Headlines
Loading...
Kisah Pemenang Kurban batch 1: Ustazah Teti Rostika (Bandung)

Kisah Pemenang Kurban batch 1: Ustazah Teti Rostika (Bandung)

Oleh: Maya Rohmah (Pemred SSCQ Media)

SSCQmedia.com—Rabu malam itu, 29 April 2026, suasana grup literasi SSCQ terasa berbeda—hangat, hidup, dan penuh harap. Percakapan dimulai dengan pengumuman sederhana, namun sarat makna. Bunda Lilik S. Yani, penggerak komunitas SSCQ dari Surabaya, membuka pertemuan dengan kabar yang membangkitkan antusiasme.

“Pertemuan pertama akan disampaikan oleh pemenang challenge kurban batch 1,” tulisnya.

Tema yang diangkat pun tidak biasa: “Ya Allah, Inilah Proposal Kurbanku.” Sebuah tema yang bukan sekadar lomba menulis, tetapi juga perjalanan spiritual—menghubungkan harapan, doa, dan ikhtiar dalam satu rangkaian kisah.

Nama pemenang pun diumumkan: Teti Rostika dari Bandung. Seorang ibu, guru, sekaligus pegiat literasi yang malam itu akan berbagi kisahnya.

Rina Herlina, host dari Tasikmalaya, menyambut dengan hangat. Ia memperkenalkan sosok Teti sebagai ibu dari tiga anak, pengajar matematika di SMK, sekaligus perintis bimbingan belajar. Namun lebih dari itu, Teti adalah pribadi dengan prinsip hidup yang kuat.

“Hidup bukan untuk mengejar dan menumpuk harta,” demikian motonya, “karena harta dunia hanya kesenangan sementara yang bisa menjadi malapetaka jika melalaikan ibadah.”

Kalimat itu menjadi pintu masuk menuju kisah yang lebih dalam.


Dari Sapa Hangat Menuju Cerita yang Menggetarkan

Sebelum memulai materinya, Teti membuka dengan cara sederhana namun mengena.

“Coba acungkan tangan, siapa yang sudah kenal saya di dunia maya?” ujarnya ringan.

Obrolan pun mengalir. Beberapa peserta mengaku mengenalnya dari kelas literasi SSCQ, dari tulisan-tulisannya, hingga dari kegiatan sebelumnya. Suasana menjadi cair dan akrab, seperti keluarga yang lama tak berjumpa.

“Walau jarang jumpa, tapi dekat di hati dan doa,” ucap Teti.

Sepanjang malam, kehangatan ukhuwah terasa nyata dalam setiap respons. Namun perlahan, suasana berubah menjadi lebih khidmat saat ia mulai memasuki inti cerita.


Kurban untuk Guru: Mengingat Jejak Para Pemberi Cahaya

Teti memulai dengan menyebut satu per satu nama guru-gurunya, dari guru mengaji masa kecil hingga pembimbing literasi. Panjang, rinci, dan penuh hormat.

Ia sengaja melakukannya.

“Malam ini saya sebutkan karena berkenaan dengan challenge kurban: kurban untuk guru,” jelasnya.

Ia mengajak peserta untuk sejenak berhenti, mengingat wajah-wajah yang pernah mengajarkan huruf demi huruf, ilmu demi ilmu.

“Mari kita doakan mereka. Bisa jadi kita belum sempat membalas jasa mereka, tetapi semoga amal kita mengalir untuk mereka.”

Ajakan itu sederhana, namun menghunjam. Banyak yang terdiam, larut dalam ingatan masing-masing.

Cerita kemudian beralih pada pengalaman pribadinya—sebuah kontras nyata antara dua dunia.

Di lingkungan keluarga suaminya, setiap Iduladha begitu meriah. Delapan sapi dan lima domba disembelih. Daging berlimpah, bahkan bisa mencapai 10 kilogram per keluarga.

Namun di kampung halamannya, situasinya jauh berbeda.

“Kadang hanya satu atau dua orang yang berkurban, itu pun jauh dari rumah orang tua saya,” kenangnya.

Ia menggambarkan kondisi masyarakat yang sederhana. Banyak yang hanya lulusan SD dan bekerja sebagai buruh dengan penghasilan minim. Bahkan untuk kebutuhan dasar pun masih terbatas.

“Saya selalu iri,” akunya jujur.

Namun dari rasa itu, lahirlah pertanyaan yang menggelitik nurani: mengapa distribusi kurban tidak bisa lebih merata?

Dari situlah tumbuh keinginan untuk berkurban—bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi juga untuk menghadirkan kebahagiaan di tempat yang jarang merasakannya.


Dari Niat Menjadi Ikhtiar Nyata

Awalnya, keinginan itu terasa jauh. Secara ekonomi, Teti mengaku belum mampu. Ia bahkan sempat berhenti bekerja selama beberapa tahun.

“Seolah jauh untuk bisa berkurban,” ujarnya.

Namun semuanya berubah ketika ia bergabung dengan SSCQ pada tahun 2021, saat sedang hamil anak ketiga.

Di sana, ia menemukan ruang untuk menulis dan—lebih dari itu—ruang untuk bermimpi.

Ia menulis karya dalam antologi “Kurbanku, Bukti Cintaku.” Bukan sekadar tugas, tetapi curahan hati yang disertai doa.

“Saya menulis sambil melangitkan doa,” katanya.

Tulisan itu sederhana, hanya dua halaman, tetapi menyimpan harapan besar.


Saat Doa Menemukan Jalannya

Tahun berikutnya, 2022, SSCQ kembali mengadakan challenge dengan hadiah seekor kambing.

Ia ikut serta. Namun sebelum mengirimkan tulisannya, ia melakukan sesuatu yang sederhana namun penuh makna: meminta doa kepada ibunya.

“Saya bilang, doakan saya agar bisa menang dan memberikan kurban untuk Emak.”

Ia berdoa, berharap, dan menunggu.

Hingga suatu malam, setelah terbangun dari tidur, ia membuka ponsel. Namanya tercantum sebagai pemenang.

“Saya langsung sujud syukur,” kenangnya.

Kebahagiaan itu bukan sekadar kemenangan, tetapi tentang janji yang akhirnya bisa ditunaikan—memberikan kurban pertama untuk ibunya.


Kejutan Rezeki yang Menggugah

Kisah itu belum berhenti. Saat pelaksanaan kurban, sesuatu yang tak terduga terjadi.

Kakak-kakaknya ikut berpartisipasi, mengumpulkan dana agar sang ayah juga bisa berkurban.

“Alhamdulillah, akhirnya bapak dan emak bisa berkurban bersama,” ujarnya haru.

Bahkan, orang tuanya sempat tak percaya saat menerima uang tersebut.

“Ini uang pertama kali saya pegang sebanyak itu,” katanya.

Momen itu menjadi bukti bahwa rezeki bisa datang dari arah yang tak disangka—selama ada keyakinan dan usaha.


Ukhuwah yang Menjadi Nyata

Tak hanya soal kurban, ia juga berbagi kisah tentang kekuatan ukhuwah di SSCQ.

Ia pernah berada dalam kondisi sulit saat anaknya sakit menjelang Idulfitri. Tanpa banyak bicara, ia hanya bercerita kepada salah satu sahabat.

Namun dalam hitungan jam, donasi mengalir hingga mencapai jutaan rupiah.

“Saya sujud syukur,” ucapnya.

Ia tak menyangka bantuan bisa terkumpul begitu cepat.

“Ternyata semua member berhati malaikat,” katanya.

Sang host menimpali, “Itulah kekuatan ukhuwah. Saat satu kesulitan, yang lain ingin meringankan.”


Niat, Ikhtiar, dan Keyakinan

Di akhir sesi, Teti menyampaikan pesan yang menjadi inti dari seluruh kisahnya.

“Impian itu harus kuat di doa,” katanya.

Ia menekankan bahwa niat saja tidak cukup. Harus ada ikhtiar maksimal, pengorbanan, dan keyakinan penuh kepada Allah.

Ia bahkan pernah menjual emas tabungannya demi bisa berkurban di menit-menit terakhir.

“Terasa malu pada Allah kalau tidak berkurban padahal mampu,” ujarnya.

Pesannya jelas: jangan menunggu sisa, tetapi sisihkan.


Menutup dengan Harapan

Malam itu ditutup dengan doa dan harapan. Rina Herlina sebagai host mengajak semua peserta untuk segera menulis dan menuangkan harapan dalam bentuk kata.

“Menulis dari hati, iringi dengan doa, akhiri dengan tawakal,” pesannya.

Sementara Bunda Lilik menegaskan tujuan besar dari gerakan ini:

“Agar sahabat bisa merasakan bahagia berkurban juga.”

Bukan sekadar lomba, tetapi upaya membuka jalan agar lebih banyak orang merasakan nikmatnya memberi.


Lebih dari Sekadar Cerita

Pertemuan malam itu bukan sekadar rangkaian chat. Ia adalah potret nyata bagaimana doa, tulisan, dan kebersamaan mampu mengubah sesuatu yang tampak mustahil menjadi nyata.

Dari sebuah tulisan sederhana, lahir seekor kambing kurban.
Dari sebuah komunitas kecil, mengalir kepedulian besar.
Dan dari keyakinan seorang hamba, terbuka jalan rezeki yang tak terduga.

Seperti yang diucapkan Teti di akhir sesi:

“Menulislah dari nurani, langitkan doa tanpa henti. Insyaallah, Allah kabulkan.” []

Baca juga:

0 Comments: