Headlines
Loading...

Oleh: Ismayanti
(Anggota Sahabat Surga Cinta Qur’an)

SSCQmedia.com—

Di keheningan malam yang sunyi,
angin berembus di padang pasir nan tandus.
Berdirilah seorang hamba
dengan keteguhan dan keyakinan
kepada Sang Penguasa alam semesta.

Dialah Nabi Ibrahim,
kekasih Allah
yang hatinya dipenuhi cahaya iman.

Ia menatap rembulan dengan penuh renungan,
memandang mentari dengan lirih dan sedih
melihat umat yang tersesat dalam penyembahan.

Dalam doa yang menggetarkan langit,
ia bermunajat,

“Ya Allah, ya Rabb…
bukakan mata hati umat-Mu.
Mereka mengagungkan matahari, bulan, bintang,
bahkan batu dan patung-patung bisu.
Hati ini terasa sesak
melihat mereka berpaling
dari Sang Pencipta alam semesta.”

Dengan kelembutan dan keyakinan,
ia menyeru ayahnya
menuju jalan kebenaran.

Namun dunia sering menolak cahaya.
Jalan dakwah tak selalu mudah.
Ada kerikil tajam yang harus dilalui,
ada luka dan ujian
yang mengguncang jiwa.

Mereka ingin memadamkan cahaya tauhid.
Mereka membakar Nabi Ibrahim
dengan api yang menyala besar dan membara.

Namun Allah berfirman kepada api:
jadilah dingin dan menyelamatkan.

Maka keluarlah Ibrahim
dari kobaran yang mengerikan,
dalam lindungan kasih sayang Rabb semesta alam.

Lalu hadir Siti Sarah,
wanita mulia yang sabar dan setia.
Lisannya tak henti berdoa,
hatinya penuh harap
dalam penantian panjang yang sunyi.

Hadir pula Siti Hajar,
wanita tangguh di tengah kerasnya gurun.
Dari rahimnya lahirlah
seorang anak saleh
yang kelak menjadi cahaya umat.

Dialah Nabi Ismail kecil,
yang tumbuh dalam pelukan iman.

Tangisnya menggema di lembah tandus,
menahan haus di tengah ujian.

Namun Allah Yang Maha Mendengar
menghadirkan kasih-Nya.

Muncullah air zamzam
yang memancar dari bumi,
mengalir menjadi rahmat
hingga akhir zaman.

Betapa indah keluarga penuh iman itu.
Mereka membangun kehidupan
bukan dengan kemewahan dunia,
melainkan dengan sabar, doa,
dan pengorbanan.

Ketika Ismail beranjak remaja,
datang ujian yang mengguncang hati manusia.

Allah memerintahkan Ibrahim
untuk menyembelih putra tercintanya.

Namun cinta mereka kepada Allah
lebih besar daripada cinta kepada dunia.

Dengan tenang sang anak berkata,

“Wahai Ayahku,
lakukanlah apa yang diperintahkan Tuhanmu.”

Langit pun seakan terdiam
menyaksikan keikhlasan mereka.
Bumi tunduk pada ketakwaan.

Lalu Allah mengganti pengorbanan itu
dengan sembelihan yang agung.

Keluarga itu mengajarkan kepada manusia
bahwa iman adalah cahaya kehidupan.
Bahwa rumah yang dipenuhi zikir
akan menghadirkan ketenangan,
laksana taman surga
yang meneduhkan jiwa.

Mereka membangun Ka’bah bersama,
dengan tangan penuh ketulusan.
Batu demi batu disusun dalam doa,
agar manusia mengenal
Tuhan Yang Maha Esa.

Wahai kekasih Allah,
ajarkan kami arti pengorbanan,
ajarkan kami makna keikhlasan,
agar keluarga kami pun
dipenuhi cahaya keimanan.

Keteladanan imanmu
tak lekang oleh zaman.
Keteguhan dalam doa-doamu
tak pernah goyah.
Setiap jejak langkahmu
adalah keberkahan.

Semoga kelak
kita dipertemukan
di surga Allah Yang Maha Pengasih.

Aamiin ya Rabbal ‘alamin.

Pamekasan, 14 Mei 2026

Baca juga:

0 Comments: