Headlines
Loading...
Pendidikan Anak Butuh Dukungan Sistem

Pendidikan Anak Butuh Dukungan Sistem

Oleh: Ummu Fahhala
(Pegiat Literasi)

SSCQmedia.com—Pendidikan anak usia dini tidak hanya berlangsung di sekolah. Orang tua memegang peran utama dalam proses pendidikan di rumah. Pemahaman ini menjadi fokus dalam kelas parenting pada program Belajar Bersama BBPMP (B3) Jabar yang berlangsung pada Kamis, 7 Mei 2026. Para orang tua berdiskusi mengenai cara menanamkan disiplin secara konsisten dengan tetap menjaga komunikasi yang hangat serta mengedepankan pola pengasuhan positif. Pendekatan ini membantu anak memahami aturan sebagai bentuk pembiasaan, bukan tekanan (Bbpmpjabar.id, 08/05/2026).

Langkah tersebut merupakan upaya yang patut diapresiasi. Program ini menunjukkan adanya kesadaran bahwa keluarga merupakan fondasi utama pendidikan anak. Namun, di sisi lain, terdapat kebutuhan untuk memperjelas arah besar pendidikan itu sendiri. Pola asuh yang efektif membutuhkan konsistensi antara aturan dan nilai yang ditanamkan.

Berbagai kajian pendidikan anak juga menunjukkan bahwa lingkungan sosial turut memengaruhi keberhasilan pola asuh. Dari sini dapat dipahami bahwa pola pengasuhan yang baik akan sulit berkembang jika tidak ditopang oleh sistem yang sejalan.

Kelas parenting mendorong orang tua menerapkan pengasuhan positif. Orang tua diajak membangun komunikasi yang sehat sekaligus menanamkan disiplin tanpa kekerasan. Di sisi lain, dunia pendidikan anak usia dini kini mulai beradaptasi dengan perkembangan teknologi digital. Banyak lembaga PAUD memanfaatkan media digital dalam proses pembelajaran. Langkah ini tampak relevan dengan perkembangan zaman karena anak menjadi lebih akrab dengan teknologi sejak usia dini.

Namun demikian, muncul pertanyaan mendasar: apakah nilai yang menyertai penggunaan teknologi tersebut sudah jelas? Banyak konten digital membawa nilai yang beragam dan tidak semuanya selaras dengan tujuan pembentukan karakter anak. Di sinilah tantangan besar muncul. Orang tua diminta konsisten dalam mendidik di rumah, sementara lingkungan digital sering kali bergerak tanpa arah nilai yang sama.

Berbagai upaya sebenarnya telah dilakukan untuk membentuk generasi unggul. Program parenting, pelatihan guru, hingga digitalisasi pendidikan terus berkembang. Akan tetapi, lingkungan sosial yang lebih luas sering berjalan dengan logika berbeda. Banyak aspek kehidupan justru menonjolkan pencapaian materi dan kebebasan tanpa batas. Nilai-nilai seperti ini hadir melalui media, hiburan, bahkan gaya hidup sehari-hari.

Akibatnya, pola pengasuhan yang baik sering tidak memperoleh dukungan penuh. Orang tua mengajarkan disiplin, tetapi anak menyaksikan contoh yang bertolak belakang di luar rumah. Orang tua menanamkan kesederhanaan, tetapi lingkungan justru mempromosikan kemewahan. Ketidaksinkronan ini melemahkan hasil pengasuhan.

Karena itu, wajar apabila hasil pendidikan belum maksimal. Generasi cemerlang tidak cukup dibentuk oleh keluarga semata. Mereka membutuhkan ekosistem yang mendukung dan berjalan dalam arah yang sama.

Arah Pengasuhan dalam Islam

Islam memberikan panduan yang jelas dalam pengasuhan anak. Al-Qur’an menegaskan pentingnya menjaga keluarga dari penyimpangan. Allah Swt. berfirman:

“Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.”
(QS. At-Tahrim: 6)

Ayat tersebut menegaskan bahwa orang tua memiliki tanggung jawab besar dalam membentuk karakter anak. Orang tua tidak hanya mendidik perilaku, tetapi juga menanamkan keyakinan yang kuat.

Rasulullah saw. memberikan teladan langsung dalam mendidik anak. Beliau membangun kedekatan emosional dengan anak-anak, tetapi tetap tegas dalam prinsip. Dalam hadis riwayat Abu Dawud, Rasulullah saw. bersabda:

“Perintahkan anak-anakmu untuk salat ketika mereka berusia tujuh tahun.”
(HR. Abu Dawud)

Hadis ini menunjukkan keseimbangan antara kasih sayang dan ketegasan dalam pendidikan.

Para sahabat dan pemimpin setelah Rasulullah saw. melanjutkan tradisi tersebut. Umar bin Khattab dikenal tegas dalam mendidik generasi. Beliau menanamkan keberanian dan tanggung jawab sejak dini. Pendidikan tidak hanya dibebankan kepada keluarga, tetapi juga didukung oleh sistem sosial yang menjaga nilai-nilai kehidupan masyarakat.

Pengasuhan yang baik membutuhkan dukungan sistem yang jelas. Islam tidak memisahkan peran keluarga, masyarakat, dan negara. Ketiganya berjalan dalam satu arah. Negara menetapkan kebijakan pendidikan yang berbasis nilai keimanan. Kurikulum tidak hanya mengasah kecerdasan, tetapi juga membentuk kepribadian. Media pun dijaga agar tidak merusak nilai yang ditanamkan di rumah.

Selain itu, masyarakat turut berperan aktif. Lingkungan sosial menjadi ruang pembiasaan nilai bagi anak-anak. Mereka tidak hanya belajar dari orang tua, tetapi juga dari budaya di sekitarnya. Semua elemen saling menguatkan sehingga pola pengasuhan di rumah tidak berjalan sendiri, melainkan mendapat dukungan dari sistem yang utuh.

Sejarah juga mencatat keberhasilan peradaban Islam dalam melahirkan generasi unggul. Banyak ilmuwan besar lahir dari sistem pendidikan yang menyeimbangkan ilmu dan akhlak. Hal ini menunjukkan bahwa pengasuhan yang baik harus berjalan seiring dengan arah peradaban yang jelas.

Pada akhirnya, kelas parenting seperti yang dilakukan di Jawa Barat merupakan langkah awal yang baik. Namun, langkah tersebut perlu diiringi refleksi yang lebih mendalam. Nilai yang diajarkan di rumah harus sejalan dengan lingkungan yang lebih luas. Dengan demikian, harapan melahirkan generasi cemerlang tidak hanya menjadi wacana, tetapi benar-benar terwujud dalam kehidupan nyata.

[An/UM]


Baca juga:

0 Comments: