Oleh: Nurma Safitri
(Kontributor SSCQ Media)
SSCQmedia.com—Terjadi lagi, kasus kekerasan pembacokan terhadap seorang mahasiswi di kampus Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau, Kamis pagi, 26 Februari 2026 pukul 8.30 WIB. Korban dilarikan ke rumah sakit karena mengalami luka berat di bagian kepala dan tangan. Mahasiswi Faradhila Ayu dibacok mahasiswa berinisial RM. Aksi brutal ini berlangsung saat korban akan mengikuti seminar proposal. Pelaku RM melukai korban dengan menggunakan senjata tajam (metrotvnews.com, 26/2/2026).
Kasus ini terjadi karena pelaku memiliki perasaan terhadap korban saat keduanya melaksanakan KKN dalam satu kelompok. Kemudian, korban menolak cinta dari si pelaku yang akhirnya berujung pada pembacokan (kumparan.com, 27/2/2026).
Kekerasan ini terjadi ke sekian kalinya di negeri ini. Mirisnya, kebanyakan kekerasan dilakukan oleh orang yang dekat dengan kita. Tindak kekerasan pemuda semakin marak terjadi, padahal pemuda adalah agen perubahan dan penerus bangsa. Namun, yang terjadi para pemuda kehilangan arah dan jati diri. Mereka lebih dekat pada kekerasan, pembunuhan, dan pergaulan bebas. Faktor-faktor tersebut terjadi karena kegagalan sistem pendidikan sekuler dalam membentuk generasi berkepribadian mulia.
Pendidikan saat ini menekankan aspek akademik dan pencapaian materi saja, tetapi minim dalam pembinaan iman, hukum syariat, akhlak, dan kontrol diri. Akibatnya, ketika mereka menghadapi penolakan atau konflik emosional, sebagian dari mereka tidak memiliki kedewasaan berpikir dan ketahanan mental yang kuat.
Sekularisme membentuk standar kebebasan yang menempatkan keinginan individu sebagai tolok ukur utama, remaja didorong untuk mengekspresikan perasaan tanpa batas. Ketika keinginan tidak terpenuhi, emosi mudah meledak karena standar kebahagiaan ditentukan oleh kepuasan duniawi dan materi. Normalisasi nilai-nilai liberalisme, khususnya dalam pergaulan bebas seperti pacaran, khalwat, dan ikhtilat memperbesar potensi konflik emosional. Hubungan yang tidak didasarkan pada nilai agama akan melahirkan ekspektasi berlebihan, rasa ingin memiliki yang besar hingga obsesi yang berujung pada kekerasan ketika cinta tak didapat.
Pada sistem kapitalisme, pembinaan karakter tidak menjadi prioritas yang utama dibanding dengan pencapaian ekonomi. Akibatnya lahirlah generasi yang cerdas secara intelektual, namun rapuh secara moral dan emosional.
Bagaimana Islam Menyelesaikan Banyaknya Kekerasan yang Terjadi?
Islam merupakan sistem yang dapat menyelesaikan seluruh problem yang terjadi, karena aturan Islam bersumber langsung dari Allah Taala. Dalam sistem pendidikan Islam, yang dibangun pertama kali adalah akidahnya, dengan tujuan agar dapat membentuk kepribadian Islam, yaitu pola pikir dan pola sikap sesuai dengan nilai syariat Islam.
Pada sistem pendidikan Islam, generasi dididik untuk memiliki kesadaran penuh agar taat pada syariat Islam, halal haram, tanggung jawab, dan ketakwaan. Bukan hanya sekadar capaian akademik dan materi saja, melainkan melahirkan generasi atau masyarakat yang melakukan amar makruf nahi mungkar, yakni saling mengingatkan dalam kebaikan, menentang kemaksiatan, sehingga tercipta suasana yang mendukung ketaatan dan menjauhkan diri dari perilaku menyimpang.
Sistem pendidikan Islam hanya dapat diterapkan ketika ada sebuah negara Islam yang menaunginya, yaitu Khilafah Islamiah. Dalam Islam, pemimpin adalah pengurus (raa’in) yang bertanggung jawab atas rakyatnya, artinya pembentukan kepribadian generasi bukan diserahkan sepenuhnya kepada keluarga ataupun sekolah, tetapi menjadi tanggung jawab negara.
Khilafah akan menerapkan aturan dan memberikan sanksi sesuai hukum Islam untuk memberikan efek jera bagi pelaku kemaksiatan seperti kekerasan. Seluruh aturan Islam ini akan menjaga keamanan dan kehormatan masyarakat. Dengan sinergi individu bertakwa, masyarakat yang Islami, dan penegakan hukum berbasis syariat diharapkan lahir generasi yang kuat iman, matang emosi, dan berkepribadian Islam. Wallahualam bissawab. [Ni/UF]
Baca juga:
0 Comments: