Headlines
Loading...
Hardiknas: Pendidikan Kita Sedang Sakit

Hardiknas: Pendidikan Kita Sedang Sakit

Oleh: Verawati, S.Pd.
(Kontributor SSCQ Media)

SSCQMedia.com — Setiap 2 Mei, bangsa ini kembali merayakan Hari Pendidikan Nasional. Upacara digelar, pidato disampaikan, dan slogan digaungkan. Namun, satu pertanyaan mendasar terus menggantung tanpa jawaban jujur: apakah pendidikan kita benar-benar sedang baik-baik saja?

Faktanya, tidak. Di balik seremonial itu, dunia pendidikan justru dipenuhi ironi. Kasus kekerasan, pelecehan seksual, hingga degradasi adab terus bermunculan. Di Bandung, laporan Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia mencatat ratusan kasus kekerasan hanya dalam hitungan bulan. Di kampus sekelas Universitas Indonesia, dugaan pelecehan seksual justru melibatkan mahasiswa yang seharusnya menjadi calon elite intelektual bangsa.

Hasil pemantauan Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia menunjukkan terdapat 233 kasus kekerasan di lingkungan pendidikan dalam tiga bulan terakhir. Kasus terbaru adalah dugaan pelecehan seksual di grup aplikasi pesan oleh mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Indonesia (FHUI). Sebanyak 16 mahasiswa diduga menjadi pelaku pelecehan tersebut (Kompas.com, 14 April 2026).

Ini bukan lagi sekadar ulah “oknum”. Ini adalah gejala sistemik. Jika pendidikan adalah wajah peradaban, maka hari ini kita harus jujur mengatakan bahwa wajah itu sedang retak, bahkan mulai runtuh.

Gagalnya Arah Pendidikan

Masalah utama pendidikan kita bukan sekadar kurikulum yang sering berganti, bukan pula soal metode belajar yang terus diperbarui. Masalahnya jauh lebih mendasar, yaitu ketidakjelasan arah dan tujuan.

Setiap pergantian pemimpin melahirkan kebijakan baru. Pendidikan diperlakukan seperti proyek eksperimen tanpa fondasi yang kokoh. Akibatnya, yang lahir bukan generasi unggul, melainkan generasi yang gamang, cerdas secara teknis, tetapi rapuh secara moral.

Kita menyaksikan paradoks yang menyakitkan. Semakin tinggi tingkat pendidikan tidak selalu berbanding lurus dengan kualitas akhlak. Mengapa demikian? Karena pendidikan hari ini kehilangan ruhnya.

Sekularisme: Akar Masalah yang Diabaikan

Pendidikan kita berdiri di atas paradigma sekuler yang memisahkan agama dari kehidupan. Ilmu diajarkan sebagai alat meraih materi, bukan sebagai jalan mengenal Tuhan dan menjalankan peran sebagai hamba. Akibatnya, lahirlah manusia-manusia yang cerdas, tetapi oportunis; terdidik, tetapi permisif; berilmu, tetapi kehilangan arah hidup.

Dalam sistem ini, keberhasilan diukur dari angka, gelar, dan materi. Sementara itu, akhlak, ketakwaan, dan tanggung jawab moral dianggap sebagai urusan pribadi yang tidak relevan dengan kemajuan.

Inilah yang melahirkan generasi pragmatis yang menghalalkan segala cara demi meraih keuntungan materi. Ketika nilai hilang, pelanggaran bukan lagi sesuatu yang memalukan, melainkan sekadar risiko. Tidak heran jika kampus yang seharusnya menjadi pusat peradaban justru menjadi tempat lahirnya berbagai penyimpangan.

Hardiknas Harus Jadi Alarm, Bukan Sekadar Seremoni

Peringatan Hari Pendidikan Nasional seharusnya menjadi momentum muhasabah, bukan sekadar rutinitas tahunan. Kita tidak membutuhkan lebih banyak slogan. Kita membutuhkan keberanian untuk mengakui bahwa sistem pendidikan hari ini telah gagal membentuk manusia seutuhnya.

Selama pendidikan hanya diarahkan untuk mencetak tenaga kerja dan bukan membentuk kepribadian, maka krisis ini akan terus berulang.

Islam Menawarkan Arah yang Jelas

Berbeda dengan sistem saat ini, Islam meletakkan pendidikan di atas fondasi akidah. Tujuannya jelas, yaitu membentuk manusia yang memiliki kepribadian Islam: bertakwa, berilmu, dan berakhlak. Lebih jauh lagi, pendidikan Islam bertujuan melahirkan pemimpin peradaban manusia karena Islam hadir sebagai rahmatan lil ‘alamin. Dalam Islam, ilmu tidak pernah netral. Ilmu selalu terikat dengan nilai dan tanggung jawab di hadapan Allah Swt.

Negara dalam sistem Islam tidak sekadar menjadi regulator, tetapi juga penanggung jawab utama pendidikan. Karena itu, negara menyelenggarakan pendidikan secara gratis, merata, berkualitas, dan berbasis akidah Islam, serta diarahkan untuk membentuk kepribadian Islam, baik pola pikir maupun pola sikap.

Ketika ketakwaan menjadi fondasi, kontrol diri akan terbentuk. Seseorang tidak hanya takut pada hukum, tetapi juga takut kepada Allah Swt., bahkan ketika tidak ada yang melihat. Takwa menjadi benteng pertama dan utama.

Di sisi lain, masyarakat berperan sebagai penjaga moral, sedangkan negara memberikan sanksi tegas terhadap pelanggaran. Lingkungan, termasuk media, diarahkan untuk membangun keimanan, bukan merusaknya.

Hasilnya bukan utopia. Sejarah telah membuktikannya. Peradaban Islam pernah melahirkan ilmuwan besar seperti Ibnu Sina, Al-Farabi, dan Ibnu Battuta yang tidak hanya cerdas, tetapi juga beradab. Karya dan pemikiran mereka bahkan masih menjadi rujukan hingga saat ini.

Berani Mengubah Arah

Jika kita benar-benar ingin memperbaiki pendidikan, maka yang harus diubah bukan sekadar kurikulum, melainkan paradigma dan sistemnya. Selama pendidikan masih berpijak pada sekularisme, krisis moral akan terus menjadi bayang-bayang yang tidak pernah hilang.

Hardiknas seharusnya tidak lagi sekadar perayaan, tetapi menjadi titik balik: apakah kita akan terus mempertahankan sistem yang terbukti gagal atau berani mencari solusi yang hakiki?

Solusi hakiki itu ada pada sistem Islam yang ditetapkan oleh Sang Khalik.

Wallahualam bissawab. [Hz/AA]

Baca juga:

0 Comments: