Headlines
Loading...
Surat untuk Santri Muslimahku: Tetaplah Menjaga Kemurnian Islam

Surat untuk Santri Muslimahku: Tetaplah Menjaga Kemurnian Islam

Oleh: Ummi Fatih
(Kontributor SSCQMedia.Com)

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Alhamdulillah...
Santri muslimahku, meski rindu-rindu itu biasanya reda sebulan sekali saat para orang tua datang menjenguk kalian, gejalanya pun sepertinya akan kembali saat salaman tangan pamit mereka ulurkan. Namun, hari ini aku bisa melihat penyakit rindu yang sudah panjang kalian alami dapat disembuhkan dengan kedatangan para orang tua yang menjemput kalian dengan resep kasih sayang.

Wahai santri muslimahku, insyaallah aku merasa kalian memang gadis-gadis salihah yang selalu bersemangat menimba ilmu demi Allah Swt. Ketika Rasulullah saw. telah menyampaikan bahwa mencari ilmu adalah kewajiban yang tidak boleh berhenti kecuali di stasiun kematian, maka kalian pun tetap serius menimbanya.

Meskipun banyak fitnah yang mengatakan bahwa pondok pesantren adalah tempat pendidikan kuno yang kurang berkualitas, namun dalam jangka waktu enam tahun ini saja, kalian mau masuk ke dalamnya yang berbenteng tinggi dan rapat.

Kitab-kitab tebal kalian baca, Al-Qur’an kalian hafalkan dan pahami maknanya, hadis-hadis kalian telusuri, dan bahasa Arab pun kalian gunakan untuk berkomunikasi setiap hari.

Oleh karena itu, aku berharap kemuliaan para penimba ilmu bisa kalian dapatkan. Sebab Allah telah berjanji dalam sebuah hadis:

“Siapa pun yang menelusuri jalan mencari ilmu-Nya, Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.”
(HR. Muslim)

Sayangnya...
Wahai para santri muslimahku, sadarkah kalian bahwa fitnah-fitnah keburukan tentang pesantren saat ini semakin membesar? Walaupun sang Menteri Agama kita sendiri sudah menyatakan kekagumannya pada pesantren yang diharapkan dapat menjadi lahan subur kebangkitan Islam, pada faktanya bibit kebangkitan bermerek Islam Moderat itu ia beli dari kaum kafir Amerika, yang komposisi utamanya mencampurkan kitab kuning dan kitab putih, sehingga kandungannya beracun sekularisme.

Bagaimana tidak, kalian sendiri tentu tahu bahwa Islam adalah agama sempurna yang berasal dari Allah Swt. Maka, andai kata ajaran Islam itu dicampuri ajaran duniawi buatan manusia, bukankah hasilnya akan sesat dan menyesatkan? Sebagaimana ketika kalian duduk di sini dan mempelajari firman Allah Swt. dalam surah Al-Baqarah ayat 42 yang berbunyi:

وَلَا تَلۡبِسُواْ ٱلۡحَقَّ بِٱلۡبَٰطِلِ وَتَكۡتُمُواْ ٱلۡحَقَّ وَأَنتُمۡ تَعۡلَمُونَ

“Dan janganlah kamu campuradukkan kebenaran dengan kebatilan dan (janganlah) kamu sembunyikan kebenaran, sedangkan kamu mengetahuinya.”

Mungkin banyak orang yang menganggap campuran itu baik untuk menyeimbangkan pikiran hingga menjadi sosok cerdas dan beriman. Sebaliknya, kalian tentu lebih sadar bahwa keimananlah yang seharusnya didahulukan, bukan disamakan dengan sekadar kecerdasan akal pengetahuan.

Dalam materi pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam yang telah kalian pelajari di pesantren ini, kalian tahu bahwa para cendekiawan muslim dikenal lebih cenderung mempelajari Islam sejak dini. Sedangkan ilmu dunia hanyalah hasil dari pendalaman berpikir Islam tersebut.

Contohnya, sang matematikawan dunia Al-Khawarizmi. Ia pernah mengatakan dalam buku karangannya yang berjudul Al-Kitāb al-Mukhtaṣar fī Ḥisāb al-Jabr wal-Muqābala bahwa teori algoritmanya adalah hasil pendalamannya terhadap surah An-Nisa ayat 11.

Dengan demikian, wahai para santriku...
Ketika kalian sekarang telah dinyatakan lulus dan bisa keluar dari pesantren, aku sangat berharap agar kalian benar-benar menjadi da’i.

Bangkitkan dirimu untuk berjuang membersihkan semua fitnah berbahaya tersebut di tengah masyarakat. Buatlah mereka yakin dan percaya bahwa pesantren justru sangat berkualitas tinggi dan tidak kuno. Sebab kalianlah sosok alumni yang telah merasakan kenyamanan metode pendidikannya. Tunjukkan kepada mereka bahwa kurikulum yang diterapkannya adalah Islam murni, sehingga dapat mencetak karakter salih yang kualitasnya layak masuk surga Allah Swt.

Aku bukan menginginkan semua itu sebagai bentuk promosi pembukaan calon peserta didik baru akibat semakin sepinya pendaftaran di meja kantorku. Namun, aku lebih menginginkan agar masyarakat tidak terus-menerus salah paham hingga mereka jauh dari Islam.

Bismillah...
Wahai para santri salihah, aku juga berpesan kepada kalian untuk mencari dan bergabung dalam golongan Islam sejati di luar sana. Dengan begitu, kalian akan tetap bisa mempelajari Islam murni bersama orang-orang saleh. Lalu, kalian akan menjadi pahlawan suci yang Allah pilih untuk memperjuangkan agama-Nya.

Tak perlu takut dan ragu untuk bergabung dalam jamaah dakwah Islam itu, sebab tujuannya adalah mencari rida Allah Swt., bukan mencari pujian dan imbalan dari manusia.

Meskipun mungkin dalam perjalanan dakwahnya kalian akan dikucilkan, semua itu hanyalah sementara. Dunia ini tidaklah abadi, melainkan menuju akhirat nanti.

Ingatlah, wahai para santri calon da’i pejuang Islam, Rasulullah saw. pernah bersabda:

“Islam datang dalam keadaan asing, dan akan kembali pula dalam keadaan asing. Sungguh beruntunglah orang-orang yang asing.”
(HR. Muslim)

Lalu, jika masa kedatangan Islam yang diasingkan telah dilalui, bukankah saat ini adalah masa lanjutan pengasingannya di akhir zaman yang penuh keburukan? Maka, jika kalian diasingkan karena memperjuangkan Islam, bukankah keberuntungan itu sedang kalian dapatkan?

Alhamdulillah.

Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
[Hz]


Baca juga:

0 Comments: