Headlines
Loading...

Oleh: Emniswati
(Kontributor SSCQ Media)

SSCQmedia.com—Ada rindu yang tidak mampu dijelaskan oleh kata-kata. Rindu itu bernama Baitullah. Ia tumbuh diam-diam dalam doa, mengalir bersama air mata, lalu menetap di hati seorang hamba yang ingin pulang kepada Allah.

Allah Swt. berfirman:

“Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki dan mengendarai unta yang kurus. Mereka datang dari segenap penjuru yang jauh.”
(QS. Al-Hajj: 27)

Tidak semua langkah kaki mampu sampai ke Tanah Suci. Ada yang bertahun-tahun menabung dalam diam. Ada yang menyimpan rindu dalam setiap sujud panjangnya. Ada pula yang hanya mampu memandang Ka’bah melalui layar kecil sambil menahan air mata.

Namun, satu hal yang pasti, panggilan haji bukan sekadar tentang siapa yang kaya, melainkan tentang siapa yang Allah kehendaki menjadi tamu-Nya.

Haji adalah perjalanan cinta, perjalanan jiwa yang ingin pulang kepada Allah dengan hati yang lebih bersih. Di sana, manusia datang tanpa gelar, tanpa jabatan, tanpa kemewahan dunia. Semua mengenakan kain ihram yang sederhana, seakan Allah Swt. ingin mengajarkan bahwa pada akhirnya manusia hanyalah hamba yang sama di hadapan-Nya.

Betapa banyak orang hidup bergelimang harta, tetapi belum juga menjejakkan kaki di Baitullah. Sebaliknya, tidak sedikit orang sederhana yang tak pernah disangka justru dipanggil Allah untuk berhaji.

Sebab, haji bukan tentang kemampuan manusia, melainkan tentang izin dan kasih sayang Allah.

Kadang, kita bertanya dalam hati, “Kapankah aku bisa ke sana?”

Pertanyaan itu lahir dari kerinduan yang begitu dalam. Setiap kali melihat jemaah haji berangkat, dada terasa sesak oleh harapan yang belum sampai. Ada air mata yang diam-diam jatuh ketika mendengar talbiyah berkumandang. Hati bergetar membayangkan jutaan manusia mengangkat tangan seraya memanggil nama Allah.

“Labbaik Allahumma labbaik…”

Panggilan itu bukan sekadar suara di lisan, melainkan jeritan rindu dari hati seorang hamba.

Rasulullah saw. bersabda:

“Barang siapa melaksanakan haji karena Allah, lalu ia tidak berkata kotor dan tidak berbuat fasik, maka ia kembali seperti pada hari dilahirkan oleh ibunya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Haji mengajarkan tentang pengorbanan. Tentang Nabi Ibrahim a.s. yang rela menaati perintah Allah meski harus mengorbankan sesuatu yang paling dicintainya. Tentang Siti Hajar yang berlari antara Safa dan Marwah demi mencari air untuk anaknya. Tentang Nabi Ismail a.s. yang tumbuh menjadi anak saleh penuh ketundukan kepada Rabb-nya.

Dari keluarga mulia itulah kita belajar bahwa cinta kepada Allah harus berada di atas segalanya.

Saat jutaan manusia tawaf mengelilingi Ka’bah, sejatinya mereka sedang belajar bahwa hidup ini hanya berpusat kepada Allah. Dunia yang selama ini dikejar mati-matian terasa begitu kecil dibandingkan kebesaran-Nya. Jabatan, harta, dan pujian manusia menjadi tidak berarti ketika berdiri di depan Ka’bah sambil menangis memohon ampunan.

Banyak orang pulang dari haji bukan hanya membawa oleh-oleh, tetapi juga membawa hati yang baru. Ada yang sebelumnya keras menjadi lembut. Ada yang dulunya lalai menjadi lebih taat. Ada pula yang sebelumnya sibuk mengejar dunia, lalu mulai memperbaiki akhiratnya.

Sebab, haji sejatinya bukan perjalanan wisata, melainkan perjalanan untuk memperbaiki diri.

Di Padang Arafah, manusia berkumpul memakai pakaian putih yang serupa. Pemandangan itu mengingatkan bahwa kelak kita pun akan dikumpulkan di hadapan Allah tanpa membawa apa-apa selain amal. Tidak ada lagi kebanggaan dunia yang bisa dibawa. Yang tersisa hanyalah iman dan ketulusan hati.

Mungkin hari ini kita belum mampu berhaji. Tabungan belum cukup, usia belum memungkinkan, atau jalan menuju ke sana masih terasa sangat jauh.

Namun, jangan pernah berhenti berharap kepada Allah. Sebab, Allah mampu mengundang siapa saja dengan cara yang tak pernah disangka.

Bisa jadi doa yang terus dipanjatkan di sepertiga malam akan membuka jalan menuju Baitullah. Bisa jadi air mata yang jatuh dalam sujud menjadi saksi kerinduan yang kelak Allah balas dengan panggilan suci.

Jangan malu bermimpi menjadi tamu Allah.

Sebab, tidak ada doa yang terlalu tinggi bagi Allah Yang Maha Kaya.

Sementara menunggu panggilan itu datang, persiapkanlah hati. Perbaiki salat, lembutkan lisan, jaga kejujuran, muliakan orang tua, dan perbanyak istigfar. Sebab, perjalanan menuju haji tidak dimulai saat pesawat terbang ke Makkah, tetapi dimulai sejak hati ingin mendekat kepada Allah.

Ya Allah…

Jika saat ini kaki kami belum mampu melangkah menuju Baitullah, jangan biarkan hati kami berhenti mencintainya.

Panggillah kami menjadi tamu-Mu di Tanah Suci-Mu yang mulia. Izinkan kami memandang Ka’bah dengan mata yang basah oleh syukur. Izinkan bibir ini melantunkan talbiyah di depan rumah-Mu.

Izinkan kami bersujud di Raudhah, menatap Madinah dengan penuh cinta, dan mengucap salam di hadapan Rasulullah saw.

Ya Allah…

Mudahkan jalan kami menuju Makkah dan Madinah. Cukupkan rezeki kami dengan cara-Mu yang halal dan penuh berkah. Sehatkan tubuh kami, kuatkan iman kami, dan jadikan kami hamba yang Engkau pilih untuk memenuhi panggilan suci-Mu.

Aamiin ya Rabbal ‘alamin.

Ada orang yang sudah sampai ke Ka’bah, tetapi hatinya belum sampai kepada Allah. Ada pula yang belum pernah menginjakkan kaki di Tanah Suci, tetapi kerinduannya telah dicatat langit sebagai ibadah.

Semoga kita termasuk orang-orang yang dipanggil Allah dengan panggilan terbaik. Dipertemukan dengan Ka’bah dalam keadaan iman yang kuat dan hati yang bersih, lalu pulang menjadi pribadi yang lebih taat, lebih rendah hati, dan lebih mencintai Allah daripada sebelumnya.

Karena sejatinya, haji bukan hanya perjalanan menuju Makkah, melainkan perjalanan pulang menuju Allah.

“Jika hari ini namamu belum tertulis dalam daftar tamu Allah, jangan bersedih. Teruslah mengetuk langit dengan doa. Sebab, Allah tidak pernah lalai mendengar rindu hamba-Nya yang ingin bersujud di depan Ka’bah.” [My/WA]

Baca juga:

0 Comments: