Headlines
Loading...

Oleh: Ni’mah Fadeli
(Kontributor SSCQ Media)

SSCQmedia.com—Alhamdulillah, setelah Ramadan, Idulfitri pun telah kita rayakan. Ada momen salat Id bersama keluarga yang ditunggu setiap tahun. Ada pula momen bermaaf-maafan disertai saling mengunjungi kerabat dengan penuh kegembiraan. Tidak lupa aneka hidangan Lebaran yang tersedia di hampir setiap rumah. Semua itu merupakan nikmat Allah Swt. yang kita nantikan ketika hari raya tiba.

Namun, kondisi berbeda dialami saudara kita di Gaza, Palestina. Sebagai Muslim, mereka juga menjalankan ibadah Ramadan dan merayakan Idulfitri, tetapi dalam keadaan yang jauh dari kata layak. Menahan lapar dan haus mereka alami hampir setiap hari akibat keterbatasan logistik. Momen sahur, berbuka puasa, dan salat tarawih tidak senyaman Muslim di belahan dunia lainnya.

Nestapa di Gaza

Hari raya bagi Muslim di Gaza tentu sangat berbeda. Takbir berkumandang di antara reruntuhan bangunan. Suasana ceria hari raya tergantikan oleh duka dan kesedihan. Tidak ada persiapan hidangan Lebaran. Memiliki air bersih dan sepotong roti untuk dinikmati bersama keluarga yang tersisa saja sudah menjadi nikmat yang sangat disyukuri.

Keluarga di Gaza hidup dalam kemiskinan yang sangat parah. Momen Idulfitri yang dahulu ditunggu anak-anak untuk membeli mainan baru kini hanya tinggal kenangan. Yazan Abh Shahab, salah satu anak laki-laki di Gaza, bersama saudara perempuannya hanya mampu bermain dengan kotak plastik kosong yang mereka temukan di antara reruntuhan bangunan. Ayah Yazan telah kehilangan pekerjaan, sementara bantuan yang datang hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan makan seadanya. Memiliki baju dan mainan baru pada Idulfitri menjadi angan-angan bagi anak-anak seperti Yazan.

Direktur Jaringan LSM, Ahmad Al-Shawa, menyatakan bahwa Idulfitri kali ini menjadi hari raya terberat bagi anak-anak Gaza. Mereka hanya bisa mengenang tanpa mampu mengulang momen Idulfitri yang pernah dirasakan sebelumnya. Hancurnya infrastruktur, lumpuhnya ekonomi, hilangnya sekolah dan taman, serta wafatnya anggota keluarga, kerabat, dan teman membuat anak-anak kehilangan senyum di hari raya (Minanews.net, 29 Maret 2026).

Kondisi hari raya di Gaza semakin berat karena dunia seolah melupakan mereka. Konflik global yang melibatkan berbagai negara menunjukkan bahwa kepentingan politik dan kekuasaan lebih diutamakan daripada perdamaian. Setiap negara tampak lebih fokus pada upaya memperluas pengaruhnya di dunia.

Rasa kemanusiaan dan persaudaraan sesama Muslim pun tergeser oleh kepentingan duniawi. Kapitalisme dinilai telah membutakan nurani sehingga orientasi hidup lebih berfokus pada materi.

Tegas terhadap Kafir

"Perumpamaan orang-orang mukmin dalam kasih sayang dan kecintaan mereka adalah seperti satu tubuh; apabila salah satu anggotanya sakit, maka seluruh tubuh ikut merasakan sakit hingga mengalami demam dan tidak dapat tidur."
(HR Bukhari dan Muslim).

Islam mengajarkan pentingnya persaudaraan antarsesama Muslim. Penderitaan yang dialami saudara Muslim di satu wilayah seharusnya juga dirasakan oleh Muslim di seluruh dunia, tanpa terhalang batas nasionalisme. Namun, saat ini umat Islam cenderung terkungkung dalam hegemoni nasionalisme sehingga ukhuwah Islamiah seakan hanya menjadi istilah tanpa makna.

Negara dengan mayoritas penduduk Muslim kerap disibukkan dengan berbagai kebijakan, baik dalam maupun luar negeri, demi meraih eksistensi internasional. Bahkan, kerja sama dengan negara yang memusuhi Islam dilakukan tanpa mempertimbangkan prinsip syariat. Al-Qur’an dan hadis pun belum sepenuhnya dijadikan sebagai pedoman dalam pengambilan kebijakan.

Al-Qur’an Surah Al-Fath ayat 29 memerintahkan umat Islam untuk bersikap tegas terhadap orang-orang kafir, sekaligus berkasih sayang terhadap sesama Muslim. Selain itu, dalam Surah At-Taubah ayat 123 terdapat perintah untuk berjihad terhadap pihak yang memerangi umat Islam.

Namun demikian, jihad tidak dilakukan secara individu, melainkan membutuhkan kepemimpinan yang terorganisasi. Diperlukan satu komando dari pemimpin umat agar perjuangan berjalan terarah dan tidak menimbulkan pengorbanan yang sia-sia.

Khatimah

Kepemimpinan yang menerapkan syariat Islam secara menyeluruh dinilai mendesak untuk diwujudkan. Dalam pandangan ini, persatuan umat diyakini mampu mengakhiri berbagai bentuk penindasan yang dialami Muslim di berbagai wilayah, seperti Gaza, Sudan, Uighur, dan Rohingya.

Dengan menjadikan Islam sebagai pedoman hidup, baik dalam ranah individu, masyarakat, maupun negara, diharapkan kesejahteraan dan keadilan dapat terwujud. Setiap Muslim pun dapat merasakan kebahagiaan hari raya sebagaimana mestinya.

Wallahu a‘lam bishawab. [My/Iwp]

Baca juga:

0 Comments: