Headlines
Loading...
Dehumanisasi Muslim Palestina oleh Zionis dan Amerika

Dehumanisasi Muslim Palestina oleh Zionis dan Amerika

Oleh: Dhevi Firdausi, S.T.
(Kontributor SSCQ Media)

SSCQmedia.com—Kondisi rakyat Palestina semakin memprihatinkan. Mereka mengalami dehumanisasi. Korbannya tidak hanya menimpa orang dewasa, tetapi juga anak-anak.

Dehumanisasi tidak hanya dialami oleh manusia yang masih hidup. Bahkan, jenazah orang yang telah meninggal pun tidak diperbolehkan dimakamkan di tanahnya sendiri (detikcom, 15 Mei 2026).

Awalnya, tidak terdapat nama negara Israel di peta dunia. Namun, Zionis berhasil menguasai wilayah Palestina. Bahkan, mereka terus menyiapkan strategi serangan baru untuk memperluas wilayah pendudukan.

Tidak hanya bagi penduduk sipil, Gaza juga menjadi tempat paling mematikan bagi para jurnalis. Padahal, secara hukum internasional, membunuh jurnalis tidak diperbolehkan. Namun, sejak Oktober 2023, lebih dari 300 jurnalis di Gaza telah terbunuh.

Zionis diduga kuat telah menggunakan senjata termobarik untuk membombardir rakyat Palestina. Senjata tersebut memiliki suhu di atas 3.500 derajat Celsius. Kekuatannya mampu membuat tulang manusia berubah menjadi uap dan menghilang tanpa jejak.

Tercatat, jumlah korban di Gaza mencapai sekitar 72 ribu orang meninggal dunia dan lebih dari 172 ribu orang lainnya mengalami luka-luka.

Anak-anak yang tidak berdosa juga turut menjadi korban serangan Zionis. Ratusan anak Palestina terpaksa harus diamputasi bagian tubuhnya. Penjajahan Israel tersebut telah menghancurkan masa depan generasi muda Gaza.

Nasionalisme, Sekat Penghalang Jihad

Sudah menjadi rahasia umum bahwa Amerika memberikan dukungan penuh terhadap serangan Zionis, baik secara politik, militer, maupun keuangan. Dukungan tersebut membuat entitas Yahudi berani melanggar kesepakatan gencatan senjata dan terus menyerang Gaza. Selain itu, Israel juga membunuh para jurnalis untuk membungkam pemberitaan mengenai kejahatan mereka.

Berdasarkan hadis riwayat Imam Bukhari, umat Islam diibaratkan sebagai satu tubuh. Jika satu bagian merasakan sakit, maka seluruh tubuh akan turut merasakannya. Demikian pula persaudaraan kita dengan umat muslim Palestina. Kita tidak boleh tinggal diam atas pendudukan Zionis di Gaza.

Ukhuwah Islamiah yang kekuatan ikatannya diibaratkan seperti satu tubuh kini telah tercabik-cabik. Negeri-negeri muslim terpecah menjadi lebih dari 50 negara dengan belenggu nasionalisme. Belenggu tersebut mengakibatkan para penguasa muslim tidak tergerak untuk mengirim pasukan jihad demi membebaskan Palestina.

Khilafah, Pembebas Palestina

Sekat nasionalisme harus dihapuskan karena dianggap bertentangan dengan ajaran Islam. Umat muslim diwajibkan bersatu di bawah naungan Daulah Khilafah. Khilafah inilah yang diyakini akan mewujudkan persatuan umat muslim di seluruh dunia serta mengirim pasukan jihad untuk membebaskan Palestina.

Daulah Khilafah dipandang berfungsi sebagai junnah yang melindungi Palestina dari penjajahan Zionis. Seorang khalifah diyakini akan menghentikan genosida dan mengembalikan tanah Palestina kepada pemiliknya. Khilafah juga dianggap mampu meriayah warga Palestina sehingga mereka dapat hidup mulia dan sejahtera.

Tegaknya Khilafah dipandang sebagai kebutuhan yang sangat penting dan mendesak. Umat Islam dinilai wajib berjuang bersama untuk menegakkan kembali Daulah Khilafah. Khalifah diyakini akan mengerahkan militer di seluruh dunia Islam untuk berjihad membebaskan Palestina dan menghapuskan Zionis Yahudi dari muka bumi. [US/Des]

Baca juga:

0 Comments: