Oleh: Siti Hulfiya
(Aliansi Penulis Rindu Islam)
SSCQMedia.com—Kami tinggal di sebuah kota industri. Alhamdulillah, saya dan suami dikaruniai tiga orang anak. Meski hanya tinggal di rumah kontrakan sederhana di sebuah perumahan, kami merasa cukup bahagia. Lingkungan tempat tinggal kami nyaman. Kajian ilmu Islam yang rutin diadakan membuat hati terasa tenang. Anak-anak pun senang ikut menghadiri majelis ilmu bersama kami.
Namun, ternyata Allah Swt. hendak menguji kami untuk keluar dari zona nyaman.
Saat itu, masa kontrakan tinggal empat bulan lagi. Di waktu yang bersamaan, anak pertama kami harus masuk pondok, sementara dua adiknya mulai masuk Sekolah Dasar. Harga kontrakan terus naik. Kami berusaha mencari rumah lain yang lebih murah, tetapi hasilnya nihil.
“Bund, empat bulan lagi kontrakan habis. Kita pindah ke mana?” tanya suami suatu siang selepas makan.
Aku terdiam. Bingung harus menjawab apa. Jika kontrakan diperpanjang, uang kami hanya cukup untuk membayar rumah, sedangkan biaya sekolah anak-anak belum tentu terpenuhi.
“Insyaallah ada jalan. Bunda coba tanya teman-teman, siapa tahu ada kontrakan murah,” jawabku lirih.
Siang itu, tiba-tiba terdengar ketukan pintu.
“Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumussalam,” jawab suamiku sambil membuka pintu.
Ternyata tamu itu Aji, teman lama suamiku.
“Masyaallah, Ji! Dari mana tahu aku tinggal di sini?” tanya suami dengan wajah terkejut sekaligus senang.
“Dapat alamat dari Aminin,” jawab Aji sambil tersenyum.
Mereka mengobrol cukup lama. Sebelum pulang, Aji sempat mendengar cerita tentang kesulitan kami mencari kontrakan.
“Kalau memang sulit di kota, coba pindah ke desa saja,” sarannya.
Ucapan itu terus terngiang di kepala kami.
Malam harinya, saya dan suami berdiskusi panjang. Memang kehidupan di desa cukup menggiurkan bagi siapa saja yang ingin bertahan hidup di tengah biaya hidup yang terus meningkat. Harga sewa rumah di kota rata-rata Rp10-20 juta per tahun. Sedangkan biaya sewa rumah di desa hanya sekitar Rp1-2 juta per tahun. Selain itu, biaya sekolah di desa lebih murah daripada di kota.
Kami meminta nasihat saudara, teman ngaji, bahkan mencoba mencari bantuan pinjaman rumah murah. Namun, semua ikhtiar itu belum membuahkan hasil.
Akhirnya, dengan hati bergetar saya berkata, “Bismillah, ya. Kita pindah ke desa. Semoga Allah meridai.”
Hari-hari berikutnya dipenuhi kesibukan. Kami mulai mengepak barang, mengurus perpindahan sekolah anak-anak, mempersiapkan si sulung masuk pondok, hingga mencari kontrakan dan sekolah baru di desa.
Seminggu sebelum pindah, seorang teman ngaji menelepon.
“Mbak, enggak usah pindah. Tetap di sini saja. Kalau di desa susah cari kajian Islam,” katanya.
Perkataannya membuat hatiku kembali bimbang. Namun, melihat suami yang sudah begitu yakin, aku hanya bisa berbisik dalam hati, “Bismillah, mudahkanlah, ya Allah.”
Rumah di Ujung Desa
Hari kepindahan itu akhirnya tiba.
Konsekuensi terbesar dari keputusan kami adalah suamiku harus tetap tinggal di kota demi pekerjaannya. Desa tidak menawarkan banyak lapangan kerja. Ia hanya bisa pulang seminggu sekali.
Saat itulah aku benar-benar merasa harus menggantungkan kekuatan hanya kepada Allah Ta’ala.
Perjalanan menuju desa terasa panjang. Namun, sesampainya di sana, hati kami sedikit terobati. Udara desa begitu sejuk. Pemandangannya hijau dan menenangkan, sangat berbeda dengan hiruk-pikuk kota yang dipenuhi kendaraan dan polusi.
Setelah menaruh semua barang barang, kami beristirahat sejenak di kontrakan yang baru sambil bertegur sapa dengan orang-orang sekitar.
Hari demi hari berlalu. Aku tinggal bersama dua anakku di kontrakan kecil di ujung desa. Antar-jemput sekolah kini kulakukan sendiri dengan sepeda ontel. Jarak rumah ke sekolah sekitar tiga kilometer.
Lelah? Tentu.
Namun, aku sadar inilah perjuangan hidup.
Dulu di kota, suamiku yang selalu mengantar anak-anak. Kini aku belajar melakukan semuanya sendiri. Di sela kesibukan itu, aku juga terus mencari tempat kajian Islam seperti yang biasa kuikuti di kota.
Alhamdulillah, akhirnya aku menemukannya. Meski jaraknya jauh, aku tetap bersyukur. Untuk menuju lokasi kajian, aku harus berganti angkutan, bahkan terkadang berjalan kaki cukup jauh. Tidak ada Grab, Gojek, ataupun kendaraan online lain seperti di kota.
Jika dulu aku hanya butuh lima belas menit untuk sampai ke tempat kajian, kini perjalanan bisa memakan waktu lebih dari satu jam.
Namun, aku tahu aku tidak sendiri. Banyak penuntut ilmu lain yang juga berjuang dengan keterbatasan yang sama.
Kadang rasa rindu pada kehidupan di kota muncul begitu saja. Rindu berkumpul dengan teman-teman ngaji, rindu suasana majelis ilmu yang dekat dan mudah dijangkau.
Di desa, pertemuan dengan sahabat-sahabat seiman tidak sesering dulu. Kami hanya bertemu saat ada kajian.
Akan tetapi, justru di desa inilah aku benar-benar belajar arti syukur dan rida terhadap ketetapan Rabb. Aku belajar bahwa pertolongan terbaik bukan berasal dari manusia, melainkan dari Allah Ta’ala.
Di tengah segala keterbatasan itu, aku memahami satu hal: ketika hidup terasa sempit, Allah sedang mengajarkan cara bersandar hanya kepada-Nya. [My/WA]
Baca juga:
0 Comments: