Headlines
Loading...
Bagian 1: Arkan dan Ujian Kesabaran di Bandara

Bagian 1: Arkan dan Ujian Kesabaran di Bandara

Oleh: Mom NaKiTa
(Kontributor SSCQ Media)

SSCQmedia.com—Begitu mendarat di bandara transit, bayangan Arkan tentang proses yang cepat langsung buyar. Suasana terminal sangat kacau. Ribuan jemaah dari berbagai belahan dunia menumpuk di satu titik akibat kendala teknis pada sistem imigrasi dan jadwal penerbangan lanjutan. Udara di ruang tunggu terasa pengap, sedangkan kursi-kursi besi sudah penuh diduduki para jemaah lansia yang tampak sangat kelelahan.

Arkan berdiri di pojok ruangan sambil menyandarkan punggungnya pada pilar beton. Keringat mulai membasahi dahinya. Rasa lapar dan kantuk menyerang, menciptakan emosi yang mudah tersulut. Ia melihat beberapa remaja seusianya dari rombongan lain mulai mengeluh keras, bahkan ada yang memprotes petugas bandara dengan nada tinggi.

“Lama banget sih. Bisa-bisa energi kita habis di sini sebelum sampai Makkah!” keluh salah seorang dari mereka.

Arkan hampir saja terpancing untuk ikut menggerutu. Namun, ia teringat bahwa dirinya sedang dalam perjalanan memenuhi undangan Allah. Ia menarik napas dalam-dalam, lalu membuka aplikasi Al-Qur’an di ponselnya. Matanya tertuju pada Surah Yunus ayat 107 (Juz 11):

“وَإِنْ يَمْسَسْكَ اللَّهُ بِضُرٍّ فَلَا كَاشِفَ لَهُ إِلَّا هُوَ ۖ وَإِنْ يُرِدْكَ بِخَيْرٍ فَلَا رَادَّ لِفَضْلِهِ...”

“Dan jika Allah menimpakan suatu kesulitan kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya selain Dia. Dan jika Allah menghendaki kebaikan bagimu, maka tidak ada yang dapat menolak karunia-Nya....”

Ayat dalam Juz 11 itu seolah menjadi air sejuk yang menyiram kepalanya yang panas. Arkan tersadar, keterlambatan ini bukan semata kesalahan petugas atau nasib buruk. Semua adalah bagian dari skenario Allah. Jika Allah sedang memberi ujian berupa waktu tunggu yang panjang, maka hanya Allah pula yang mampu memudahkannya.

Arkan pun merenung, “Kalau Allah ingin memberikan haji mabrur buat gue, delay berjam-jam ini pun nggak akan bisa menghalangi karunia-Nya.”

Ia lalu menyimpan ponselnya. Posisi tubuhnya berubah, dari bersandar malas menjadi berdiri tegak. Pandangannya tertuju pada seorang nenek yang tampak kebingungan mencari arah toilet. Tanpa ragu, Arkan segera mendekat.

“Nenek mau ke kamar mandi? Mari Arkan antar, Nek. Jalannya agak ramai di depan,” ucapnya dengan tenang dan sopan.

Beberapa ibu yang berada di sekitar sang nenek menoleh dan memberikan tatapan kagum kepada Arkan. Di saat sebagian remaja sibuk dengan kegelisahan mereka sendiri, Arkan justru memilih menjadi solusi.

Saat itulah Arkan menyadari bahwa ujian kesabaran di bandara ini hanyalah “pemanasan” yang sesungguhnya. Ia belajar bahwa sabar bukan berarti pasif menunggu, melainkan tetap aktif menebar kebaikan meski keadaan sedang tidak nyaman.

Sambil menuntun sang nenek, Arkan tersenyum tipis. Ia merasa jauh lebih tenang. Kesulitan yang tadi terasa berat mendadak menjadi ringan karena ia yakin ada kebaikan yang sedang Allah siapkan di balik rasa lelah itu. Ia tidak ingin menjadi orang yang kehilangan kesempatan meraih karunia Allah hanya karena gagal bersabar menghadapi antrean. 

Bersambung. [My/Ekd]

Baca juga:

0 Comments: