Oleh: Ummu Fahhala, S.Pd.
(Praktisi Pendidikan dan Pegiat Literasi)
SSCQmedia.com—Sebanyak 41 SMA dan SMK negeri unggulan di Jawa Barat akan beralih menjadi Sekolah Manusia Unggul (Maung) pada tahun ajaran 2026/2027. Kebijakan ini menandai langkah baru dalam dunia pendidikan daerah. Pemerintah menjanjikan kurikulum khusus yang diyakini mampu mencetak generasi unggul dan adaptif. Informasi ini disampaikan dalam laporan Harapanrakyat.com (09/05/2026).
Pendidikan seharusnya berakar pada nilai dan tujuan bangsa, bukan sekadar mengikuti kebutuhan pasar. Lebih jauh, kita perlu jujur membaca pola yang ada. Penguasa berganti, kebijakan berubah, kurikulum pun ikut berganti. Setiap periode menghadirkan istilah baru. Namun, arah besarnya sering kali tetap sama. Pendidikan terus diarahkan untuk memenuhi kebutuhan dunia kerja yang sempit. Sekolah didorong menjadi pemasok tenaga siap pakai.
Siswa dilatih untuk cepat, praktis, dan efisien. Namun, mereka jarang diajak berpikir mendalam tentang makna hidup dan peran mereka sebagai manusia. Dampaknya mulai terlihat. Sekolah perlahan kehilangan ruhnya. Lembaga pendidikan berubah menjadi jalur produksi. Nilai diukur dengan angka, sedangkan kesuksesan ditakar melalui besarnya gaji. Siswa diarahkan menjadi bagian dari roda ekonomi yang terus berputar.
Namun, siapa yang memastikan mereka tumbuh menjadi manusia unggul? Siapa yang membimbing mereka menjadi generasi terbaik yang membawa kebaikan bagi masyarakat? Di sinilah kegelisahan itu muncul.
Solusi Islam
Islam menawarkan arah pendidikan yang jelas dan utuh. Pendidikan dalam Islam tidak hanya membentuk kecerdasan, tetapi juga membangun kepribadian. Allah Swt. berfirman, “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku” (QS. Adz-Dzariyat: 56). Ayat ini memberi arah tegas bahwa tujuan hidup manusia adalah beribadah kepada Allah. Karena itu, pendidikan harus mengantarkan manusia memahami tujuan tersebut.
Rasulullah saw. juga bersabda, “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia” (HR. Ahmad no. 8595). Hadis ini menegaskan bahwa pembentukan akhlak merupakan inti pendidikan.
Lebih jauh, Islam tidak hanya menawarkan konsep, tetapi juga solusi yang sistematis. Pertama, negara menempatkan pendidikan sebagai amanah besar, bukan sekadar layanan publik. Negara wajib memastikan setiap individu memperoleh pendidikan yang membentuk kepribadian sekaligus mengembangkan ilmu pengetahuan. Rasulullah saw. mencontohkan hal ini ketika membebaskan tawanan Perang Badar dengan syarat mengajarkan baca tulis kepada kaum Muslimin. Peristiwa ini menunjukkan bahwa literasi dan ilmu menjadi prioritas dalam membangun masyarakat.
Kedua, kurikulum disusun berdasarkan landasan akidah yang kokoh. Setiap ilmu diarahkan untuk menguatkan keimanan dan memberikan manfaat bagi kehidupan. Ilmu sains, teknologi, maupun keterampilan tetap diajarkan secara mendalam, tetapi tidak dilepaskan dari nilai-nilai Islam. Dengan cara ini, peserta didik tidak hanya cerdas, tetapi juga memiliki kompas moral yang jelas. Allah Swt. berfirman, “Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat” (QS. Al-Mujadilah: 11). Ayat ini menunjukkan bahwa iman dan ilmu merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan.
Ketiga, guru diposisikan sebagai pembina kepribadian, bukan sekadar pengajar materi. Dalam tradisi Islam, guru menjadi teladan hidup bagi murid-muridnya. Interaksi antara guru dan murid tidak berhenti di ruang kelas, tetapi juga membentuk karakter melalui keteladanan. Hal ini tampak pada bagaimana Rasulullah saw. mendidik para sahabat dengan perhatian, dialog, dan pembinaan langsung.
Keempat, lingkungan pendidikan dijaga agar mendukung terbentuknya karakter mulia. Negara berperan memastikan budaya yang berkembang tidak merusak nilai-nilai yang diajarkan di sekolah. Dengan demikian, proses pendidikan berjalan selaras antara rumah, sekolah, dan masyarakat. Hasilnya adalah generasi yang tidak hanya siap bekerja, tetapi juga siap memimpin dan memberi arah bagi kehidupan.
Selanjutnya, sejarah membuktikan keberhasilan sistem pendidikan Islam. Rasulullah saw. membina para sahabat di Madinah dengan pendidikan yang menyatukan ilmu dan iman. Dari proses itu lahirlah generasi seperti Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali. Mereka bukan hanya cerdas, tetapi juga amanah dan berani. Pada masa Khulafaur Rasyidin, pendidikan melahirkan pemimpin yang adil dan bertanggung jawab. Kemudian, pada masa kekhalifahan Islam, lahir ilmuwan besar seperti Ibnu Sina dan Al-Khawarizmi. Mereka menguasai ilmu pengetahuan sekaligus menjaga nilai spiritual.
Pada akhirnya, pembaruan seperti Sekolah Maung dapat menjadi titik awal yang baik. Namun, keberhasilannya sangat bergantung pada arah yang dipilih. Jika pendidikan mampu menyatukan ilmu dan iman secara utuh, maka ia akan melahirkan generasi terbaik—generasi yang tidak hanya unggul dalam kemampuan, tetapi juga kokoh dalam nilai. Dari sinilah harapan besar itu dapat tumbuh secara nyata.
Penutup
Dengan demikian, solusi pendidikan tidak cukup hanya melalui perubahan nama atau kurikulum teknis. Pendidikan membutuhkan arah yang kokoh. Negara perlu memastikan bahwa sekolah membentuk manusia yang utuh, bukan sekadar tenaga kerja. Kurikulum harus berangkat dari tujuan hidup manusia, bukan hanya memenuhi kebutuhan sesaat. Jika arah ini jelas, maka inovasi seperti Sekolah Maung dapat menjadi lompatan nyata. Namun, tanpa arah yang benar, perubahan hanya akan menjadi putaran yang terus berulang. [My/AA]
Baca juga:
0 Comments: