Headlines
Loading...
Frugal Living vs Flexing: Antara Kesadaran dan Pencitraan

Frugal Living vs Flexing: Antara Kesadaran dan Pencitraan

Oleh: Ummu Fahhala
(Pegiat Literasi)

SSCQmedia.com—Di era media sosial hari ini, manusia tidak lagi sekadar hidup, tetapi juga mempertontonkan kehidupannya. Ruang digital berubah menjadi etalase gaya hidup. Ada yang memamerkan kopi mahal, liburan mewah, tas bermerek, kendaraan baru, hingga rutinitas “healing” yang dikurasi sedemikian rupa. Di sisi lain, muncul tren tandingan bernama frugal living, yakni hidup sederhana, hemat, dan sadar prioritas keuangan. Kedua fenomena ini kini seperti dua kutub yang saling berhadapan di media sosial: antara hidup untuk nilai dan hidup demi validasi.

Media sosial menjadi arena pertarungan gaya hidup generasi modern. Budaya flexing semakin masif karena algoritma media sosial cenderung mengangkat konten yang memancing perhatian dan kekaguman. Akibatnya, ukuran keberhasilan sering kali direduksi menjadi seberapa “layak tampil” seseorang di ruang digital (Antaranews.com, 09/05/2026).

Flexing pada dasarnya bukan sekadar pamer kekayaan. Ia merupakan gejala sosial yang lahir dari kebutuhan manusia akan pengakuan. Dalam masyarakat modern yang cenderung kapitalistik dan sekuler, kebahagiaan sering diukur dari akumulasi materi dan kesenangan inderawi. Standar hidup “bahagia” direduksi menjadi kepemilikan rumah mewah, kendaraan mahal, liburan eksklusif, dan gaya hidup premium.

Ketika ukuran kebahagiaan bergeser menjadi kesenangan materi, batas halal dan haram pun berpotensi kabur. Demi terlihat berhasil, sebagian orang rela menempuh jalan yang dilarang syariat, berutang tanpa pertimbangan, memamerkan aurat, bahkan mencari penghasilan dari sumber yang tidak halal.

Inilah titik krusial kritik Islam terhadap paradigma kapitalisme sekuler. Ketika materi menjadi pusat orientasi hidup, manusia rentan menghalalkan yang diharamkan Allah atau sebaliknya meninggalkan yang diwajibkan demi mengejar citra duniawi. Padahal, Islam menempatkan kebahagiaan pada ketenangan hati dan keberkahan hidup, bukan semata kepemilikan materi.

Allah Swt. telah mengingatkan,

“Bermegah-megahan telah melalaikan kamu.”
(QS. At-Takatsur: 1)

Ayat ini menggambarkan bagaimana obsesi terhadap kemewahan dapat melalaikan manusia dari tujuan hidup yang hakiki. Budaya flexing hari ini seolah menjadi manifestasi modern dari takatsur, yakni perlombaan dalam memperbanyak dan mempertontonkan harta.

Di sisi lain, Islam juga tidak membenarkan sikap berlebihan dalam pengelolaan harta, baik dalam bentuk boros maupun penahanan yang tidak proporsional. Dalam konteks ini, istilah tadbir (pengelolaan) menjadi penting. Islam melarang tadbir yang berlebihan, yakni pengaturan harta yang melampaui batas keseimbangan, baik dalam konsumsi berlebih (israf) maupun dalam sikap kikir (taqtir).

Allah Swt. berfirman,

“Dan janganlah kamu berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.”
(QS. Al-A’raf: 31)

Juga firman-Nya,

“Dan orang-orang yang apabila membelanjakan harta, mereka tidak berlebihan dan tidak pula kikir …”
(QS. Al-Furqan: 67)

Ayat-ayat ini menegaskan bahwa Islam adalah agama keseimbangan. Frugal living dalam perspektif Islam bukan sekadar tren finansial, tetapi bagian dari etika pengelolaan harta yang berorientasi pada keberkahan. Ia bukan tentang menahan diri secara ekstrem, melainkan mengendalikan diri secara proporsional.

Namun demikian, fenomena frugal living pun tidak sepenuhnya steril dari problem. Ketika kesederhanaan dijadikan konten, ia berpotensi berubah menjadi bentuk “flexing baru”. Kesederhanaan yang dipamerkan tetap saja dapat berakar pada kebutuhan akan pengakuan. Ini menunjukkan bahwa problem utamanya bukan pada gaya hidup, melainkan pada orientasi hati.

Lebih jauh, fenomena ini tidak bisa dilepaskan dari peran negara dalam mengatur arus informasi dan budaya. Media sosial bukan ruang netral. Ia dibentuk oleh algoritma dan kepentingan ekonomi yang sering kali lebih mengedepankan sensasi daripada nilai.

Konten yang memicu konsumtivisme, hedonisme, dan pencitraan berlebihan cenderung lebih viral dibandingkan konten edukatif dan bernilai peradaban. Karena itu, diperlukan kebijakan negara yang berpihak pada kemaslahatan umat. Negara tidak cukup hanya menjadi regulator teknis, tetapi juga penjaga arah peradaban. Konten media perlu diarahkan agar mendukung terbentuknya masyarakat yang berakhlak, produktif, dan berorientasi pada nilai-nilai luhur.

Dalam perspektif Islam, negara memiliki tanggung jawab ri’ayah (pengurusan) terhadap rakyatnya, termasuk dalam menjaga kesehatan moral dan intelektual masyarakat.

Rasulullah saw. bersabda,

“Imam (pemimpin) adalah pengurus rakyat dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas rakyatnya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini menunjukkan bahwa negara tidak boleh abai terhadap dampak sosial dari arus media. Regulasi terhadap konten yang merusak moral publik, termasuk budaya flexing yang berlebihan, menjadi bagian dari tanggung jawab tersebut. Sebaliknya, negara perlu mendorong produksi dan distribusi konten yang membangun kesadaran, kesederhanaan, dan orientasi akhirat.

Tentu saja, kebijakan ini harus dilakukan secara bijak dan proporsional, tanpa mematikan kreativitas, tetapi tetap menjaga arah nilai. Tujuannya bukan membatasi kebebasan secara semena-mena, melainkan memastikan bahwa kebebasan tidak merusak fondasi moral masyarakat.

Pada akhirnya, pertarungan antara frugal living dan flexing bukan sekadar soal pilihan gaya hidup, melainkan refleksi dari paradigma hidup yang lebih dalam: apakah manusia menjadikan materi sebagai tujuan atau sebagai sarana. Dalam Islam, materi hanyalah alat untuk beribadah, bukan ukuran kemuliaan.

Allah Swt. berfirman,

“Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa.”
(QS. Al-Hujurat: 13)

Dengan demikian, kebahagiaan sejati bukan terletak pada apa yang ditampilkan, tetapi pada apa yang dirasakan dalam kedekatan dengan Allah. Media sosial boleh menjadi panggung, tetapi hati seorang Muslim tidak boleh menjadi penontonnya. [My/Wa]

Baca juga:

0 Comments: