Headlines
Loading...
Zionis Isr4el Raya Rampok Al-Aqsa

Zionis Isr4el Raya Rampok Al-Aqsa

Oleh: Zhiya Kelana, S.Kom.
(Kontributor SSCQMedia.Com)

SSCQMedia.Com—Skenario Isr4el menguasai 70% wilayah Gaza memicu kekhawatiran warga Palestina. Pembangunan pos militer secara masif terus berjalan meski gencatan senjata telah disepakati (MetroTVNews, 5/6/2026).

Palestina mengecam pembangunan 2.162 unit permukiman ilegal Isr4el di Tepi Barat. Perampasan tanah makin ugal-ugalan demi mewujudkan Isr4el Raya (Antara News, 5/6/2026).

AS dan Isr4el diam-diam hendak merebut hak pengelolaan Masjid Al-Aqsa dari Yordania. Pengibaran bendera Isr4el di kompleks Masjid Al-Aqsa menjadi simbol penguasaan zionis atas kiblat pertama umat Islam (CNN Indonesia, 5/6/2026).

Isr4el juga menyerang Lebanon sehari setelah gencatan senjata. Sebanyak sembilan orang tewas. Ini menjadi bukti bahwa zionis tidak pernah menghormati perjanjian (MetroTVNews, 5/6/2026).

Genosida yang dilakukan Isr4el di Gaza terus berlanjut. Jumlah warga Palestina yang hilang menembus 9.500 orang (Hidayatullah, 5/6/2026).

Ini bukan konflik. Ini perampokan. Entitas zionis tidak sedang membela diri. Mereka sedang membangun Isr4el Raya, dari Sungai Nil hingga Sungai Eufrat. Caranya? Menghancurkan Gaza, mencaplok Tepi Barat, dan merebut Al-Aqsa.

Pertama, fakta di lapangan menunjukkan bahwa Gaza dibombardir tanpa henti meski gencatan senjata telah disepakati. Al Jazeera (3/6/2026) mempublikasikan citra satelit yang memperlihatkan Isr4el membangun lebih banyak pos militer di Gaza. Ini bukan sekadar operasi militer, melainkan aneksasi.

Di Tepi Barat, sebanyak 2.162 unit permukiman ilegal dibangun. Targetnya jelas, yakni merampas 70% tanah Palestina. Warga diusir, rumah dihancurkan, lalu zionis datang membawa buldoser dan senapan.

Lebih biadab lagi, bendera Isr4el berkibar di Al-Aqsa. Ini dianggap sebagai deklarasi perang terhadap dua miliar umat Islam. Kiblat pertama umat Islam hendak mereka kuasai setelah darah ribuan anak Gaza tertumpah.

Kedua, ini merupakan kejahatan kemanusiaan terbesar abad ini. Genosida di Gaza telah membuat jumlah warga yang hilang menembus angka 9.500 orang. Rumah sakit dibom, anak-anak kelaparan, dan para pengungsi ditembak. Allah Swt. berfirman,

"Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi setelah (Allah) memperbaikinya." (QS. Al-A'raf: 56).

Apa yang dilakukan zionis merupakan fasad, yakni kerusakan besar di muka bumi. Membunuh, merampas, membakar, lalu dunia diminta diam.

Ketiga, siapa bekingnya? AS. Washington bukan mediator, melainkan penyokong utama. Mereka mengirim bom, memveto resolusi PBB, lalu mendorong penguasa muslim menerima solusi dua negara.

Solusi dua negara dinilai sama dengan melegalkan perampasan. Tanah Palestina dibagi, zionis memperoleh legitimasi, sedangkan umat Islam diminta menerima keadaan. Ini dipandang sebagai bentuk pengkhianatan terhadap kaum muslimin.

Keempat, mengapa Palestina tak kunjung merdeka? Karena umat ini bercerai-berai. Dari 57 negeri muslim dengan kekuatan militernya, tidak satu pun menjaga Al-Aqsa. Penguasa muslim sibuk melakukan normalisasi, berdagang dengan pembunuh, dan menutup mata saat Gaza dibantai. Nasionalisme menjadi penjara. Padahal Rasulullah saw. bersabda,

"Perumpamaan orang-orang beriman dalam cinta dan kasih sayang mereka seperti satu tubuh." (HR. Muslim).

Hari ini, tubuh itu tercerai-berai oleh sekat negara bangsa.

Lantas, apa solusinya? Lawan! Ambisi Isr4el Raya harus dihancurkan. Namun, menghadapi zionis yang memiliki kekuatan militer dan persenjataan canggih tidak cukup hanya dengan doa dan donasi. Dibutuhkan kekuatan, persatuan hakiki, dan Khilafah.

Pertama, Khilafah merupakan wujud persatuan umat. Bukan OKI, bukan pula KTT, melainkan satu kepemimpinan, satu komando, dan satu tentara. Selama umat Islam terkotak-kotak oleh negara bangsa, Palestina akan terus menjadi korban. Khilafah diyakini mampu meruntuhkan sekat tersebut, dari Jakarta hingga Rabat menjadi satu tubuh.

Kedua, Khilafah akan menghentikan pengkhianatan para penguasa. Saat ini, penguasa muslim dinilai menjadi centeng zionis. Di bawah Khilafah, pengkhianat tidak memiliki tempat. Khalifah bukan boneka AS, melainkan pelayan umat dan penjaga Al-Aqsa.

Ketiga, khalifah berkewajiban mengirim pasukan. Dalam Islam, tanah Palestina merupakan tanah kharajiyah, yaitu milik umat. Jika dijajah, jihad menjadi fardu ain. Namun, jihad membutuhkan imam. Khalifah yang akan mengumumkan nafir 'am dan mengerahkan militer dari Mesir, Turki, Pakistan, hingga Indonesia. Bukan sekadar mengirim selimut, melainkan brigade, karena zionis hanya memahami bahasa senjata.

Selama Khilafah belum tegak, zionis akan terus membakar Gaza, memperluas permukiman, dan menistakan Al-Aqsa. Solusi dua negara dipandang sebagai bunuh diri, sedangkan normalisasi dianggap sebagai tikaman dari belakang terhadap kaum muslimin.

Umat ini memiliki dua miliar jiwa, jutaan tentara, dan sumber daya alam yang melimpah. Yang belum dimiliki hanyalah satu, yakni kepemimpinan Islam.

Isr4el Raya adalah proyek darah. Melawannya membutuhkan proyek peradaban, yakni Khilafah 'ala minhajin nubuwwah. Sebelum Al-Aqsa benar-benar jatuh dan Gaza rata dengan tanah, sudah saatnya mencampakkan nasionalisme, menegakkan Khilafah, dan membebaskan Palestina. Itulah janji Allah.

Wallahualam bissawab.

[Ni/PR]

Baca juga:

0 Comments: