Oleh: Erna Kartika Dewi
(Kontributor SSCQ Media)
SSCQmedia.com—Entah kenapa, setiap kali bulan Zulhijah datang, hati ini selalu berubah menjadi lebih sensitif. Rasanya berbeda. Bahkan udara pun seperti membawa sesuatu yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.
Di televisi mulai muncul siaran keberangkatan jemaah haji. Di media sosial, orang-orang membagikan foto Ka'bah, Masjidilharam, dan Masjid Nabawi, juga lautan manusia berpakaian ihram berwarna putih.
Anehnya, walaupun pemandangan itu muncul setiap tahun, tetap saja hati ini bergetar seperti pertama kali melihatnya.
Kadang aku hanya diam memandangi layar gawai. Melihat orang-orang berjalan pelan di pelataran Masjidilharam dan di depan Ka'bah. Ada yang menangis, ada yang berdoa sambil mengangkat tangan, ada pula yang memeluk sesama jemaah dengan wajah penuh haru.
Saat melihat semua itu, hati kecil ini selalu bertanya pelan, “Ya Allah, kapan aku bisa ada di sana?”
Aku tahu, pergi haji bukan perkara sederhana. Bukan hanya soal niat, tetapi juga kemampuan, kesehatan, waktu, dan rezeki. Namun, manusia boleh berharap, bukan?
Jujur, setiap mendengar suara talbiyah, rasanya hati ini seperti dipanggil dari jauh.
Labbaik...
Allahumma labbaik....
Aku bahkan sering memutarnya berulang-ulang dari gawainya ketika sedang sendirian. Entah kenapa, suara itu terasa menenangkan sekaligus menyayat hati.
Ada rasa rindu yang muncul, padahal belum pernah sekalipun menginjakkan kaki ke Tanah Suci. Aneh, ya?
Bagaimana mungkin seseorang bisa merindukan tempat yang bahkan belum pernah didatangi sama sekali? Namun, mungkin begitulah Allah menaruh rasa cinta kepada Baitullah di hati hamba-Nya.
Kadang aku membayangkan bagaimana rasanya pertama kali melihat Ka'bah secara langsung. Bukan lewat foto di status orang, bukan lewat video, tetapi benar-benar berdiri di hadapannya. Menyaksikannya dengan mata sendiri. Dengan kaki sendiri yang melangkah mendekat. Dengan air mata yang mungkin tak bisa dibendung lagi.
Katanya, banyak orang menangis bahkan sebelum sempat berdoa apa pun. Terlalu takjub, terlalu haru, terlalu merasa kecil di hadapan Allah. Dan aku sepertinya juga akan begitu.
Mungkin aku akan menangis lama sekali. Mengingat semua dosa yang pernah dilakukan, semua doa yang belum terkabul, dan semua lelah yang selama ini disimpan sendiri. Rasanya ingin duduk lama di depan Ka'bah lalu berkata,
“Ya Allah, akhirnya aku sampai juga.”
Aku sering membayangkan berjalan bersama suami dan orang-orang tercinta di antara jemaah lain sambil memakai pakaian putih, mengucapkan talbiyah bersama-sama.
Labbaik...
Allahumma labbaik....
Kalimat yang sederhana, tetapi begitu dalam maknanya.
“Aku datang memenuhi panggilan-Mu, ya Allah....”
Masyaallah, hanya dengan membayangkannya saja, kadang mata ini sudah berkaca-kaca. Mungkin karena di dalam hati ada satu keinginan yang belum pernah benar-benar hilang, yaitu keinginan untuk menjadi tamu Allah.
“Aku ingin menginjakkan kaki di Tanah Haram-Mu, ya Allah.”
“Setidaknya dalam hidup ini, tolong berikan aku kesempatan agar bisa datang ke sana, meskipun hanya satu kali.”
Walaupun hari ini rasanya masih jauh, masih seperti mimpi, bukankah Allah Maha Membolak-balikkan keadaan?
Dulu mungkin ada orang yang juga berpikir dirinya tidak mungkin sampai ke sana. Namun ternyata, Allah memanggilnya dengan cara yang tidak disangka-sangka.
Aku percaya, jika Allah sudah berkata,
“Datanglah, wahai hamba-Ku!”
Maka, sejauh apa pun jaraknya, serumit apa pun jalannya, semuanya akan dimudahkan. Karena yang memanggil adalah Allah sendiri.
Kadang setelah salat, doa itu diam-diam selalu terselip.
“Ya Allah, kalau memang belum sekarang, jangan hilangkan keinginan ini dari hatiku. Jagalah rasa rinduku kepada Baitullah. Mampukan aku, pantaskan aku, dan undang aku menjadi tamu-Mu.”
Aku sadar, mungkin diri ini masih penuh kekurangan. Ibadah masih berantakan. Hati juga masih sering lalai. Namun justru itulah mungkin salah satu alasan mengapa aku ingin datang ke sana.
Aku ingin pulang dengan hati yang lebih bersih. Aku ingin sujud lebih lama di depan Ka'bah. Aku ingin menangis sepuasnya di depan Ka'bah. Aku ingin merasakan nikmatnya beribadah di Raudhah. Ingin merasakan wukuf di Arafah, mabit di Muzdalifah dan Mina, melempar jumrah, tawaf mengelilingi Ka'bah, serta sa'i antara Bukit Safa dan Marwah.
Masyaallah, indah sekali rasanya ketika membayangkan semua itu.
Aku ingin menyebut nama-nama orang yang kusayang dalam doa-doaku di tanah yang mustajab. Aku ingin meminta ampun sebanyak-banyaknya. Diam-diam, aku juga ingin pulang sebagai pribadi yang baru.
Bulan Zulhijah memang selalu berhasil membuat hati ini sibuk berbicara dengan Allah. Tentang harapan yang belum tercapai, tentang doa yang masih disimpan rapat-rapat, dan tentang kerinduan yang tidak semua orang mengerti.
Sebab ternyata, rindu kepada Tanah Suci itu nyata. Rindu itu bisa hadir tiba-tiba hanya karena mendengar talbiyah. Rindu itu bisa membuat dada sesak hanya karena melihat Ka'bah di layar kaca. Bahkan, rindu itu bisa membuat seseorang berdoa diam-diam di tengah malam,
“Ya Allah, jangan biarkan hidupku berlalu sebelum sempat menjadi tamu-Mu.”
Untuk saat ini, mungkin semua itu masih terlihat seperti mimpi. Namun, bukankah banyak hal besar memang berawal dari sebuah harapan?
Maka, biarlah hati ini terus berharap. Biarlah doa-doa itu terus dilangitkan kepada Allah. Sampai nanti, entah kapan, Allah benar-benar memanggil.
Saat hari itu tiba, semoga aku termasuk orang yang bisa menjawab panggilan itu dengan air mata kebahagiaan.
Aamiin ya Rabbal ‘alamin. [US/Des]
Baca juga:
0 Comments: