Headlines
Loading...

Oleh: Isnawati
(Muslimah Penulis Peradaban)

SSCQmedia.com—Hari ini umat hidup di tengah keadaan yang semakin membingungkan. Harga kebutuhan pokok terus naik, pekerjaan sulit dicari, utang negara menumpuk, korupsi semakin terang-terangan, sementara rakyat kecil justru makin terhimpit. Setiap hari masyarakat disuguhi berita kriminal, perampokan, pembunuhan, narkoba, hingga rusaknya pergaulan generasi muda. Semua seperti berjalan tanpa arah penyelesaian yang jelas. Anehnya, kondisi seperti ini perlahan dianggap biasa. Padahal, jika dipikir dengan hati yang jernih, ini adalah tanda bahwa ada sesuatu yang salah dalam kehidupan manusia hari ini.

Banyak orang berharap perubahan datang dari pergantian pemimpin, pergantian pejabat, atau pergantian kebijakan. Namun, kenyataannya masalah justru terus berulang. Satu persoalan selesai, muncul persoalan baru yang lebih besar. Seolah negeri ini tidak pernah benar-benar keluar dari lingkaran kerusakan. Di sinilah umat seharusnya mulai bertanya dengan jujur, sebenarnya apa akar persoalan yang sedang terjadi?

Menurut penulis, kerusakan yang terus terjadi hari ini bukan sekadar karena lemahnya pengawasan atau kurangnya aturan. Akar utamanya adalah karena manusia telah berani menjauh dari hukum Allah. Manusia merasa mampu mengatur kehidupan dengan pikirannya sendiri, lalu menempatkan aturan buatan manusia di atas aturan Sang Pencipta. Padahal, Allah Swt. sudah memberikan peringatan yang sangat jelas, “Adakah hukum yang lebih baik daripada hukum Allah bagi orang-orang yang yakin?” Ayat ini seharusnya mengguncang hati kaum muslimin. Sebab, tidak mungkin Allah menciptakan manusia tanpa memberikan aturan terbaik bagi kehidupan mereka.

Namun, yang terjadi hari ini justru sebaliknya. Syariah sering ditakuti, bahkan dicurigai. Padahal, kerusakan yang sedang terjadi sekarang lahir karena manusia meninggalkan syariah itu sendiri. Ketika hukum Allah dicampakkan, kemaksiatan tumbuh tanpa rasa malu. Riba dianggap biasa, zina dianggap hak pribadi, korupsi dianggap budaya, bahkan kebohongan dijadikan alat politik. Semua ini menunjukkan bahwa manusia sedang hidup jauh dari aturan Rabb-nya.

Bukti Sejarah Kesejahteraan Islam

Yang membuat sedih, sebagian umat justru merasa takut jika syariah diterapkan. Padahal, sejarah Islam telah membuktikan bahwa syariah bukan ancaman, melainkan rahmat bagi seluruh manusia. Islam pernah memimpin dunia dengan keadilan dan kesejahteraan yang nyata, bukan sekadar janji pidato. Salah satu bukti paling luar biasa terjadi pada masa Khalifah Umar bin Abdul Aziz.

Beliau memimpin tidak lama, hanya sekitar dua tahun lebih sedikit. Namun, dalam waktu sesingkat itu, perubahan besar benar-benar dirasakan rakyat. Negara menjadi sangat makmur sampai pemerintah kebingungan menghabiskan harta kas negara. Bayangkan, saat ini banyak negara sibuk mencari utang, sedangkan pada masa itu justru kas negara melimpah ruah.

Harta Baitulmal saat itu berasal dari berbagai sumber yang diatur syariah, seperti zakat, jizyah, kharaj, rikaz, ghanimah, fai, dan berbagai pemasukan lain. Semua dikelola dengan amanah dan transparan. Harta tersebut tidak dipakai untuk memperkaya keluarga penguasa atau kroni-kroninya, melainkan benar-benar dikembalikan untuk kepentingan rakyat.

Ada kisah yang sangat menyentuh antara Khalifah Umar bin Abdul Aziz dan gubernur Irak, Abdul Hamid bin Abdurrahman. Suatu hari, khalifah memerintahkan agar bantuan dan subsidi segera dibagikan kepada rakyat. Perintah itu langsung dijalankan. Namun, gubernur Irak kemudian mengirim surat balasan yang isinya sangat mengejutkan. Ia mengatakan bahwa bantuan sudah dibagikan kepada masyarakat, tetapi harta di Baitulmal masih tetap melimpah dan pemerintah bingung harus menggunakannya untuk apa lagi.

Mendengar hal itu, Khalifah Umar bin Abdul Aziz tidak mengambil kesempatan untuk memperkaya diri. Beliau justru memberikan perintah lanjutan yang luar biasa mulia. Beliau meminta agar seluruh rakyat yang memiliki utang didata dengan teliti, lalu utang mereka dilunasi menggunakan harta negara. Masyaallah, betapa jauhnya kepemimpinan Islam dibandingkan keadaan hari ini. Sekarang rakyat justru dibebani utang dan pajak, sedangkan pada masa Islam rakyat dibantu keluar dari kesulitannya.

Saatnya Umat Kembali

Kisah ini seharusnya membuka mata umat bahwa syariah bukan sekadar teori. Syariah pernah diterapkan dan terbukti membawa kesejahteraan nyata. Tidak ada sistem yang mampu menandingi keadilan Islam karena aturan itu datang langsung dari Allah Yang Maha Mengetahui kebutuhan manusia. Ketika syariah diterapkan, penguasa takut berbuat zalim karena sadar akan pertanggungjawaban di hadapan Allah. Sebaliknya, ketika manusia memakai aturan buatan sendiri, hawa nafsu dan kepentingan pribadi lebih sering menjadi penentu kebijakan.

Sungguh, umat Islam tidak boleh terus tertidur. Umat harus mulai sadar bahwa kerusakan hari ini bukan sesuatu yang datang tiba-tiba. Semua adalah akibat manusia mencampakkan hukum Allah dari kehidupan. Selama aturan hidup masih diserahkan kepada akal manusia yang lemah, kerusakan akan terus berulang. Tidak cukup hanya memperbaiki individu, sementara sistem kehidupannya tetap rusak.

Sudah saatnya umat kembali memandang syariah sebagai solusi, bukan ancaman. Syariah bukan hanya mengatur ibadah pribadi, tetapi juga ekonomi, pendidikan, pergaulan, hukum, hingga pemerintahan. Semua diatur demi menjaga kehidupan manusia agar tetap berada dalam keberkahan.

Penerapan syariah secara kaffah dalam naungan khilafah bukan sekadar romantisme sejarah, melainkan kebutuhan mendesak bagi umat hari ini. Hanya dengan kembali kepada aturan Allah, manusia akan menemukan keadilan, ketenteraman, dan kesejahteraan yang hakiki. Sebab, tidak ada hukum yang lebih baik daripada hukum Allah dan tidak ada keselamatan bagi umat selain kembali kepada jalan-Nya.

Wallahu a‘lam bissawab. [Hz/En]

Baca juga:

0 Comments: