Badai Ekstrem Membekukan Gaza, di Mana Kaum Muslimin?
Oleh: Kikin Fitriani
(Aktivis Muslimah)
SSCQMedia.Com—Gencatan senjata yang diberlakukan pada 10 Oktober lalu tidak membuat Zionis patuh terhadap kesepakatan. Kebiadaban mereka terus berlanjut, tercatat sebanyak 497 pelanggaran yang menewaskan 342 warga Gaza, sebagian besar lansia, anak-anak, dan perempuan.
Luka dan penderitaan rakyat Gaza tidak akan hilang, terlebih banyak dari mereka hidup di tenda-tenda pengungsian. Cuaca dingin dan badai hujan membanjiri tenda lusuh yang hampir roboh, sementara bantuan musim dingin yang tersimpan di gudang-gudang UNRWA di Yordania dan Mesir sengaja tidak didistribusikan karena blokade Zionis.
Seruan dari kepresidenan Palestina kepada komunitas internasional, terutama AS, tidak membawa perubahan. Krisis kemanusiaan semakin memburuk, dengan 260 warga Palestina syahid dan lebih dari 630 terluka sejak gencatan senjata dimulai.
Akar Masalah Palestina dan Belenggu Nasionalisme
Gencatan senjata bukan solusi untuk krisis kemanusiaan Palestina. Akar masalah Palestina adalah penjajahan yang ditancapkan Zionis Israel dengan dukungan penuh Amerika Serikat dan sekutunya.
Syekh Taqiyuddin An-Nabhani dalam Mafahim Siyasiyah menjelaskan bahwa Barat ingin menguasai Timur Tengah karena posisi strategis, kekayaan sumber daya alam terutama minyak, dan bahaya kebangkitan Islam bagi dominasi Barat.
Negeri-negeri Muslim diam dan tidak menolong saudaranya karena terbelenggu ide nasionalisme yang hanya mementingkan kekuasaan masing-masing. Pembelaan mereka hanya retorika kosong yang dikendalikan Barat.
Para penguasa Arab ibarat anjing penjaga kepentingan AS, rela menjadi budak daripada memihak umat. Mereka takut kehilangan dukungan politik dari Gedung Putih. Meski berstatus Muslim, Islam bukan ideologi mereka.
Skenario Licik Barat dan Pengelabuan Opini Global
Media global berada di bawah kontrol Barat, sehingga informasi dan narasi yang disampaikan sering bertolak belakang dengan realitas. AS menghembuskan propaganda bahwa kondisi Palestina membaik setelah gencatan senjata, padahal krisis kemanusiaan semakin memburuk.
Tidak ada satu pun solusi yang ditawarkan Barat untuk mengakhiri penjajahan Zionis. Propaganda gencatan senjata hanya memperpanjang blokade, membatasi bantuan, dan membiarkan pengungsi terancam kelaparan serta malnutrisi massal.
Mengakhiri Krisis Kemanusiaan di Gaza Palestina
Tidak ada solusi bagi Palestina kecuali Jihad fi Sabilillah. Hanya jihad yang dipahami oleh Zionis sebagai bahasa perlawanan terhadap penjajahan.
Pembebasan Palestina hanya mungkin terwujud dengan tegaknya Khilafah Islamiyah. Seruan Khilafah bukan slogan kosong, tetapi kekuatan politik independen berlandaskan ideologi Islam yang mampu menantang Barat.
Inilah yang ditakuti Barat. Dengan potensi umat Islam berupa jumlah penduduk besar, kekayaan alam, dan posisi strategis, Khilafah akan menjadi kekuatan besar yang sulit ditandingi.
Dengan khilafah yang memimpin jihad, kekuatan militer umat Islam akan bersatu, dan tidak ada kesulitan untuk menghancurkan Zionis laknatullah.
Allah Swt. berfirman,
“Pada hari kemenangan itu bergembiralah orang-orang beriman karena pertolongan Allah.”
(QS. Ar-Rum: 4–5)
Tantangan terberat bagi para pengemban dakwah adalah menyadarkan umat tentang urgensi tegaknya Khilafah sebagai pelindung umat. Para pengemban dakwah harus terus membongkar makar Barat dan topeng penguasa Muslim yang menjadi antek asing.
Wallahu alam bishawab. [Hz]
Baca juga:
0 Comments: