Headlines
Loading...
Anak-Anak Gaza Selalu Menjadi Target Zionis

Anak-Anak Gaza Selalu Menjadi Target Zionis

Oleh: Zhiya Kelana
(Kontributor SSCQMedia.Com)

SSCQMedia.Com—Tangis tidak lagi terdengar nyaring di Gaza. Yang tersisa adalah sunyi yang mencekam di antara reruntuhan rumah, sekolah, dan rumah sakit. Di tengah sunyi itu, ada fakta yang paling menyayat hati, yakni anak-anak yang menjadi sasaran utama.

Laporan lembaga Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) terbaru menyatakan bahwa Zionis secara sengaja menargetkan serangan terhadap anak-anak di Gaza. Sejak Oktober 2023 hingga Juni 2026, lebih dari seribu anak telah syahid. Rata-rata, setiap hari satu anak Gaza terbunuh meskipun gencatan senjata telah diumumkan. Ribuan lainnya mengalami luka fisik berat hingga cacat permanen, serta trauma psikologis yang akan membekas seumur hidup. Masa depan satu generasi di Gaza terancam hilang.

Ini bukan lagi "kerugian perang". Ini adalah pola. Ini adalah kebijakan. Ini adalah genosida.

Genosida yang Terstruktur

Analisis terhadap serangan yang terjadi menunjukkan satu benang merah, yaitu anak-anak sengaja dijadikan target. Sekolah, tenda pengungsian, antrean air bersih, dan ambulans yang membawa korban anak menjadi titik serangan.

Tujuannya jelas. Zionis ingin menghabisi masa depan umat Islam di Palestina. Dengan membunuh anak-anak, mereka membunuh calon guru, dokter, insinyur, dan pemimpin Palestina 20 tahun mendatang. Ini merupakan cara tercepat untuk melenyapkan sebuah bangsa dari akarnya.

Zionis tidak akan berhenti karena gencatan senjata. Mereka juga tidak akan berhenti karena kecaman PBB yang telah mencapai puluhan resolusi. Buktinya, sejak gencatan senjata diberlakukan, lebih dari 1.005 warga Gaza tewas, sedangkan UNICEF mencatat 265 anak Palestina terbunuh.

"Israel Dikabarkan Tewaskan 1.005 Warga Gaza Selama Gencatan Senjata" (Kompas.com, 28 Juni 2026).

Mereka juga tidak akan melunak karena pergantian perdana menteri. Sebab, yang sedang dijalankan adalah proyek ideologi, yaitu mewujudkan "Israel Raya" dengan menguasai seluruh wilayah Palestina. Dalam proyek tersebut, tidak ada tempat bagi anak-anak Palestina.

Lebih menyedihkan lagi, dunia Islam saat ini justru makin merapat kepada Amerika Serikat dan Zionis. Jerat nasionalisme dan politik kapitalistik membuat banyak penguasa negeri Muslim lebih sibuk menjaga investasi daripada menjaga Al-Aqsa. PBB terbukti mandul. Dunia internasional terbukti munafik. Lalu, kepada siapa lagi kita berharap?

Satu-Satunya Jalan, yaitu Khilafah

Islam telah memberikan jawaban sejak 1.400 tahun yang lalu. Ketika Bani Israil melampaui batas, yang menghentikan mereka bukan resolusi, bukan sanksi ekonomi, dan bukan konferensi. Melainkan negara yang memiliki kekuatan karena menerapkan syariat Islam.

Satu-satunya harapan pembebasan Palestina adalah Khilafah, yaitu institusi politik dalam Islam yang memiliki kewajiban dan kemampuan untuk menggerakkan jihad fi sabilillah demi membebaskan tanah yang dijajah serta melindungi darah kaum Muslim.

Allah Swt. berfirman,

"Mengapa kamu tidak mau berperang di jalan Allah dan membela orang-orang yang lemah, baik laki-laki, perempuan, maupun anak-anak yang berdoa, 'Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami dari negeri ini yang penduduknya zalim.'"
(TQS An-Nisa: 75)

Ayat ini merupakan perintah langsung dari Allah Swt. Ketika anak-anak dan kaum lemah berteriak meminta pertolongan, umat Islam wajib menjawabnya dengan kekuatan negara. Bukan dengan donasi, bukan dengan tagar, melainkan dengan pasukan.

Khilafah akan melakukan tiga hal yang tidak dapat dilakukan oleh sistem saat ini.

Pertama, melindungi jiwa dengan mengerahkan tentara untuk menghentikan pembantaian. Tidak ada lagi anak yang dibunuh satu per satu setiap hari.

Kedua, memulihkan masa depan. Khilafah wajib menjamin kesehatan fisik dan mental anak-anak Gaza, menyediakan pendidikan gratis, tempat tinggal, serta kesejahteraan melalui Baitulmal. Trauma akibat perang akan dipulihkan dan sekolah-sekolah akan dibangun kembali.

Ketiga, mencabut akar masalah. Khilafah tidak akan berunding mengenai solusi "dua negara". Khilafah akan membebaskan seluruh Palestina dan mengusir penjajah. Sebab, Palestina merupakan tanah wakaf umat Islam, bukan tanah sengketa politik.

Qadhiyah Mashiriyah Umat

Penegakan Khilafah bukan agenda suatu kelompok. Ini merupakan qadhiyah mashiriyah, yakni agenda penentu nasib umat. Selama Khilafah belum tegak, setiap anak yang syahid di Gaza dipandang sebagai beban dosa yang harus dipikul oleh umat Islam yang memilih diam.

Tugas kita hari ini adalah menyadarkan umat. Meluruskan bahwa solusi bagi Palestina bukan terletak pada PBB ataupun negara bangsa, melainkan pada kembalinya sistem Islam yang menerapkan syariat secara kafah.

Karena itu, setiap mubalig, aktivis, orang tua, dan pelajar hendaknya bertanya, "Apa yang sudah kita lakukan untuk mempercepat tegaknya Khilafah?" Sebab, setiap hari penundaan berarti ada anak lain yang menjadi korban.

Cukup sudah tangis di Gaza. Cukup sudah gambar anak-anak dengan tubuh yang hancur berseliweran di layar kita. Kini saatnya mengubah tangis menjadi tindakan. Tindakan itu adalah berjuang menegakkan Khilafah.

Karena hanya dengan Khilafah, anak-anak Gaza dapat kembali tertawa, kembali bersekolah, dan kembali memiliki masa depan.

Wallāhu a'lam bi ash-shawāb.

[ry/Ekd]

Baca juga:

0 Comments: