Headlines
Loading...
Gaza Masih Menderita: Ketika Perang Belum Usai dan Cuaca Mematikan

Gaza Masih Menderita: Ketika Perang Belum Usai dan Cuaca Mematikan

Oleh: Verawati S.Pd
(Kontributor SSCQMedia.Com)

SSCQMedia.Com – “Orang yang berjumlah satu miliar tidak berada dalam kehangatan, sementara dua juta warga Gaza kini berada di tempat terbuka. Ya Rabb, siapakah yang kami miliki selain Engkau, ya Allah.” — Ashrof Ramadan, Jurnalis Gaza

Dua tahun perang telah mengubah wajah Gaza secara drastis. Wilayah yang dahulu hidup, berkembang, dan menjadi tempat aktivitas masyarakat, kini berubah menjadi kota mati. Bangunan runtuh, hangus, gelap, dan nyaris tanpa tanda-tanda kehidupan. Gaza lumpuh total. Ribuan pengungsi bertahan di tenda-tenda seadanya, dikepung ketidakpastian, sementara musim hujan memperburuk keadaan. Bantuan yang terbatas dan cuaca ekstrem membuat kondisi warga kian memprihatinkan.

Program Pangan Dunia (WFP) PBB menyebutkan bahwa meskipun pasokan makanan sedikit meningkat sejak gencatan senjata Oktober lalu, jumlah tersebut masih jauh dari cukup. Hujan musim dingin bahkan mengancam merusak bahan pangan yang telah masuk. (Reuters, 21/11/2025)

Di tengah kondisi genting itu, CNBC Indonesia melaporkan bahwa serangan udara Israel kembali terjadi pada Kamis (20/11/2025) dan menewaskan lima orang. Hal ini memunculkan kekhawatiran bahwa gencatan senjata berbulan-bulan terancam gagal. Sejak dimulainya gencatan pada 10 Oktober, 269 warga Palestina gugur dan lebih dari 630 lainnya terluka.

Fakta tersebut menunjukkan bahwa Gaza masih menderita dan bahwa apa yang disebut solusi gencatan senjata sejatinya tidak pernah menjadi solusi tuntas. Israel tetap melancarkan serangannya karena masalah utama tidak berubah: penjajahan yang terus berlangsung.

Solusi Barat Gagal Total

Upaya Barat, termasuk gencatan senjata, terus diulang tetapi tak pernah berhasil. Perjanjian dibuat, lalu dilanggar. Qatar sebagai mediator konflik mengecam tindakan Israel dan menyebutnya sebagai “eskalasi berbahaya yang mengancam perjanjian gencatan senjata.” (CNBC Indonesia, 21/11/2025)

Semua ini memperjelas bahwa solusi Barat tidak mampu menghentikan penderitaan rakyat Gaza. Barat dan Israel hakikatnya adalah penjajah yang ingin melanggengkan dominasi, melemahkan pemikiran Islam, dan mencegah umat Islam bersatu serta bangkit.

Sebelum adanya gencatan, perhatian dunia kepada Gaza begitu besar. Aksi kemanusiaan menggema dari berbagai negara. Kapal Flotilla diberangkatkan dari berbagai penjuru dunia sebagai bentuk kepedulian global. Namun setelah muncul wacana pembangunan Gaza oleh Donald Trump, perhatian perlahan meredup. Gaza seolah diserahkan pada Amerika, dan semangat pembelaan umat melemah. Inilah yang diinginkan penjajah: perhatian mereda, suara umat mengecil, dan penderitaan Gaza tak lagi menjadi sorotan.

Karena itu, umat Islam tidak boleh tertidur. Kesadaran, kepedulian, dan solidaritas harus terus dijaga.

Islam Mengajarkan Persatuan dan Kepedulian

Allah Ta‘ala berfirman:

“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara. Maka damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat.”
(QS. Al-Hujurat: 10)

Rasulullah saw. bersabda:

“Perumpamaan orang-orang mukmin dalam hal saling mencintai, menyayangi, dan mengasihi adalah seperti satu tubuh. Jika salah satu anggota tubuh sakit, maka seluruh tubuh ikut merasakan sakit, tidak bisa tidur, dan demam.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Ayat dan hadis ini bukan sekadar teori. Ia adalah pedoman hidup. Ketika Gaza menderita, seluruh umat Islam semestinya merasakan sakit yang sama. Ketika mereka kehilangan rumah, hati kita sepatutnya terguncang.

Akar masalah Gaza adalah penjajahan Israel. Karena itu, solusi hakiki membutuhkan kekuatan militer umat Islam yang dipimpin seorang khalifah, seperti yang dulu dilakukan oleh Umar bin Khattab, Shalahuddin Al-Ayyubi, dan Muhammad Al-Fatih, dengan jihad sebagai komando negara. Bantuan materi telah dilakukan, negosiasi sudah berkali-kali, gencatan senjata pun tidak berhasil, doa terus dipanjatkan, tetapi penjajah tetap melanggengkan agresinya. Maka jihad yang dipimpin khalifah adalah jalan satu-satunya penyelamatan yang paripurna.

Untuk mewujudkannya, umat harus bersatu di bawah panji Islam, Khilafah. Itulah kekuatan yang mampu menghentikan penjajahan dan menyelamatkan Gaza.

Landasan iman inilah yang harus menjadi dorongan untuk bersatu, menolong Gaza, dan menolong agama Allah Swt. Umat tidak boleh lengah dan tidak boleh berhenti menyeru kepada persatuan di bawah sistem Islam.

Allahu Akbar!
Wallahualam bissawab. [My]


Baca juga:

0 Comments: