yang nyaman demi perjuangan dakwah.

Teladan lainnya adalah Ali bin Abi Thalib, Zubair bin Awwam, Talhah bin Ubaidillah, Abdullah bin Mas'ud, Muhammad Al-Fatih, dan Al-Khawarizmi. Mereka merupakan sosok-sosok yang memberikan kontribusi besar bagi perjuangan dan peradaban Islam sesuai bidang masing-masing.

Rasulullah saw. bersabda,

ÙŠَعْجَبُ رَبُّÙƒَ Ù…ِÙ†ْ Ø´َابٍّ Ù„َÙŠْسَتْ Ù„َÙ‡ُ صَبْÙˆَØ©ٌ

"Rabbmu kagum kepada seorang pemuda yang tidak memiliki kecenderungan untuk menyimpang." (HR Ahmad)

Shabwah adalah kecenderungan untuk menyimpang dari kebenaran.

Karena itu, pemuda seharusnya memiliki mental yang kuat dalam berjuang sebagaimana para pemuda Islam pada masa lalu. Mereka tidak mudah terpengaruh, tidak mudah menyerah, serta memiliki keimanan yang kokoh. Semua itu dapat diraih dengan semakin mendekatkan diri kepada Allah Swt., menaati perintah-Nya, menjauhi larangan-Nya, mempelajari ilmu agama, serta mengembangkan ilmu pengetahuan lainnya.

Pemuda juga harus memiliki kepedulian terhadap sesama, membantu orang yang mengalami kesulitan, serta saling menasihati agar menjauhi kemaksiatan sehingga terwujud kehidupan yang selaras dengan aturan Allah Swt. Dengan demikian, akan lahir peradaban Islam yang makmur dan sejahtera, tanpa krisis, tanpa depresi, dan tanpa kegelisahan. Pemuda muslim harus mempersiapkan diri menjadi pemimpin bangsa yang adil, amanah, serta berwawasan luas.

Wallahu a'lam bissawab. [ry/PR]

Baca juga:

0 Comments: