Headlines
Loading...
Bagian 2: Arkan dan Ujian Kesabaran di Bandara

Bagian 2: Arkan dan Ujian Kesabaran di Bandara

Oleh: Mom NaKiTa
(Kontributor SSCQ Media)

SSCQmedia.com—Sepuluh jam berlalu. Ruang tunggu bandara yang tadinya hanya ramai kini terasa seperti medan perjuangan. Aroma minyak kayu putih bercampur bau kopi instan memenuhi udara. Beberapa jemaah mulai merebahkan diri di lantai dengan beralaskan tas seadanya. Arkan sendiri mulai merasakan pegal luar biasa di pinggangnya. Matanya memerah karena kurang tidur, sementara perutnya keroncongan sebab jatah makanan tambahan belum juga dibagikan.

Ujian kesabaran ini benar-benar menguliti lapisan ego Arkan. Ia melihat beberapa orang mulai emosional dan saling menyalahkan hanya karena hal-hal sepele, seperti memperebutkan tempat duduk atau colokan listrik untuk mengisi daya ponsel. Arkan pun sempat merasa down. Ia merasa perjalanan yang seharusnya suci justru menjadi berantakan karena persoalan teknis semacam ini.

Di tengah batinnya yang mulai bergejolak, Arkan kembali membuka mushafnya. Ia sampai pada Surah Hud ayat 115 (Juz 12). Ayat itu terasa seperti tamparan lembut yang menyadarkannya dari keluhan.

“وَاصْبِرْ فَإِنَّ اللَّهَ لَا يُضِيعُ أَجْرَ الْمُحْسِنِينَ”

“Dan bersabarlah, karena sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat kebaikan.”

Arkan terdiam lama menatap ayat tersebut.

“Allah nggak akan menyia-nyiakan pahala orang yang berbuat baik,” ulangnya dalam hati.

Saat itu ia tersadar bahwa setiap menit ketika ia menahan diri untuk tidak marah, setiap kali ia memberikan tempat duduk kepada orang tua, dan setiap bantuan kecil yang ia lakukan untuk jemaah lain sedang dicatat sebagai pahala besar di sisi Allah.

Mungkin saja, pahala hajinya justru sedang “dicicil” di bandara ini, bukan nanti saat berada di Makkah. Arkan memahami bahwa menjadi muhsinin—orang yang berbuat baik—dalam keadaan nyaman memang mudah. Namun, tetap berbuat baik ketika diri sedang lelah, lapar, dan emosional adalah ujian yang sesungguhnya.

Arkan kemudian berdiri. Pandangannya tertuju pada seorang petugas bandara yang tampak kewalahan menghadapi ribuan jemaah yang terus memprotes. Bukannya ikut mendesak, Arkan justru mendekat sambil memberikan senyum tulus.

“Semangat ya, Mas. Terima kasih sudah bantu kami,” ucap Arkan singkat.

Petugas itu tampak terkejut, lalu membalas senyum Arkan dengan hangat.

“Terima kasih, Dek. Kamu sabar sekali.”

Arkan kembali ke tempat duduknya dengan perasaan jauh lebih ringan. Ia menyadari bahwa kesabaran adalah bentuk investasi yang tidak akan pernah merugi. Jika Allah sudah menjanjikan bahwa pahala orang-orang yang berbuat baik tidak akan disia-siakan, maka tidak ada alasan baginya merasa rugi hanya karena kehilangan waktu dan kenyamanan.

Ransel hitam itu kembali ia peluk. Di dalamnya, lembaran-lembaran doa seolah ikut menguatkannya. Arkan pun bertekad, selama masih berada di bandara ini, ia akan terus berburu “pahala orang baik” yang dijanjikan dalam Juz 12 tersebut.

Kini, penundaan itu tidak lagi ia anggap sebagai hambatan, melainkan kesempatan emas untuk mengumpulkan bekal sebelum benar-benar menapakkan kaki di tanah suci.

Bersambung [My/Ekd]

Baca juga:

0 Comments: