Oleh: Ratty S. Leman
(Kontributor SSCQ Media)
SSCQMedia.com—Tak terasa hari ini telah memasuki 7 Zulqaidah 1447 Hijriah, sekitar 32 hari lagi menuju Hari Arafah. Para jamaah haji dari Indonesia mulai bersiap diberangkatkan. Koper-koper tertata rapi. Ya Allah, meleleh hati ini. Talbiah pun berkumandang di dalam dada. Rasa rindu ingin kembali ke Baitullah hadir lagi dan lagi.
Keinginan berhaji seakan telah terinstal dalam diri setiap muslim. Bagi yang belum berhaji, tentu sangat ingin berangkat. Apalagi bagi yang sudah pernah berhaji, kerinduan itu semakin membuncah. Setiap tahun menanggung rindu.
Tak dimungkiri, ibadah haji adalah ibadah yang melelahkan. Berdesak-desakan saat thawaf, sai, dan melempar jumrah. Tidur di atas tanah berbatu dengan alas seadanya dan beratap langit ketika di Muzdalifah. Saat di Arafah dan Mina pun tidur hanya di tenda. Aneh, mungkin begitu kata orang yang belum memahami. Mengapa orang ingin berhaji dan umrah lagi dan lagi?
Jika kita memiliki pengalaman pergi ke suatu tempat dengan kondisi seperti itu, mungkin tidak akan ada keinginan untuk kembali. Namun Makkah dan Madinah, dua kota suci tempat diturunkannya Al-Qur’an, memang begitu istimewa.
Hari-hari di bulan Zulqaidah seperti sekarang selalu menghadirkan kembali suara talbiah yang terus terngiang, baik melalui televisi maupun media sosial.
Hati siapa yang tak tersentuh?
Hati siapa yang tak terpanggil?
Hati siapa yang tak bergetar?
Ù„َبَّÙŠْÙƒَ اللَّÙ‡ُÙ…َّ Ù„َبَّÙŠْÙƒَ
Labbaika Allahumma labbaik
(Aku datang memenuhi panggilan-Mu ya Allah, aku datang.)Ù„َبَّÙŠْÙƒَ لاَ Ø´َرِÙŠْÙƒَ Ù„َÙƒَ Ù„َبَّÙŠْÙƒَ
Labbaika laa syariika laka labbaik
(Aku memenuhi panggilan-Mu ya Allah, tiada sekutu bagi-Mu.)Ø¥ِÙ†َّ الْØَÙ…ْدَ ÙˆَالنِّعْÙ…َØ©َ Ù„َÙƒَ ÙˆَالْÙ…ُÙ„ْÙƒَ لاَ Ø´َرِÙŠْÙƒَ Ù„َÙƒَ
Innal hamda wan ni‘mata laka wal mulk laa syariika lak
(Sesungguhnya segala puji, nikmat, dan kerajaan hanyalah milik-Mu. Tiada sekutu bagi-Mu.)
Alhamdulillah, saya pernah berhaji pada tahun 1996. Kini tahun 2026, artinya sudah 30 tahun berlalu sejak pertama kali merasakan suasana wukuf di Arafah. Ingin lagi? Tentu saja ingin lagi, lagi, dan lagi.
Dulu kami mendaftar haji tahun 1995 dan berangkat tahun 1996. Sangat berbeda dengan kondisi sekarang. Melihat daftar tunggu haji reguler saat ini rasanya tidak masuk akal. Semoga suatu hari nanti ada perubahan sistem pengelolaan haji yang lebih baik karena kasihan melihat antrean yang sangat panjang.
Meski keadaan belum menentu, niat berhaji tetap ditancapkan dalam hati. Bahkan bukan sekadar niat, uang muka untuk mendapatkan kursi haji pun sudah dibayarkan. Anak-anak saya mendaftar tahun 2019 dengan masa tunggu sekitar 17 tahun. Sedangkan saya dan si bungsu baru mendaftar tahun 2024 karena menunggu usia si bungsu memenuhi syarat minimal 12 tahun. Masa tunggunya sekitar 25 tahun.
Masyaallah, apakah umur ini masih sampai saat itu? Hanya doa dan usaha yang bisa dilakukan. Memohon kesehatan, umur panjang, dan rezeki yang berkah melimpah. Jika umur tidak sampai, semoga porsi haji itu dapat dihibahkan kepada anak-anak atau menantu. Masyaallah, tabarakallah.
Melihat jamaah haji yang sudah lanjut usia membuat saya berpikir, apakah nanti masih bisa optimal beribadah? Sebab ibadah haji sangat membutuhkan fisik yang prima. Bertarwiyah ke Mina, wukuf di Arafah, bermalam di Mina untuk melempar jumrah, thawaf ifadah yang penuh sesak, hingga sai tujuh kali bolak-balik.
Karena itu, saya sangat bersyukur pernah berhaji di usia 26 tahun. Saat itu tenaga masih kuat sehingga bisa membantu jamaah lain yang sudah sepuh. Dulu, jamaah yang tidak kuat thawaf dapat menyewa tandu di lantai dasar atau kursi roda di lantai atas. Jika tidak kuat sai juga tersedia kursi roda sewaan.
Mungkin nanti saya pun akan seperti itu. Sekarang memang sudah tidak ada tandu, tetapi tersedia kursi roda untuk thawaf di lantai dua dan sai di jalur khusus. Ah, Allah adalah sebaik-baik pengatur. Siapa tahu tidak perlu menunggu hingga usia 82 tahun untuk berhaji kembali. Semoga ada keajaiban dan kemudahan dari Allah.
Kegiatan yang paling berat menurut saya adalah melempar jumrah. Hari pertama hanya jumrah Aqabah yang dilempar. Bisa dibayangkan bagaimana padatnya jamaah. Alhamdulillah sekarang area jumrah sudah dibuat bertingkat sehingga jamaah tidak perlu terlalu berdesak-desakan.
Saat itu, banyak orang tua yang kami bantu mewakili lempar jumrah. Alhamdulillah dalam rombongan kloter kami ada beberapa jamaah muda. Selama tiga hari berturut-turut kami membantu melempar jumrah Aqabah, Ula, dan Wustha.
Kala itu kami tidak melaksanakan sunnah tarwiyah sebelum Arafah maupun tanazul karena sebagian besar jamaah sudah sepuh. Sebagian jamaah melakukan nafar awal dan sebagian lagi nafar tsani. Orang tua kami memilih nafar awal, sedangkan kami yang masih muda mengambil nafar tsani.
Alhamdulillah, pasti sangat bahagia bagi mereka yang tahun ini mendapat panggilan berhaji. Meski dunia sedang diliputi krisis dan suasana perang, semoga pahala mereka dilipatgandakan Allah. Bukankah haji mabrur balasannya adalah surga?
Namun bagi kita yang tahun ini belum bisa berhaji, tidak perlu kecewa. Semoga Allah memampukan dan memberangkatkan kita pada waktu terbaik yang telah ditentukan-Nya. Panggilan untuk melaksanakan rukun Islam kelima ini memang sangat istimewa. Kenikmatannya sulit dilukiskan dengan kata-kata.
Mari terus berdoa agar Allah mengijabah kerinduan kita kepada Baitullah.
“Dan (ingatlah), ketika Kami menjadikan rumah itu (Baitullah) tempat berkumpul bagi manusia dan tempat yang aman...”
(QS. Al-Baqarah: 125)
“Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berdoa, ‘Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini negeri yang aman...’”
(QS. Al-Baqarah: 126)
“Dan (ingatlah) ketika Ibrahim meninggikan fondasi Baitullah bersama Ismail...”
(QS. Al-Baqarah: 127)
“Ya Tuhan kami, jadikanlah kami orang-orang yang berserah diri kepada-Mu...”
(QS. Al-Baqarah: 128)
Itulah ayat-ayat tentang haji yang selalu saya ulang-ulang dalam hati. Semoga Allah masih memberikan umur dan kesempatan untuk kembali berhaji ke Baitullah, berziarah ke makam Rasulullah saw., serta mengunjungi Masjidil Aqsa dalam suasana kemenangan kaum muslimin.
Semoga dengan sering membaca ayat-ayat tersebut, Allah mengabulkan doa-doa kita untuk segera berhaji dan berumrah ke Masjidil Haram, berziarah ke Masjid Nabawi, serta mengunjungi Masjidil Aqsa.
Aamiin ya Mujibassailin.
7 Zulqaidah 1447 Hijriah
32 hari menjelang haji
[My/Wa]
Baca juga:
0 Comments: