Headlines
Loading...
Hardiknas: Potret Buram Pendidikan Kita

Hardiknas: Potret Buram Pendidikan Kita

Oleh: Siti Nur Faridah, S.K.M.
(Kontributor SSCQ Media)

SSCQMedia.com—Setiap tahun Hari Pendidikan Nasional diperingati dengan berbagai seremoni dan slogan tentang pentingnya mencerdaskan kehidupan bangsa. Namun, di balik peringatan itu, wajah dunia pendidikan justru tampak makin buram dan memprihatinkan. Sekolah dan kampus yang seharusnya menjadi tempat lahirnya generasi berilmu dan berakhlak mulia, kini dipenuhi berbagai kasus kekerasan, kecurangan, hingga kriminalitas.

Baru-baru ini publik dikejutkan dengan tewasnya seorang pelajar di Bantul akibat dikeroyok dan dilindas sekelompok pelajar lain. Dua pelaku telah ditangkap, sementara beberapa lainnya masih buron (Kumparan, April 2026). Kasus serupa juga terjadi di Bandung. Seorang pelajar SMA meninggal dunia dan enam tersangkanya ternyata juga masih berstatus pelajar (Kompas, April 2026). Di Bogor, dua pelajar menjadi korban penyiraman air keras hingga mengalami luka serius di wajah (Detik, April 2026). Fakta-fakta ini menunjukkan bahwa kekerasan di dunia pendidikan bukan lagi sekadar kenakalan remaja, tetapi telah mengarah pada tindak kriminal yang mengancam nyawa.

Tak hanya kekerasan, budaya curang dalam pendidikan juga makin mengkhawatirkan. Kasus joki UTBK kembali terungkap di Surabaya dan beberapa daerah lain. Para pelaku menggunakan berbagai modus, mulai dari pemalsuan dokumen hingga penggunaan alat bantu elektronik. Bahkan, ada joki yang mengaku dibayar hingga ratusan juta rupiah jika berhasil meloloskan peserta masuk perguruan tinggi (Kompas, April 2026; Tempo, April 2026; Detik, April 2026). Fenomena ini membuktikan bahwa sebagian generasi muda lebih memilih jalan instan demi meraih kesuksesan tanpa proses yang jujur.

Di sisi lain, kasus pelecehan seksual, narkoba, bullying, hingga tindakan pelajar yang berani menghina guru juga makin sering terjadi. Guru yang menegur siswa bisa dilaporkan, sementara pelaku kekerasan kerap hanya dianggap “anak-anak yang sedang nakal”. Akibatnya, banyak pelajar tumbuh tanpa rasa hormat terhadap ilmu, guru, maupun aturan.

Semua ini seharusnya menjadi alarm keras bagi bangsa ini. Ada yang salah dengan arah pendidikan hari ini. Pendidikan lebih diarahkan untuk mencetak tenaga kerja dan mengejar nilai akademik, tetapi gagal membentuk kepribadian dan moral generasi. Sistem pendidikan sekuler kapitalistik telah melahirkan generasi yang cenderung pragmatis, liberal, dan individualis. Kesuksesan diukur dari materi dan status, bukan dari akhlak dan integritas.

Tidak heran jika budaya instan dan menghalalkan segala cara semakin mengakar. Ketika nilai agama hanya menjadi pelengkap, sementara kebebasan dijunjung tinggi, lahirlah generasi yang cerdas secara akademik tetapi rapuh secara moral. Mereka kehilangan arah hidup dan mudah terseret pada kekerasan, kemaksiatan, hingga kriminalitas.

Longgarnya sanksi terhadap pelaku pelajar juga memperparah keadaan. Banyak tindakan kriminal akhirnya dianggap sekadar “kenakalan remaja”. Padahal, pembiaran semacam ini justru membentuk keberanian untuk mengulangi kejahatan yang sama. Negara tampak belum serius membangun sistem perlindungan generasi secara menyeluruh.

Islam memandang pendidikan sebagai perkara mendasar yang wajib dijamin negara. Tujuan pendidikan dalam Islam bukan sekadar mencetak manusia pintar, tetapi membentuk insan yang bertakwa dan berkepribadian Islam. Pendidikan Islam menekankan keselarasan antara pola pikir dan pola sikap, sehingga ilmu yang dimiliki melahirkan tanggung jawab moral, bukan justru menjadi alat kejahatan.

Dalam sistem Islam, keluarga, sekolah, lingkungan, dan negara berjalan selaras dalam membentuk generasi. Negara juga menerapkan sistem sanksi yang tegas terhadap pelaku kejahatan, termasuk jika dilakukan oleh pelajar, agar muncul efek jera dan perlindungan bagi masyarakat. Selain itu, suasana kehidupan dibangun di atas ketakwaan sehingga generasi terdorong berlomba dalam kebaikan, bukan dalam kekerasan dan kecurangan.

Momentum Hardiknas seharusnya tidak berhenti pada upacara dan pidato seremonial. Ini saatnya mengevaluasi arah pendidikan bangsa secara mendasar. Jika dunia pendidikan terus melahirkan generasi yang krisis moral dan kepribadian, sesungguhnya kita sedang menghadapi krisis peradaban. Sudah waktunya pendidikan dikembalikan pada tujuan hakikinya: membentuk manusia berilmu, beradab, dan bertakwa. [My/WA]

Baca juga:

0 Comments: