Headlines
Loading...
Refleksi Pendidikan di Momen 2 Mei

Refleksi Pendidikan di Momen 2 Mei

Oleh: Naila Dhofarina Noor, S.Pd.
(Kontributor SSCQ Media)

SSCQmedia.com—Hari Pendidikan Nasional diperingati setiap tanggal 2 Mei di Indonesia. Kepala Cabang Dinas Pendidikan (Kacabdin) Provinsi Jawa Timur Wilayah Kabupaten Sampang, Mas’udi Hadi Wijaya, menegaskan bahwa pendidikan memiliki peran strategis dalam mempersiapkan sumber daya manusia yang tangguh dan berkarakter. Ia juga menyampaikan pesan kepada para guru dan siswa agar menjadikan momentum ini sebagai pengingat akan peran masing-masing dalam dunia pendidikan.

Menurutnya, tugas guru bukan hanya mengajar, tetapi juga mendidik dengan hati. Sementara itu, siswa diharapkan menjadi pelajar yang berprestasi, berakhlak mulia, serta peduli terhadap lingkungan (ketik.com, 2/5/2026).

Momentum ini seharusnya menjadi titik perenungan bersama mengenai tujuan pendidikan nasional di Indonesia. Sebagaimana tercantum dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003, pendidikan bertujuan mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman, berakhlak mulia, dan cerdas.

Namun, realitas yang terjadi saat ini masih jauh dari tujuan tersebut. Berbagai berita di tanah air justru menunjukkan fakta bahwa banyak anak usia sekolah belum mencerminkan cita-cita pendidikan nasional. Misalnya, kasus bunuh diri maupun tindakan pembunuhan yang dipicu persoalan sepele seperti sakit hati. Selain itu, krisis adab terhadap guru masih sering terjadi. Belum lagi berbagai bentuk kecurangan saat ujian maupun praktik suap untuk masuk ke lembaga pendidikan tertentu.

Di sisi lain, persoalan nasib guru juga masih menjadi isu yang memprihatinkan, terlebih ketika disandingkan dengan program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang tengah berjalan. Guru disibukkan dengan pekerjaan tambahan akibat program tersebut, sementara kesejahteraan mereka belum sepenuhnya terjamin. Tuntutan untuk mengajar menggunakan media digital dan meningkatkan capaian literasi numerasi terus digaungkan, tetapi ruang untuk saling berbagi gagasan dan membangun ruh pembelajaran antarguru justru semakin sempit, bahkan nyaris tidak ada.

Akibatnya, keberhasilan pendidikan sering kali hanya diukur dari capaian materi dan akademik, meskipun minim etika dan ketaatan beragama.

Beginilah gambaran pendidikan di negeri yang menerapkan sistem kapitalisme sekuler. Kalimat-kalimat ideal dalam undang-undang tentang tujuan pendidikan akhirnya kalah oleh sistem yang berorientasi pada kepuasan materi semata. Pendidikan berjalan mengikuti kebutuhan pasar. Sehebat apa pun perjuangan guru, sulit menembus hati para penguasa yang telah disibukkan oleh kepentingan duniawi.

Berbeda dengan itu, Islam menetapkan tujuan pendidikan untuk membentuk manusia bertakwa yang memiliki kepribadian Islam (syakhsiyyah islamiyyah) secara utuh, yakni pola pikir dan pola sikap yang berlandaskan akidah Islam.

Rasulullah saw. menjadikan akidah Islam sebagai landasan pendidikan umat. Hal ini tampak ketika beliau menjelaskan peristiwa gerhana. Dalam hadis riwayat Abu Bakrah disebutkan bahwa saat terjadi gerhana matahari yang bertepatan dengan wafatnya putra Rasulullah saw., Ibrahim, sebagian orang mengaitkan gerhana tersebut dengan kematian Ibrahim. Rasulullah saw. kemudian meluruskan pemahaman itu dengan bersabda:

“Sesungguhnya matahari dan bulan tidak mengalami gerhana karena kematian atau kelahiran seseorang. Keduanya adalah tanda-tanda kekuasaan Allah yang dengannya Allah memberi peringatan kepada hamba-hamba-Nya. Apabila kalian melihatnya, maka salatlah dan berdoalah hingga keadaan kembali seperti semula.”
(HR Bukhari dan Nasa’i)

Pendidikan Islam seperti inilah yang mampu melahirkan ulama, intelektual, dan para ahli yang memberikan manfaat bagi masyarakat dan peradaban. Allah Swt. mewajibkan setiap muslim menuntut ilmu dan membekali diri dengan berbagai pengetahuan untuk kebutuhan hidup pribadi maupun umat. Karena itu, pendidikan termasuk kebutuhan pokok yang wajib dipenuhi.

Oleh sebab itu, negara berkewajiban menyediakan pendidikan gratis dengan dukungan pendanaan dari sistem ekonomi Islam yang adil dan menyejahterakan. Rasulullah saw. juga bersabda:

“Sesungguhnya di antara tanda-tanda datangnya hari kiamat adalah hilangnya ilmu dan meluasnya kebodohan.”
(HR Bukhari dan Muslim)

Semoga momentum Hari Pendidikan Nasional pada 2 Mei ini tidak hanya menjadi seremoni tahunan, tetapi juga menjadi refleksi bersama untuk memperbaiki sistem pendidikan di negeri ini. Dengan kembali kepada pengaturan kehidupan berdasarkan Islam, baik dalam sistem pendidikan, sistem ekonomi, maupun sistem pemerintahan, tujuan pendidikan diyakini dapat benar-benar terwujud, yakni melahirkan generasi dan negeri yang hebat serta bermartabat. [My/HEM]

Baca juga:

0 Comments: