Oleh: Isnawati
(Muslimah Penulis Peradaban)
SSCQmedia.com—Belakangan ini media sosial dipenuhi percakapan soal cushion, contour, blush on, lip liner, hingga lip gloss. Sekilas mungkin tampak biasa saja, bahkan dianggap hiburan ringan bagi sebagian orang. Namun, bagi penulis secara pribadi, fenomena itu justru memperlihatkan bagaimana standar cantik hari ini dibuat begitu rumit. Wajah dibuat tampak rata, lalu diberi bayangan agar terlihat berdimensi. Pipi disamarkan, kemudian ditegaskan kembali. Bibir dibuat pucat, lalu dilapisi warna agar terlihat lebih penuh. Semua berubah-ubah, saling bertolak belakang, tetapi tetap disebut sebagai bagian dari kecantikan modern.
Dari situ penulis melihat satu hal: perempuan sedang diarahkan masuk ke dalam lingkaran yang tidak ada ujungnya. Hari ini ada standar tertentu, besok muncul lagi standar baru. Tidak pernah selesai. Yang tadinya dianggap cantik bisa tiba-tiba dianggap kurang menarik hanya karena tren berubah.
Menurut penulis, persoalan ini bukan sekadar tentang riasan atau gaya berhias. Ada cara berpikir yang sedang dibentuk pelan-pelan. Sistem kapitalisme membuat perempuan terus merasa ada yang kurang pada dirinya. Sebab, jika perempuan merasa cukup, industri kecantikan tidak akan berkembang sebesar sekarang. Karena itulah rasa tidak puas terus dipelihara.
Hari ini kulit harus putih dan glowing. Besok harus terlihat glass skin. Lalu muncul lagi tren wajah tirus, hidung mancung, bibir penuh, dan berbagai standar lain yang terus berganti. Perempuan akhirnya sibuk mengejar ukuran cantik yang tidak pernah tetap. Banyak orang membeli produk bukan lagi karena kebutuhan, tetapi karena takut dianggap tertinggal.
Di sinilah kapitalisme bekerja. Semua dijadikan pasar, termasuk tubuh perempuan. Tren dibuat silih berganti agar masyarakat terus membeli. Selama barang laku dan keuntungan terus berjalan, keresahan perempuan justru dianggap peluang bisnis yang menguntungkan.
Perempuan Dijadikan Komoditas
Yang memprihatinkan, banyak perempuan akhirnya menghabiskan tenaga, waktu, bahkan pikirannya demi mengejar pengakuan manusia. Berjam-jam berdiri di depan cermin, sibuk memperbaiki penampilan, tetapi perlahan lupa menjaga kemuliaan dirinya sendiri. Padahal penilaian manusia tidak pernah ada habisnya. Setelah satu standar tercapai, akan muncul lagi standar baru yang lebih melelahkan.
Penulis melihat perempuan hari ini seperti terus ditekan agar merasa tidak percaya diri dengan wajah alaminya. Kulit sawo matang dianggap kurang cantik. Bentuk wajah harus mengikuti tren. Bahkan warna kulit dan bentuk tubuh pun seolah wajib disesuaikan dengan selera pasar. Akibatnya, banyak perempuan merasa dirinya kurang hanya karena tidak sesuai standar yang sedang populer.
Tubuh perempuan akhirnya dijadikan alat untuk mendatangkan keuntungan. Wajah perempuan dipakai untuk menjual produk, menarik perhatian, bahkan meningkatkan nilai bisnis. Tanpa disadari, perempuan diposisikan sebagai komoditas pasar. Nilainya sering diukur dari penampilan fisik, bukan dari akhlak maupun kepribadiannya.
Penulis juga memandang keadaan ini perlahan memengaruhi hubungan antara laki-laki dan perempuan. Penampilan fisik semakin dijadikan pusat perhatian, sementara akhlak dan ketakwaan justru makin tersisih. Perempuan berlomba tampil menarik di ruang publik, sedangkan laki-laki terbiasa menilai perempuan dari fisiknya. Akhirnya, budaya pamer penampilan, haus pujian, dan pencitraan semakin dianggap biasa.
Padahal Islam memandang perempuan jauh lebih mulia daripada sekadar objek kecantikan. Islam tidak melarang perempuan berhias ataupun merawat diri. Islam justru mengajarkan kebersihan, kerapian, dan keindahan, namun semua itu tetap memiliki batas agar tidak berubah menjadi sarana maksiat atau alat eksploitasi pasar.
Islam Menjaga Kehormatan Perempuan
Cara pandang Islam terhadap perempuan jauh lebih menenangkan. Islam tidak membebani perempuan dengan standar palsu yang terus berubah. Islam juga tidak menjadikan perempuan sibuk mengejar pengakuan publik. Dalam Islam, kecantikan adalah nikmat dari Allah yang patut disyukuri, bukan dipamerkan demi mendapatkan pujian manusia.
Perempuan boleh mempercantik diri selama sesuai syariat. Bahannya halal, aman, dan tidak membahayakan tubuh. Tujuannya pun benar, bukan untuk menarik perhatian laki-laki asing. Kecantikan perempuan semestinya dijaga dengan kehormatan, bukan diumbar demi popularitas atau validasi sosial.
Penulis melihat Islam sebenarnya telah memberikan tuntunan lengkap untuk menjaga kesehatan dan kecantikan manusia secara alami. Islam mengatur pola makan, pola tidur, hingga aktivitas fisik. Rasulullah saw. mengajarkan agar makan sebelum lapar dan berhenti sebelum kenyang. Islam juga mendorong aktivitas yang menyehatkan tubuh seperti berjalan, berkuda, dan memanah. Semua itu menunjukkan bahwa Islam menjaga manusia dengan cara yang seimbang dan bermartabat.
Berbeda dengan kapitalisme yang membuat manusia sibuk mengejar penampilan luar, Islam membangun keseimbangan antara fisik, akhlak, dan ketakwaan. Sebab, kecantikan fisik saja tidak akan menghadirkan ketenangan hidup. Banyak orang terlihat menarik di luar, tetapi batinnya justru penuh tekanan karena terus mengejar penilaian manusia.
Karena itu, penulis meyakini persoalan ini tidak cukup diselesaikan hanya dengan nasihat pribadi. Akar masalahnya ada pada sistem kehidupan yang rusak. Selama kapitalisme masih mendominasi kehidupan manusia, perempuan akan terus dijadikan pasar dan sasaran eksploitasi. Industri kecantikan akan terus memproduksi rasa kurang demi keuntungan materi.
Solusi yang hakiki adalah kembali kepada aturan Allah secara menyeluruh. Laki-laki dan perempuan harus memahami bahwa kemuliaan manusia tidak ditentukan oleh wajah ataupun penampilan, melainkan oleh ketakwaannya. Perempuan wajib menjaga kehormatan dirinya, sedangkan laki-laki wajib menjaga pandangannya.
Penulis meyakini syariah Islam dan khilafah mampu menjaga kemuliaan manusia secara nyata. Media tidak akan dibiarkan bebas merusak cara berpikir masyarakat. Industri juga tidak akan leluasa menjadikan perempuan sebagai komoditas bisnis. Negara akan menjaga pendidikan, pergaulan, moral, dan kehidupan sosial sesuai aturan Allah.
Ketika syariah diterapkan secara kafah, perempuan tidak lagi dipaksa mengejar standar cantik buatan pasar. Mereka akan dihormati karena iman dan kemuliaannya, bukan karena pencitraan fisiknya. Saat itulah manusia benar-benar terbebas dari standar palsu yang lahir dari sistem kapitalisme. Wallahualam bissawab. [ry/Iwp]
Baca juga:
0 Comments: