Headlines
Loading...
Zulhijah Kembali Menyapa, Rasanya Tetap Sama

Zulhijah Kembali Menyapa, Rasanya Tetap Sama

Oleh Desi Ummu Idris
(Kontributor SSCQ Media)

SSCQMedia.com—Membaca kisah teman-teman pejuang dakwah yang senantiasa istiqamah dalam kebaikan, Zulhijah tahun ini rasanya tetap sama.

Sama menyedihkannya seperti tahun-tahun sebelumnya. Aku tidak tahu mengapa tiga puluh tahun berlalu, hidup ini terasa kurang bermakna. Apakah aku kurang serius dalam beribadah? Ataukah Allah masih mengujiku dengan berbagai ujian kesabaran?

Jangankan menjadi tamu Allah untuk menyempurnakan rukun Islam kelima melalui ibadah haji, hingga hari ini belum pernah ada kesempatan bagiku untuk menunaikan ibadah kurban.

Hati terasa teriris ketika Zulhijah kembali menyapa, tetapi kondisi kami masih sama. Aku iri kepada mereka yang Allah berikan kemampuan harta untuk berkurban. Aku juga iri kepada para jemaah yang berbondong-bondong memenuhi asrama haji untuk berangkat menuju Tanah Suci.

Syukur dalam Tafakur

Bukan tidak bersyukur, tetapi kehidupan yang serba sulit dari masa ke masa serta fase rumah tangga yang masih penuh kerentanan membuatku harus kembali mengubur dalam-dalam kerinduan untuk mengunjungi Baitullah dan mempersembahkan harta terbaik demi berkurban.

Aku paham, Zulhijah bukan hanya tentang kurban dan haji. Bulan ini selalu datang membawa limpahan pahala dari bulan haram yang istimewa. Namun, mampukah kita meraih pahala yang berlimpah itu jika ibadah dilakukan sekadarnya?

Menurutku, tentu tidak. Ibadah kita pun harus luar biasa.

Zulhijah memang tidak seramai Ramadan yang disambut meriah oleh hampir seluruh lapisan masyarakat tanpa memandang agama. Ramadan diperbincangkan di televisi, media sosial, hingga iklan-iklan yang turut menyemarakkan bulan penuh berkah itu. Sementara Zulhijah sering kali hanya ramai dengan pembahasan seputar kuota haji, kambing, sapi, dan tahun ini ditambah hebohnya berita tentang film berjudul Pesta Babi.

Bukan berarti aku tidak peduli dengan semua keramaian itu. Namun, di relung hati terdalam ada ruang kosong yang menyisakan penyesalan. Penyesalan karena kurang keras berusaha, mungkin belum cukup serius dalam berdoa, dan karena pernah melalaikan kemuliaan bulan Zulhijah.

Namun, apa gunanya penyesalan jika pada tahun berikutnya semangat ibadah masih belum berubah?

Dalam kesunyian sepertiga malam terakhir, di atas sajadah kesayangan, aku bertafakur. Aku mencoba tetap berhusnuzan terhadap segala ketetapan Allah. Jika tahun ini belum bisa berkurban, lalu mengapa harus berlarut sedih? Bukankah Allah memang belum memberikan rezeki harta yang cukup untuk itu?

Masih banyak amalan lain yang dapat dilakukan, seperti memperbanyak istigfar, zikir, tilawah, sedekah, serta amar makruf nahi mungkar, terlebih di tengah berbagai kezaliman yang terjadi saat ini.

Bukankah semua itu juga bernilai pahala di sisi Allah?

Karena itu, bersyukurlah atas setiap amal yang masih mampu kita lakukan dan bersabarlah atas apa yang belum mampu kita tunaikan.

Zulhijah, Momentum Keteladanan

Melakukan apa yang mampu kita kerjakan dan meningkatkan amal yang sudah biasa dilakukan seharusnya menjadi sesuatu yang istimewa.

Zulhijah adalah satu dari empat bulan haram yang penuh dengan momen bersejarah dan sarat makna. Di dalamnya terdapat banyak keteladanan yang mungkin belum sepenuhnya kita hadirkan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan meneladani hikmah dari kisah-kisah tersebut, semoga sedikit mengobati kerinduan kita pada negeri para nabi.

Kisah keteladanan Ibunda Hajar ketika mencari air dari bukit ke bukit, misalnya. Sudah seberapa kuat kita meneladani ketangguhannya dalam menghadapi masalah?

Kesulitan ekonomi yang kita alami hari ini, jika dibandingkan dengan beratnya kehidupan Ibunda Hajar dan bayi Ismail dahulu, rasanya belum seberapa. Namun, kita sudah begitu banyak mengeluh dan stres mencari jalan keluar. Padahal menghadirkan solusi adalah ranah kekuasaan Allah. Bagi Allah, membebaskan hamba dari kesulitan ekonomi semudah memancarkan air zamzam dari bumi.

Tugas kita hanyalah berusaha dan berdoa. Selebihnya, Allah yang mengatur.

Ibunda Hajar bolak-balik dari Bukit Safa ke Marwah hingga tujuh kali tanpa keluhan. Bukan karena beliau tidak tahu bahwa di sana tampaknya tidak ada apa-apa, melainkan karena keyakinannya begitu kuat bahwa Allah pasti menolong hamba-Nya.

Maka tanamkan keyakinan itu dalam diri kita sedalam-dalamnya hingga mengakar dan memancarkan ketangguhan dalam kehidupan sehari-hari.

Masih di bulan yang sama, Allah memerintahkan Nabi Ibrahim a.s. untuk menyembelih putranya, Ismail. Ibunda Hajar taat meskipun tentu hatinya tidak mudah menggambarkan rasa yang ada. Nabi Ismail pun taat dengan keteguhan iman yang mengalahkan rasa takut.

Allah SWT berfirman dalam Surah As-Saffat ayat 102:

قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ

Artinya:

“Dia (Ismail) menjawab, ‘Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu. Insyaallah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.’”

Maka pertanyaannya, sudah seberapa sabar kita menanti sesuatu, lalu menerima ketetapan Allah yang ternyata berbeda dari harapan kita?

Hikmah Zulhijah

Kita memang bukan nabi, juga bukan keluarga nabi. Mungkin kita juga belum termasuk orang-orang yang Allah mampukan untuk berhaji dan berkurban. Namun, kita tetap memiliki kesempatan yang sama untuk meraih pahala berlimpah melalui berbagai ibadah di bulan Zulhijah.

Karena itu, mari lakukan apa yang mampu kita upayakan dengan optimal dan bersabarlah terhadap cita-cita yang belum sempat tergapai. Yakinlah bahwa setiap ketetapan Allah selalu mengandung hikmah terbaik.

Bisa jadi pahala dari kesabaran dan rasa syukur kita lebih besar daripada pahala orang yang berhaji atau berkurban. Siapa yang tahu? Allah Maha Mengetahui lagi Maha Penyayang.

Tidak ada ikhtiar yang sia-sia di sisi Allah. Semua menjadi istimewa jika dilakukan dengan ikhlas karena-Nya, sesuai perintah-Nya, dan meneladani apa yang dicontohkan Rasulullah saw.

Bekasi, 18 Mei 2026

[My/EKD]

Baca juga:

0 Comments: