Remaja di Ujung Jurang, Islam Solusi Kehidupan
Oleh: Anik
(Kontributor SSCQMedia.Com)
SSCQMedia.Com—Jumat siang, 7 November 2025, publik dikejutkan oleh peristiwa ledakan bom di SMAN 72 Jakarta. Diduga pelaku membawa bom rakitan dan merupakan siswa yang sering menjadi korban perundungan. Ledakan tersebut menimbulkan 29 korban luka. Banyak spekulasi menyebutkan bahwa aksi ini merupakan bentuk balas dendam, meski hingga kini kasusnya masih dalam proses penyidikan (Okezone.com, 07/11/2025).
Tak hanya itu, pada Oktober 2025 tercatat tiga kasus bunuh diri yang dilakukan remaja berusia belasan tahun. Di Sukabumi, seorang remaja perempuan berusia 14 tahun mengakhiri hidupnya diduga karena sering mengalami kekerasan verbal dari teman-temannya. Dua kasus serupa juga terjadi di Sawahlunto, Sumatra Barat (BBC News Indonesia, 20/10/2025). Kasus perundungan lainnya terjadi di Bekasi, menimpa enam siswa SMPN 1 Tambun Selatan hingga mengalami trauma dan membutuhkan pendampingan psikologis (BBC.com, 03/11/2025).
Rentetan kasus tersebut hanyalah sebagian dari maraknya bullying yang berujung kekerasan sepanjang tahun 2025. KPAI mencatat setidaknya 26 anak meninggal akibat bunuh diri yang sebagian dipicu bullying. Kasus bullying di dunia pendidikan masih menjadi masalah serius, dengan jumlah yang terus meningkat dan banyak yang tidak terlaporkan (Kompas.com, 12/11/2025).
Fenomena ini memunculkan pertanyaan besar: mengapa bullying dan kekerasan remaja terus meningkat? Banyak faktor yang melatarbelakangi, mulai dari faktor pribadi seperti rasa tidak aman dan keinginan berkuasa, faktor keluarga yang tidak harmonis, kurangnya perhatian orang tua, pengaruh lingkungan pergaulan serta media sosial, hingga faktor psikologis.
Berulangnya kasus bullying yang berujung kematian menunjukkan bahwa pendidikan kita tidak dalam kondisi baik. Pelajaran akhlak yang diterima di sekolah seakan tidak berbekas. Ini merupakan potret dari sistem pendidikan sekuler yang memisahkan agama dari kehidupan dan membiarkan kebebasan perilaku tanpa batasan nilai moral serta agama. Inilah penyebab generasi hari ini mengalami krisis moral yang begitu parah.
Kebebasan tanpa kendali membuat pelaku bullying maupun korban yang memilih bunuh diri sama-sama tidak mempertimbangkan dosa dan konsekuensi akhirat. Mereka memutuskan tindakan berdasarkan perasaan semata tanpa guidance nilai dan aturan.
Padahal, Islam adalah agama yang mengatur seluruh aspek kehidupan, termasuk akhlak dan pergaulan. Islam memiliki aturan yang mengarahkan naluri manusia menuju kasih sayang, bukan kekerasan. Islam memerintahkan untuk saling mencintai, saling mengasihi, dan menjaga persatuan, sebagaimana firman Allah Swt. dalam QS. Ali Imran ayat 103.
Nilai-nilai Islam akan diinternalisasikan dalam sistem pendidikan Islam melalui metode yang membentuk karakter, bukan sekadar teori. Pelajar harus disibukkan dengan aktivitas ketaatan—membaca dan menghafal Al-Qur’an dan hadis, mempelajari tsaqafah Islam, serta diarahkan pada aktivitas positif sesuai minat dan bakat dalam koridor syariat. Sinergi antara pelajar, orang tua, guru, dan sekolah sangat diperlukan untuk membentuk generasi yang tangguh.
Selain itu, negara harus mengambil peran utama sebagai pengatur dan pengawas, memastikan tidak ada kezaliman di lingkungan pelajar dan membina moral masyarakat secara menyeluruh. Negara bertanggung jawab membangun lingkungan yang aman dan berbasis nilai Islam sehingga generasi terlindungi dan tidak terjerumus dalam kesia-siaan. [ry]
Baca juga:
0 Comments: