Headlines
Loading...
Bagian 3: Arkan dan Ujian Kesabaran di Bandara

Bagian 3: Arkan dan Ujian Kesabaran di Bandara

Oleh: Mom NaKiTa
(Kontributor SSCQ Media)

SSCQmedia.com—Matahari mulai mengintip dari balik kaca besar terminal bandara, menandakan fajar telah tiba. Setelah belasan jam terjebak dalam ketidakpastian, akhirnya suara pengeras suara mengumumkan bahwa pesawat lanjutan Arkan siap diberangkatkan. Sorak syukur terdengar lirih dari berbagai sudut ruang tunggu. Wajah-wajah yang sebelumnya kusam karena lelah mendadak kembali cerah.

Arkan berdiri sambil merapikan ransel hitamnya yang telah menemaninya duduk di lantai semalaman. Ketika sebagian jemaah bergegas menuju gerbang keberangkatan agar bisa masuk lebih dulu, Arkan justru melangkah dengan tenang. Ia tidak ingin merusak ketenangan hati yang telah susah payah ia bangun hanya karena saling berdesakan di pintu masuk.

Sambil mengantre dengan tertib, Arkan kembali membuka catatan kecil di mushafnya. Matanya tertuju pada Surah Ar-Ra’d ayat 24 (Juz 13), ayat yang berisi sambutan para malaikat kepada penghuni surga:

“سَلَامٌ عَلَيْكُمْ بِمَا صَبَرْتُمْ ۚ فَنِعْمَ عُقْبَى الدَّارِ”

“(Sambil mengucapkan), ‘Selamat sejahtera atasmu berkat kesabaranmu.’ Maka alangkah nikmatnya tempat kesudahan itu.”

Arkan tersenyum lebar membaca ayat tersebut. Ia merasa seolah ayat dalam Juz 13 itu menjadi “ucapan selamat” dari langit karena dirinya telah berhasil melewati ujian di bandara. Saat itu ia memahami bahwa hasil yang indah—sampai ke Tanah Suci—hanya bisa dinikmati sepenuhnya jika diraih melalui jalan kesabaran. Tanpa kesabaran, perjalanan ini mungkin hanya akan meninggalkan rasa lelah dan kesal.

“Ternyata benar,” batin Arkan. “Kesabaran itu bukan cuma soal menunggu waktu berlalu, tapi soal menjaga hati supaya nggak pecah sebelum sampai tujuan.”

Ketika melangkah memasuki garbarata menuju pesawat, Arkan merasakan embusan angin sejuk menyentuh wajahnya. Ia sempat menoleh ke belakang, memandangi ruang tunggu yang telah menjadi “medan juangnya” selama belasan jam. Tempat itu mengajarkannya lebih banyak tentang kemanusiaan dan pengendalian diri dibandingkan pelajaran apa pun yang pernah ia dapatkan di sekolah.

Di dalam kabin pesawat, Arkan duduk dengan perasaan yang jauh lebih tenang. Ia melihat jemaah lansia yang tadi ia bantu kini duduk nyaman sambil mengacungkan jempol kepadanya. Arkan tersenyum bahagia. Kini ia memahami bahwa “tempat kesudahan yang nikmat” seperti yang disebutkan dalam ayat tadi bukan hanya tentang surga di akhirat, tetapi juga ketenangan hati setelah berhasil mengalahkan ego diri sendiri.

Pesawat mulai bergerak mundur, bersiap lepas landas. Arkan memejamkan mata sejenak sambil membisikkan rasa syukur. Ujian di bandara telah usai, dan ia berhasil membuktikan bahwa meskipun masih remaja, ia mampu memikul gelar tamu Allah dengan kepala tegak dan hati yang lapang.

“Bismillah, Makkah… Arkan datang,” bisiknya mantap.

Tamat. [My/Ekd]

Baca juga:

0 Comments: