Oleh: Verawati, S.Pd.
(Kontributor SSCQ Media)
SSCQMedia.com—Kondisi Palestina kian hari kian mengerikan. Tidak ada lagi ruang aman bagi rakyat Gaza. Jangankan bagi mereka yang masih hidup, bahkan mereka yang telah meninggal pun banyak yang tidak mendapatkan penghormatan yang layak. Jenazah para syuhada tidak dapat dimakamkan dengan aman di tanah mereka sendiri.
Kebiadaban Zionis Israel semakin membabi buta, sementara dunia dan umat Islam tampak tidak berdaya. Meski gencatan senjata berkali-kali diumumkan, serangan masih terus berlangsung.
Dilansir dari Metro TV News pada 8 Mei 2026, Zionis Israel kembali melancarkan serangan udara ke wilayah Jalur Gaza pada Jumat malam waktu setempat. Akibatnya, sejumlah bangunan tempat tinggal warga hancur dan beberapa warga sipil, termasuk anak-anak, dilaporkan mengalami luka-luka.
Tidak hanya warga sipil, para jurnalis yang melakukan peliputan di Palestina juga menghadapi ancaman besar. Banyak di antara mereka gugur saat menjalankan tugas kemanusiaan untuk menyampaikan fakta kepada dunia. Ratusan jurnalis dilaporkan terbunuh selama konflik berlangsung.
Jumlah korban meninggal akibat serangan Israel di Jalur Gaza sejak Oktober 2023 terus meningkat hingga mencapai 72.612 jiwa. Data terbaru dari otoritas kesehatan setempat menyebutkan bahwa jumlah korban terus bertambah meskipun gencatan senjata telah diberlakukan.
Dalam keterangan tertulisnya, Kementerian Kesehatan Gaza juga melaporkan bahwa jumlah warga yang mengalami luka-luka sejak agresi dimulai telah mencapai 172.457 orang. Selain itu, kurang lebih 300 jurnalis dilaporkan terbunuh selama perang berlangsung (aa.com, 4 Juni 2026).
Semua ini menunjukkan kekejaman Zionis. Mereka adalah manusia laknatullah dan sebenar-benarnya teroris. Tujuan Zionis Israel bukan sekadar melakukan serangan militer, melainkan juga menguasai tanah Palestina secara penuh dengan melakukan dehumanisasi terhadap rakyatnya.
Tidak hanya Palestina, sebagian kalangan Zionis juga memiliki gagasan tentang “Israel Raya” yang mencakup wilayah yang lebih luas di kawasan Timur Tengah. Karena itu, berbagai agresi dan tekanan terus dilakukan demi memperluas pengaruh mereka.
Watak Zionis dalam Pandangan Islam
Dalam Al-Qur’an dijelaskan bagaimana sebagian kaum Yahudi menentang para nabi. Mereka memiliki sifat sombong dan sering melanggar perjanjian. Allah Swt. berfirman dalam Surah Al-Baqarah ayat 100:
“Patutkah (mereka ingkar kepada ayat-ayat Allah), dan setiap kali mereka mengikat janji, segolongan mereka melanggarnya? Bahkan sebagian besar dari mereka tidak beriman.”
Ayat ini seharusnya dijadikan pelajaran bahwa watak Zionis Yahudi adalah pengkhianat. Seribu perjanjian dan bentuk apa pun, menurut penulis, pada akhirnya akan dikhianati. Oleh karena itu, penyelesaian masalah Palestina dinilai tidak dapat ditempuh melalui jalan damai ataupun perjanjian, melainkan melalui jihad. Menurut pandangan ini, jihad merupakan hal yang paling ditakuti oleh mereka.
Di sisi lain, umat Islam seharusnya menyadari bahwa pendukung utama Israel adalah Amerika Serikat. Karena itu, penulis menyerukan agar umat Islam tidak menjalin hubungan dengannya. Amerika Serikat dinilai memberikan dukungan politik, militer, dan finansial terhadap Israel sehingga memperkuat agresi tersebut.
Akibatnya, kondisi Gaza semakin memprihatinkan. Korban jiwa terus bertambah, rumah-rumah hancur, fasilitas kesehatan lumpuh, dan ribuan anak kehilangan orang tua mereka. Banyak pula warga yang mengalami luka berat dan amputasi akibat serangan yang terus berlangsung.
Palestina dan Persatuan Umat
Kondisi Palestina hari ini menjadi duka bagi umat Islam di seluruh dunia. Namun, tidak cukup hanya berhenti pada rasa prihatin. Dibutuhkan aksi nyata, yakni mewujudkan persatuan umat Islam dalam wadah sistem Islam.
Menurut penulis, hanya dengan cara inilah pembebasan Palestina dan negeri-negeri Muslim lainnya dapat terwujud. Di bawah panji Islam, persatuan umat Islam di seluruh dunia diyakini akan menjadi kekuatan besar yang mampu melawan hegemoni Amerika Serikat dan Israel, sebagaimana para pemimpin Islam terdahulu yang mampu menumbangkan kekuasaan Persia, Yahudi, dan lainnya.
Bukan hanya sebuah negeri, bahkan kehormatan satu orang pun diperjuangkan dan dibela dalam Islam. Salah satu kisah yang sering dikenang adalah tentang Khalifah Al-Mu’tashim Billah yang membawa pasukan besar demi membela kehormatan seorang perempuan Muslim yang diganggu oleh seorang Yahudi.
Kisah ini menjadi simbol bagaimana pemimpin kaum muslimin pada masa itu menunjukkan kekuatan, wibawa, persatuan, dan pembelaan terhadap umatnya.
Demikianlah kondisi umat Islam ketika memiliki seorang pemimpin secara politik dan spiritual. Kehormatan dan kemuliaan umat Islam akan terjaga. Karena itu, penulis menilai sudah saatnya umat Islam hari ini berjibaku untuk mewujudkan tegaknya sistem tersebut.
Wallahu a‘lam bishshawab. [US/AA]
Baca juga:
0 Comments: