Headlines
Loading...
Rupiah Melemah, Benarkah Rakyat Baik-Baik Saja?

Rupiah Melemah, Benarkah Rakyat Baik-Baik Saja?

Oleh: Ni’mah Fadeli
(Kontributor SSCQ Media)

SSCQMedia.com—Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menembus angka Rp17.600 pada 15 Mei 2026. Angka yang sangat tinggi ini membuat para pengamat ekonomi khawatir terhadap kondisi negeri. Ibrahim Assuaibi selaku Direktur PT Traze Andalan Futures bahkan memprediksi nilai tukar rupiah dapat terus melemah hingga mencapai Rp18.000 per dolar AS pada akhir Mei. Jika prediksi ini terjadi, ia khawatir rupiah akan terus melemah hingga menembus level Rp22.000 per dolar AS (tempo.co, 16 Mei 2026).

Berbeda dengan pengamat ekonomi, Presiden Prabowo Subianto justru menanggapi santai kondisi tersebut. Presiden menilai tidak ada yang perlu dikhawatirkan dari melemahnya rupiah karena dolar hanya digunakan oleh orang-orang tertentu saja. Menurutnya, sebagian besar rakyat, terutama yang tinggal di desa, tidak akan terdampak oleh kondisi ini.

Namun, fakta berkata lain. Rakyat di desa pun mengalami dampak langsung dari melemahnya rupiah. Hal ini terjadi karena banyak komoditas di negeri ini masih harus diimpor. Sebagai contoh, para perajin tahu di Jawa Tengah. Harga kedelai yang semula Rp7.000 per kilogram, dalam tiga bulan terakhir naik menjadi Rp10.500 untuk jenis yang paling murah. Para perajin tahu pun kelabakan menghadapi kenaikan harga tersebut. Apalagi bukan hanya harga kedelai yang naik, tetapi juga harga minyak meningkat 25 persen dan harga plastik bahkan naik hingga 100 persen (bbc.com, 16 Mei 2026).

Pejabat Tidak Paham Rakyat

Bukan hanya sekali terjadi, apa yang disampaikan pemimpin negeri sering kali bertolak belakang dengan realitas. Mungkin pemimpin ingin rakyat tidak panik karena negara merasa mampu mengatasi kondisi yang terjadi. Namun, jika harga-harga terus naik, daya beli menurun, penghasilan rakyat tetap atau bahkan turun, sementara negara belum terlihat melakukan kebijakan penyelamatan, maka sangat wajar jika rakyat kehilangan kepercayaan kepada negara. Apalagi kondisi ini terjadi berulang kali.

Situasi internasional yang tidak kondusif akibat perang antara Amerika dan Iran menjadi salah satu faktor utama ketidakstabilan ekonomi. Hal ini diperparah oleh kondisi dalam negeri yang tidak menentu. Adanya tanggungan utang luar negeri yang sangat besar serta kebijakan pemerintah yang tidak tepat guna menyebabkan pemborosan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Pada akhirnya, rakyat kembali harus menanggung beban sendiri. Pemimpin tidak peka dan menganggap semua baik-baik saja. Berbagai kebijakan diberlakukan, tetapi tidak pernah benar-benar memperbaiki keadaan. Dana besar justru dihamburkan bukan untuk sesuatu yang mendesak sesuai kebutuhan rakyat.

Sebagian rakyat yang terimpit tekanan hidup mengambil langkah yang dianggap mampu menyelesaikan masalah, yakni mengambil utang berbunga yang sangat mudah ditemukan di mana-mana. Kemudahan sesaat diperoleh sekadar untuk melanjutkan hidup. Selanjutnya yang terjadi adalah cicilan tak terbayar, bunga melambung, dan masalah menjadi semakin kompleks. Ungkapan “sudah jatuh tertimpa tangga” mungkin belum cukup menggambarkan kondisi rakyat dalam sistem kapitalisme saat ini.

Pemimpin Pelindung Rakyat

Firman Allah Swt.:

“Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi. Akan tetapi, mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan.”
(QS Al-A’raf [7]: 96)

Kehidupan hari ini sangat jauh dari syariat-Nya. Riba ditumbuhsuburkan, sumber daya alam dieksploitasi sesuai kepentingan pihak tertentu, sementara suap dan korupsi dinormalisasi. Berbagai keharaman dalam Islam dianggap biasa. Maka, tidak mengherankan jika kehidupan terasa semakin sempit dan sulit.

Pemimpin hari ini tidak benar-benar hadir untuk memahami rakyat karena bukan akhirat yang menjadi tujuannya. Dalam sistem kapitalisme, menjadi pemimpin dianggap sebagai puncak keberhasilan. Akibatnya, seorang pemimpin hanya berpikir bagaimana mempertahankan jabatannya dengan cara menyenangkan para kapitalis atau pemilik modal.

Pemimpin dengan pola pikir dan kepribadian Islam tidak akan berlaku demikian. Rakyat adalah amanah, sedangkan kesejahteraan rakyat merupakan tanggung jawab pemimpin. Karena itu, pemimpin akan berupaya maksimal memberikan kesejahteraan kepada rakyat sesuai syariat agar kelak selamat di akhirat.

Pemimpin Islam akan menerapkan sistem ekonomi berbasis emas dan perak yang nilainya stabil dari waktu ke waktu. Tidak ada pintu riba, baik bagi rakyat maupun dalam pengelolaan negara. Sumber daya alam dikelola sesuai syariat dengan kepemilikan dan distribusi yang jelas.

Khatimah

Segala upaya yang dilakukan pemimpin dalam Islam merupakan bentuk penjagaan terhadap rakyat. Pemimpin berfungsi sebagai junnah atau perisai sehingga rakyat akan selalu dilindungi. Pemimpin memahami dan ikut merasakan setiap kondisi yang terjadi sehingga akan berhati-hati dalam perkataan maupun tindakan agar tidak melukai rakyat yang menjadi amanahnya.

Wallahu a’lam bishshawab. [An/PR]

Baca juga:

0 Comments: