Headlines
Loading...
Judol dan Pinjol: Rumah yang Retak, Nyawa yang Terenggut

Judol dan Pinjol: Rumah yang Retak, Nyawa yang Terenggut

Oleh: Ummu Fahhala
(Pegiat Literasi)

SSCQmedia.com—Di balik gemerlap layar ponsel yang tampak sepele, ada krisis yang diam-diam menggerogoti sendi paling dasar masyarakat, yakni keluarga. Fenomena judi online (judol) dan pinjaman online (pinjol) bukan lagi sekadar isu ekonomi atau moral individual. Keduanya telah menjelma menjadi masalah sosial serius yang merembet hingga meningkatnya angka perceraian, bahkan menyentuh ranah paling sensitif, yakni keselamatan ibu dan bayi.

Data yang diungkap oleh Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Keluarga Berencana (DP3AKB) Provinsi Jawa Barat menunjukkan kenyataan yang mengkhawatirkan. Maraknya judol dan pinjol berkorelasi dengan meningkatnya Angka Kematian Ibu (AKI), Angka Kematian Bayi (AKB), serta angka perceraian yang hampir menyentuh 98 ribu kasus berdasarkan data Pengadilan Tinggi Agama. (Pelitajabar.com, 22/04/2026)

Angka tersebut bukan sekadar statistik. Itu adalah potret getir rumah tangga yang runtuh, anak-anak yang kehilangan perlindungan, serta ibu dan bayi yang menjadi korban tekanan hidup yang tak tertanggungkan.

Judol memiliki karakteristik berbeda dari perjudian konvensional. Ia mudah diakses, tersembunyi, dan sering kali dibungkus dalam tampilan “hiburan”. Siapa pun bisa terjerat tanpa batas usia dan tanpa pengawasan sosial yang memadai. Ketika seorang kepala keluarga terjebak dalam lingkaran judol, dampaknya tidak berhenti pada kerugian finansial.

Kecanduan judi memicu perilaku impulsif. Penghasilan yang seharusnya digunakan untuk kebutuhan keluarga justru habis dalam hitungan menit. Ketika kerugian datang, pinjol menjadi jalan pintas yang tampak solutif. Padahal, justru di sanalah lingkaran setan dimulai.

Utang menumpuk, tekanan meningkat, dan konflik rumah tangga tak terelakkan. Dalam banyak kasus, pertengkaran berujung pada kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Istri yang sedang hamil atau berada dalam kondisi rentan menjadi korban pertama. Stres berkepanjangan, kurangnya akses gizi, hingga kekerasan fisik berkontribusi langsung terhadap meningkatnya risiko kematian ibu dan bayi.

Hampir 98 ribu kasus perceraian bukan angka kecil. Hal itu menunjukkan bahwa krisis ini telah meluas dan bersifat sistemik. Judol dan pinjol memang bukan satu-satunya penyebab perceraian, tetapi keduanya menjadi katalis yang mempercepat keretakan rumah tangga.

Ketika kepercayaan hilang akibat kebohongan finansial, kebutuhan dasar tidak terpenuhi, dan rasa aman dalam keluarga lenyap, perceraian pun dianggap sebagai jalan paling mungkin.

Namun, perceraian bukanlah akhir dari masalah. Perceraian justru membuka babak baru berupa anak-anak yang tumbuh tanpa stabilitas emosional, perempuan yang harus menanggung beban ganda, dan lingkaran kemiskinan yang semakin sulit diputus.

Akar Masalah: Sistem yang Membentuk Perilaku

Fenomena ini tidak bisa dilepaskan dari sistem yang melingkupi masyarakat. Dalam sistem kapitalisme liberal, kebebasan individu sering kali ditempatkan di atas tanggung jawab sosial. Industri digital berkembang pesat tanpa kontrol yang memadai. Aplikasi judol dan pinjol menjamur karena dianggap menguntungkan secara ekonomi, meskipun merugikan secara sosial.

Masyarakat didorong untuk hidup konsumtif dan serba instan. Ketika kebutuhan tidak terpenuhi, solusi cepat seperti pinjol menjadi pilihan. Ketika ingin memperoleh uang secara cepat, judol tampak menggoda. Pola pikir ini bukan muncul tiba-tiba, melainkan dibentuk oleh sistem yang mengedepankan keuntungan di atas nilai.

Lebih jauh, lemahnya penegakan hukum memperparah keadaan. Banyak platform judol tetap beroperasi meskipun telah dilarang. Pinjol ilegal pun terus bermunculan dengan berbagai modus. Tanpa sanksi tegas yang menimbulkan efek jera, praktik ini akan terus berulang.

Perspektif Islam: Solusi yang Menyentuh Akar

Islam memandang keluarga sebagai pilar utama peradaban. Karena itu, segala hal yang merusak keluarga harus dicegah secara serius. Dalam Islam, judi (maisir) dan riba yang menjadi dasar praktik pinjol diharamkan secara tegas. Larangan ini bukan semata aturan moral, melainkan bentuk perlindungan terhadap manusia dari kerusakan yang lebih luas.

Namun, solusi Islam tidak berhenti pada pelarangan. Islam menawarkan solusi hingga ke akar persoalan melalui beberapa mekanisme berikut.

  1. Pembentukan Individu Bertakwa

Islam menanamkan kesadaran bahwa setiap perbuatan akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah Swt. Hal ini membentuk kontrol internal yang kuat sehingga seseorang tidak mudah tergoda oleh praktik yang merusak.

  1. Penguatan Peran Keluarga

Keluarga dalam Islam dibangun atas dasar tanggung jawab, kasih sayang, dan kepemimpinan yang adil. Suami sebagai pemimpin keluarga wajib menafkahi dan melindungi, sedangkan istri berperan menjaga keharmonisan rumah tangga.

  1. Sistem Ekonomi Islam Tanpa Riba

Islam menawarkan sistem ekonomi yang adil dan bebas eksploitasi. Kebutuhan masyarakat dipenuhi melalui mekanisme yang halal dan berkeadilan sehingga tidak ada ruang bagi praktik pinjol yang mencekik.

  1. Peran Negara yang Tegas

Negara dalam sistem Islam bertugas menjaga masyarakat dari kerusakan. Judi dan praktik riba tidak hanya dilarang, tetapi juga diberantas secara sistematis dengan sanksi yang tegas dan menimbulkan efek jera.

  1. Lingkungan Sosial yang Sehat

Islam juga mengatur lingkungan agar tidak memfasilitasi kemaksiatan. Media, teknologi, dan ruang publik diarahkan untuk mendukung kebaikan, bukan sebaliknya.

Khatimah

Judol dan pinjol bukan sekadar masalah individu yang dianggap “kurang kuat iman”. Keduanya merupakan gejala dari sistem yang memungkinkan kerusakan itu terjadi dan berkembang. Ketika dampaknya sudah sampai pada kematian ibu dan bayi, maka ini bukan lagi isu kecil, melainkan darurat sosial.

Mengatasi masalah ini membutuhkan lebih dari sekadar imbauan atau penindakan parsial. Persoalan ini membutuhkan perubahan cara pandang, sistem, dan arah kebijakan. Jika keluarga terus runtuh, masyarakat pun akan kehilangan fondasinya.

Ketika fondasi itu hilang, yang tersisa hanyalah krisis demi krisis yang terus berulang. [My/UF]

Baca juga:

0 Comments: