Oleh: Isnawati
(Muslimah Penulis Peradaban)
SSCQmedia.com—Kelaparan masih menghantui Jalur Gaza meskipun gencatan senjata telah diumumkan. Juru bicara PBB, Stephane Dujarric, menyampaikan bahwa jutaan warga Gaza kesulitan mendapatkan makanan, layanan kesehatan, dan kebutuhan dasar akibat blokade serta pembatasan wilayah yang terus berlangsung. Banyak keluarga hanya mampu makan sekali sehari (SinPo.id, Kamis 07 Mei 2026).
Masih dari sumber yang sama, PBB mencatat jutaan bantuan makanan terus disalurkan melalui berbagai lembaga kemanusiaan. Dapur umum dibuka di banyak titik dan bantuan tunai diberikan kepada warga terdampak. Namun, fakta di lapangan menunjukkan penderitaan rakyat Gaza belum berakhir. Malnutrisi tetap tinggi, harga makanan segar melambung, dan serangan Israel terus berlangsung meskipun dunia internasional berulang kali menyerukan perdamaian.
Di saat rakyat Gaza berjuang mempertahankan hidup, kapal-kapal pembawa bantuan kemanusiaan justru disita di perairan internasional. Aktivis yang membawa bantuan ditangkap dan diserang. Pada saat yang sama, ribuan warga Palestina terus menjadi korban agresi, sementara rumah sakit, sekolah, permukiman, dan fasilitas umum dihancurkan tanpa belas kasihan. Dunia menyaksikan semua itu setiap hari, tetapi kejahatan tersebut tetap berjalan seolah tidak ada kekuatan yang mampu menghentikannya.
Inilah kenyataan pahit yang harus dipahami umat Islam hari ini. Persoalan Gaza bukan semata-mata kekurangan bantuan makanan atau obat-obatan. Akar masalahnya adalah penjajahan yang terus dipelihara dan dilindungi oleh sistem dunia saat ini. Bantuan kemanusiaan memang dapat menunda kematian sebagian rakyat Gaza, tetapi tidak menghentikan sumber penderitaan mereka. Setiap bantuan yang masuk tidak pernah mampu menghentikan bom yang dijatuhkan. Setiap paket makanan juga tidak mampu menghentikan blokade yang mencekik kehidupan rakyat Palestina.
Lebih ironis lagi, bantuan fisik yang terus dikirim justru sering menjadi alat untuk meredam amarah dunia tanpa benar-benar menyelesaikan masalah utama. Dunia dibuat sibuk mengurus distribusi bantuan, sementara Zionis tetap bebas melanjutkan penjajahan dan pembantaian. Gaza akhirnya hanya diposisikan sebagai wilayah bencana kemanusiaan, bukan negeri yang sedang dijajah dan dirampas hak hidupnya.
Inilah sebabnya penderitaan Gaza terus berlangsung selama bertahun-tahun. Selama akar masalah berupa penjajahan tidak dicabut, maka bantuan apa pun hanya menjadi penahan sementara bagi penderitaan yang terus diperpanjang.
Kondisi ini juga membuktikan betapa lemahnya posisi negeri-negeri Muslim saat ini. Negeri-negeri Muslim memiliki jumlah penduduk besar, kekayaan alam melimpah, dan kekuatan militer yang tidak sedikit. Namun, semua potensi itu tercerai-berai dalam sekat nasionalisme dan kepentingan politik masing-masing. Akibatnya, umat Islam tidak pernah benar-benar memiliki kekuatan bersama untuk melindungi Palestina maupun negeri-negeri Muslim lain yang tertindas.
Tidak adanya persatuan politik umat Islam membuat penjajah semakin berani bertindak semena-mena. Zionis memahami bahwa dunia Islam saat ini terpecah dan bergerak sendiri-sendiri. Karena itu, mereka tidak takut melanjutkan blokade, membunuh rakyat sipil, bahkan menyerang kapal bantuan di perairan internasional. Mereka tahu kecaman dunia Islam hanya berhenti pada pernyataan, konferensi, dan bantuan kemanusiaan.
Padahal, Islam telah mewajibkan kaum Muslim untuk saling melindungi. Darah kaum Muslim tidak boleh dibiarkan tumpah tanpa pembelaan nyata. Palestina bukan hanya persoalan satu bangsa, melainkan persoalan seluruh umat Islam. Ketika Gaza dihancurkan, sesungguhnya yang sedang dihina adalah persatuan umat Islam itu sendiri. Namun, selama umat masih dipisahkan oleh batas negara dan kepentingan politik nasional, penderitaan serupa akan terus berulang, bukan hanya di Palestina, tetapi juga di berbagai negeri Muslim lainnya.
Karena itu, umat Islam harus mulai memahami bahwa solusi hakiki bagi Palestina bukan sekadar pengiriman bantuan fisik. Gaza membutuhkan perlindungan nyata. Palestina membutuhkan kekuatan politik dan militer yang mampu menghentikan penjajahan, bukan sekadar mengurangi dampaknya.
Di sinilah pentingnya persatuan negeri-negeri Muslim di bawah aturan Islam. Syariah tidak hanya mengatur ibadah pribadi, tetapi juga mengatur bagaimana negara menjaga kehormatan dan keamanan umat. Dalam sejarah Islam, kaum Muslim memiliki kepemimpinan yang menjadi pelindung bagi seluruh umat tanpa memandang batas wilayah. Ketika satu wilayah Muslim diserang, seluruh kekuatan umat bergerak untuk melindunginya.
Khilafah Islamiyyah dipandang sebagai institusi yang menyatukan kekuatan umat dalam satu kepemimpinan. Dengan persatuan itu, umat Islam tidak akan mudah dipecah atau ditekan oleh kekuatan asing. Kekayaan negeri-negeri Muslim dapat digunakan untuk kepentingan umat, kekuatan militer dapat difokuskan untuk melindungi kaum Muslim, dan penjajahan atas Palestina tidak akan dibiarkan berlangsung tanpa perlawanan nyata.
Karena itu, kesedihan terhadap Gaza tidak boleh berhenti pada rasa iba dan donasi semata. Umat harus diarahkan pada kesadaran politik Islam yang benar, yaitu pentingnya kembali kepada syariah dan memperjuangkan persatuan umat dalam institusi khilafah. Sebab, selama umat Islam tetap hidup dalam sistem yang memecah-belah mereka, maka penjajahan akan terus menemukan ruang untuk bertahan.
Gaza hari ini adalah bukti bahwa bantuan fisik saja tidak pernah cukup. Selama penjajah masih berdiri, penderitaan akan terus diwariskan dari generasi ke generasi. Palestina membutuhkan lebih dari sekadar makanan dan obat-obatan. Palestina membutuhkan umat yang bersatu, memiliki kepemimpinan Islam yang kuat, dan menjadikan syariah sebagai landasan perjuangan untuk menghentikan kezaliman hingga ke akarnya.
Wallahu a’lam bisshawab. [Hz/PR]
Baca juga:
0 Comments: