Headlines
Loading...
Bantuan atau Tipuan untuk Gaza?

Bantuan atau Tipuan untuk Gaza?

Oleh: Ummi Fatih
(Kontributor SSCQMedia.Com)

SSCQMedia.Com—Board of Peace (BoP) dikabarkan akan mengelola pusat-pusat pengungsian penduduk Gaza yang tidak dikendalikan oleh Hamas. Meskipun di wilayah pengungsian akan diberikan layanan medis, tempat tinggal yang disiapkan hanya berupa karavan, yakni kendaraan semacam bus atau kereta rekreasi yang difungsikan sebagai hunian sementara dan dapat berpindah tempat. Sementara itu, tujuan dari rencana tersebut dinilai sebagai upaya perluasan wilayah Zionis Israel di atas tanah Gaza. (metrotvnews.com, 01/07/2026).

Dari informasi tersebut, BoP semakin menunjukkan jati dirinya sebagai lembaga internasional yang mendukung Zionis, bukan lembaga perdamaian yang menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan. Buktinya, bantuan yang hendak diberikan kepada korban Gaza yang tengah mengalami kesulitan hanya berupa fasilitas yang sangat minim.

Model pengamanannya pun justru dilakukan melalui pasukan tanpa senjata api. Di sisi lain, pasukan Zionis tetap dibiarkan menjatuhkan bom dan melepaskan tembakan di wilayah Gaza. Lantas, jika perlindungan bagi warga Gaza tidak disertai penghentian kekerasan dan pengusiran kaum Zionis, bukankah aksi genosida justru dibiarkan?

Apalagi jika dikaitkan dengan 20 rencana Donald Trump pada awal pembentukan BoP, akan tampak bahwa dukungan Amerika Serikat terhadap Zionis merupakan sesuatu yang mutlak. Hal ini sejalan dengan posisi Amerika Serikat yang sejak lama menjadi pendukung setia genosida Zionis. Walhasil, sangat kentara bahwa BoP merupakan sarana hegemoni Amerika Serikat secara global.

Posisi Pemimpin Negeri Muslim

Anggota BoP yang berasal dari banyak negeri Muslim pada akhirnya harus mengikuti kebijakan yang telah disepakati. Lantas, bukankah hal itu membuat para pemimpin negeri-negeri Islam layak dipandang sebagai kaki tangan Amerika?

Keputusan mereka untuk mengirim pasukan militer ke Jalur Gaza bahkan dapat dimaknai sebagai penambahan kekuatan bagi kaum Zionis. Sebab, pasukan pejuang Palestina, yakni Hamas, justru ditentang dan dijauhi. Sementara itu, kerja sama dan pembahasan justru dijalin dengan Amerika maupun Zionis.

Sayangnya, menghadapi kondisi tersebut, sebagian besar umat Islam cenderung hanya mendoakan saudara seiman mereka. Kalaupun ada yang berupaya membantu, bentuknya sebatas bantuan sosial bagi korban Gaza dan kritik terhadap para penguasa negeri masing-masing.

Kelemahan Iman

Oleh karena itu, fenomena melemahnya iman tampak semakin nyata dalam konflik genosida Gaza saat ini. Kezaliman justru mendapat dukungan dari para penguasa. Sementara itu, kebangkitan masyarakat pun belum mampu menghadirkan solusi yang nyata. Akibatnya, pertolongan bagi saudara seiman belum terlaksana secara maksimal.

Padahal, Rasulullah saw. telah bersabda,

"Seorang Muslim adalah saudara bagi Muslim lainnya. Ia tidak boleh menzaliminya dan tidak boleh membiarkannya (untuk disakiti atau dizalimi). Barang siapa membantu kebutuhan saudaranya, maka Allah akan membantu kebutuhannya. Barang siapa menghilangkan satu kesusahan seorang Muslim, maka Allah akan menghilangkan satu kesusahan baginya dari kesusahan-kesusahan pada hari kiamat. Barang siapa menutupi aib seorang Muslim, maka Allah akan menutupi aibnya pada hari kiamat." (HR Al-Bukhari).

Khil4fah Solusi yang Vital

Rasulullah saw. juga bersabda,

"Jika orang-orang tidak mencegah seseorang yang zalim, maka bisa jadi Allah Swt. akan menimpakan hukuman kepada mereka semua." (HR Abu Dawud).

Dari hadis tersebut dapat dipahami bahwa solusi vital yang dapat diusung umat Islam untuk menyelamatkan saudara seiman bukan hanya dengan berdoa. Memutus hubungan para penguasa dengan kezaliman internasional pun dinilai tidak cukup hanya melalui kritik. Namun, harus diwujudkan dengan bersatu membentuk pencegahan yang kuat dalam sistem Khil4fah.

Tujuannya bukan hanya untuk menolong saudara seiman, tetapi juga menyelamatkan diri sendiri dari berbagai dampak kezaliman. Misalnya, ketika penguasa negeri-negeri Islam berhenti menyetorkan dana kepada BoP, bukankah beban ekonomi negara tidak akan semakin meningkat sehingga kebutuhan hidup masyarakat dapat dipenuhi dengan lebih baik?

Selain itu, pada dasarnya sistem Khil4fah memiliki prinsip-prinsip Islam yang dinilai sempurna untuk diterapkan. Dalam aspek perlindungan masyarakat dari berbagai ancaman, metode jihad fi sabilillah dipandang sebagai solusi. Allah Swt. berfirman,

"Berangkatlah kamu, baik dengan rasa ringan maupun berat, dan berjihadlah dengan harta dan jiwamu di jalan Allah. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui." (QS At-Taubah: 41).

Pasukan jihad yang bersenjata tidak hanya berasal dari kalangan tentara. Kaum laki-laki Muslim juga dilatih sejak balig untuk siap berjuang di medan perang. Dengan demikian, jumlah pasukan yang besar dan kuat diyakini akan membuat lawan gentar.

Adapun penerapan sistem Khil4fah disebut telah tercatat dalam berbagai peristiwa sejarah. Salah satunya ketika seorang muslimah di Amuriah, Romawi, menangis karena aurat kakinya tersingkap akibat perbuatan seorang lelaki Yahudi. Mendengar kabar tersebut, pemimpin Khil4fah saat itu, Al-Mu'tashim Billah, segera mengirim pasukan jihad. Dikisahkan, barisan pasukan itu membentang dari wilayah Andalusia hingga mengepung wilayah Bizantium.

Selanjutnya, beliau meminta raja Romawi menyerahkan muslimah tersebut kepada negara Islam sekaligus mengadili lelaki Yahudi itu berdasarkan hukum syarak. Namun, ketika permintaan tersebut ditolak, terjadilah peperangan yang berujung pada kemenangan pertama negara Khil4fah dalam menaklukkan wilayah Romawi.

Pada dasarnya, kepedulian hakiki terhadap sesama Muslim harus diwujudkan secara mandiri melalui kekuatan negara yang menerapkan sistem Khil4fah, bukan dengan bergantung kepada kaum kafir harbi yang dipandang sebagai musuh umat Islam.

Dengan sistem Khil4fah, kekuatan iman pemimpin dan masyarakat diyakini akan tetap terjaga. Sebab, penerapan seluruh petunjuk Allah Swt. akan membuat mereka senantiasa berpegang pada kebenaran dan tidak mudah terpengaruh oleh tipu daya. Pada akhirnya, keberkahan dan kedamaian hidup akan terus berkembang secara nyata. [MA/EKD]


Baca juga:

0 Comments: