Headlines
Loading...
Bencana Silih Berganti, Islam Datang Selamatkan Negeri

Bencana Silih Berganti, Islam Datang Selamatkan Negeri

Oleh: Ummu Fahhala
(Kontributor SSCQMedia.Com)

SSCQMedia.Com—Bencana kembali melanda negeri ini. Tanah longsor menerjang Cilacap dan Banjarnegara. Puluhan warga tertimbun dan banyak yang belum ditemukan. Presiden meminta percepatan evakuasi korban longsor di Cilacap, namun hingga hari kesepuluh dua korban masih belum ditemukan (mediaindonesia.com, 20 November 2025). Di Banjarnegara, 27 warga diduga masih tertimbun material longsor (cnnindonesia.com, 17 November 2025). Lemahnya mitigasi bencana turut memperparah keadaan (mongabay.co.id, 19 November 2025). Sementara itu, banjir rob melanda Kepulauan Seribu (antaranews.com, 23 November 2025), dan banjir besar mengepung wilayah Sulawesi Tengah, Aceh, dan Sumatera Barat. Banyak warga terjebak dan belum terevakuasi akibat cuaca ekstrem, medan sulit, serta keterbatasan personel dan alat (cnnindonesia.com, 23 November 2025).

Rangkaian bencana yang terjadi memperlihatkan bahwa negeri ini sedang berada dalam kerentanan serius. Ini bukan hanya fenomena alam atau masalah teknis, tetapi cermin dari tata kelola wilayah dan lingkungan yang tidak berpijak pada prinsip keberlanjutan. 

Paradigma pembangunan berorientasi profit dalam sistem kapitalisme sekuler membuka hutan tanpa kendali, memperluas tambang, mengikis pegunungan, serta mengubah daerah resapan menjadi kawasan industri. Ketika alam dipaksa menanggung beban eksploitatif, maka bencana tinggal menunggu waktu. Allah Swt. telah memperingatkan, “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia.” (QS. Ar-Rum: 41)

Islam menawarkan paradigma yang menyeluruh. Secara ruhiyah, bencana adalah peringatan agar manusia kembali pada aturan Allah Swt. Secara siyasiyah, negara wajib menjaga keseimbangan ekologis, mengelola ruang hidup secara adil, dan memastikan keselamatan rakyat.

 Rasulullah Saw. bersabda, “Kaum Muslimin berserikat dalam tiga hal: air, padang rumput, dan api.” (HR. Abu Dawud). Artinya, sumber daya alam adalah milik umum dan tidak boleh dikomersialisasi oleh segelintir pemodal. Dalam sejarah, Khalifah Umar bin Khattab menunjukkan kepemimpinan yang bertanggung jawab dengan turun langsung mengatur bantuan saat rakyat dilanda paceklik.

Penutup
Bencana yang berulang menegaskan bahwa masalah utama bukan sekadar kurangnya mitigasi teknis, tetapi paradigma pembangunan yang keliru. Selama sistem yang memuja modal tetap dipertahankan, rakyat akan terus menjadi korban. Sudah saatnya bangsa ini kembali kepada sistem Islam yang kaffah, sistem yang menjaga harmonisasi manusia dan alam serta menghadirkan rahmat bagi seluruh makhluk. [US]

Baca juga:

0 Comments: