Oleh: Erna Kartika Dewi
(Kontributor SSCQMedia.Com)
SSCQMedia.Com — Kisahku ini berawal dari kehadiranku dalam acara Kajian Online (Kajol) ke-50 pada tanggal 2 November lalu. Saat itu, Sang Muassis tercinta, Bunda Lilik Yani, memberikan kuis tebak ayat dengan cara menyanyikan sebuah lagu dengan lirik sebagai berikut:
Akan datang hari
Mulut dikunci
Kata tak ada lagi...
Akan tiba masa
Tak ada suara
Dari mulut kita...
Berkata tangan kita
Tentang apa yang dilakukannya...
Berkata kaki kita
Ke mana saja dia melangkahnya...
Ya Allah, entah mengapa hatiku seketika bergetar mendengarkan lantunan lagu tersebut. Ingatanku melayang jauh pada sebuah kisah hidup beberapa tahun lalu yang pernah aku jalani, dan tentang sebuah ayat dalam Al-Qur’an, yaitu Surah Yasin ayat 65.
Masih teringat jelas dalam ingatanku.
Di suatu malam, hujan turun tanpa henti, mengetuk genting rumahku seperti mengetuk-ngetuk hati yang sedang gundah. Aku duduk sendirian di sudut kamar, menatap bayangan wajahku di cermin yang mulai berembun. Wajah yang dulu begitu yakin mengejar dunia, kini terlihat lelah dan kosong. Wajah yang dulu segar, kini tampak layu, mengikuti jatah kehidupan yang semakin berkurang.
Sudah berapa lama aku begini?
Berapa kali aku menukar waktu ibadahku dengan urusan dunia? Menukar istirahat dengan ambisi, menukar keikhlasan dengan pengakuan manusia?
Entah sejak kapan aku mulai kehilangan arah. Dulu aku pikir hidup ini hanya soal kerja keras dan hasil. Bahwa selama aku berjuang, aku akan bahagia. Kuhabiskan waktuku untuk bekerja, larut dalam kesibukan setiap hari. Karena bagiku, itulah sumber kebahagiaan yang harus aku utamakan.
Namun, ternyata bukan itu kuncinya. Aku memang berjuang, tetapi bukan di jalan Allah. Aku berlari, tapi entah ke arah mana. Aku jungkir balik, berusaha menegakkan hidup, namun tak sadar bahwa aku sedang menegakkan dunia di atas runtuhan akhiratku sendiri.
Hingga suatu hari, aku membaca Al-Qur’an dan terjemahannya. Ada satu ayat yang tiba-tiba saja menarik perhatianku, seolah berkata:
“Lihat dan renungkan ayat ini sebentar saja, ya, Irna.”
Ayat tersebut berbunyi:
اَلْيَوْمَ نَخْتِمُ عَلٰى أَفْوَاهِهِمْ وَتُكَلِّمُنَا أَيْدِيهِمْ وَتَشْهَدُ أَرْجُلُهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ
“Pada hari ini Kami tutup mulut mereka; tangan mereka akan berkata kepada Kami, dan kaki mereka akan memberi kesaksian terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan.”
(TQS. Yasin: 65)
Dari terjemahan itu, aku tersadar: pada hari itu, mulut kita tak lagi berbicara. Tangan kita yang bersaksi. Kaki kita yang berkata, ke mana saja mereka pernah melangkah.
Aku terdiam dan tiba-tiba merasa takut. Ayat itu seperti petir yang menyambar relung hatiku. Selama ini aku begitu percaya diri dengan semua pembelaan yang bisa kukatakan di hadapan manusia. Tapi di hadapan Allah? Aku bahkan tak akan punya kesempatan untuk berbicara, karena tubuhku sendiri yang akan menjadi saksi.
Tanganku ini akan bersaksi, digunakan untuk apa saja selama di dunia. Berapa banyak tangan ini terangkat untuk menolong, dan berapa banyak pula yang menyakiti. Kaki yang kumiliki akan bersaksi, ke mana saja ia melangkah, menuju majelis ilmu atau malah menuju dosa.
Mataku akan bersaksi, apa saja yang telah ia pandangi.
Dan hatiku, oh, hatiku yang paling tahu apa niatku selama ini.
Aku menunduk, menahan air mata yang mulai menggenang.
Ya Allah, aku takut. Aku takut dengan semua yang telah aku lakukan.
Ayat itu menamparku, keras tapi lembut, sakit tapi menyembuhkan.
Hari-hari setelah itu, hidupku berubah arah. Kepindahanku ke kota Sidoarjo membuatku memiliki tekad kuat untuk berubah. Aku mulai belajar memperbaiki diri, meski tidak mudah. Jungkir balik, benar-benar jungkir balik. Kadang semangatku membara, tapi esoknya padam. Kadang aku ingin benar-benar taat, tapi bisikan dunia selalu menggoda.
Ada masa aku menangis karena tak sanggup istikamah. Godaan datang mendera. Aku jatuh dalam dosa yang sama, lalu bangkit lagi, lalu jatuh lagi. Namun setiap kali aku ingin menyerah, aku teringat ayat itu: “Tangan mereka akan berkata kepada Kami.”
Dan aku membayangkan tanganku sendiri sedang berkata di hadapan Allah:
“Ya Rabb, aku pernah menulis hal-hal yang sia-sia. Aku pernah memegang sesuatu yang Engkau larang.”
Astaghfirullah, aku menangis. Aku tidak sanggup membayangkannya.
Malam demi malam aku habiskan untuk berbicara dengan Allah. Bukan dengan kata-kata indah, tetapi dengan air mata yang jujur. Aku menceritakan semuanya kepada-Nya: pengakuan dosa, lelah, takut, dan betapa seringnya aku gagal menjaga diri. Tapi aku juga memohon agar Allah tak pernah lelah menuntunku pulang.
Suatu ketika, aku menonton kajian daring tentang kematian. Ustaz berkata:
“Ketika ajal menjemput, tidak ada satu pun anggota tubuh yang akan berbohong. Semuanya tahu kepada siapa ia berkhidmat selama di dunia.”
Aku terpaku. Seluruh tubuhku seperti mendadak hidup. Mataku menatap telapak tangan sendiri, kakiku terasa berat. Bagaimana jika nanti mereka menjadi saksi yang memberatkan? Bagaimana jika mereka justru bersaksi bahwa aku lebih sering melangkah ke tempat yang melalaikan Allah daripada ke tempat yang mendekatkan diri kepada-Nya?
Seketika hatiku seperti disayat.
Astaghfirullah, ampuni aku, ya Rabb.
Sejak itu aku mulai mengubah arah langkahku. Aku berani menolak hal-hal yang membuat Allah murka, walau orang lain tak suka. Aku belajar menundukkan pandangan, menjaga lisan, dan menyibukkan tangan dalam kebaikan.
Aku tahu aku belum sempurna. Tapi setiap kali aku ingin berhenti, aku ingat bahwa tubuh ini akan menjadi saksi.
Aku ingin tubuhku menjadi saksi kebaikan. Aku ingin tanganku bersaksi bahwa aku pernah menolong dan menulis tentang kebaikan. Aku ingin kakiku bersaksi bahwa aku pernah berjalan menuju masjid, menuju kajian, menuju orang yang membutuhkan.
Aku ingin lidahku bersaksi bahwa aku pernah menyebut nama-nama Allah di tengah kesedihan, memenuhinya dengan zikir dan selawat tanpa henti sebagai bukti cintaku kepada Allah dan Rasul-Nya.
Aku ingin mataku bersaksi bahwa aku pernah menatap Al-Qur’an dengan cinta.
Aku ingin hatiku bersaksi bahwa aku pernah berusaha mencintai Allah, meski dengan segala keterbatasan.
Namun jalan menuju Allah tak pernah sepi dari ujian. Kadang aku dihadapkan pada kekurangan, kesedihan, kehilangan, kesepian, bahkan pada orang-orang yang tak mengerti perubahan ini. Ada yang menertawakan, menjauh, bahkan mencibir.
Tapi aku tetap memilih bertahan. Karena aku sadar, nanti di hadapan Allah, aku sendiri yang akan ditanya, bukan mereka. Dan tubuhku sendiri yang akan menjawab, bukan mereka.
Sampai hari ini, aku masih berjuang. Masih sering gagal, masih sering tergelincir, tapi kali ini aku tak ingin menyerah. Aku belajar mencintai prosesnya, karena ternyata di setiap kesulitan ada rasa manis ketika aku kembali mengingat Allah.
Aku mulai mengerti bahwa hidup bukan tentang seberapa tinggi aku berdiri, tetapi seberapa sering aku kembali kepada-Nya setiap kali jatuh.
Kadang aku merenung di sepertiga malam, membayangkan hari ketika semua makhluk dikumpulkan di padang mahsyar. Hari ketika bumi mengguncang, langit terbelah, dan manusia kebingungan. Hari ketika tak ada lagi yang bisa berbohong, bahkan setetes air mata pun akan menjadi saksi.
Dan aku bertanya dalam hati sambil membayangkan,
“Apakah tubuhku akan tersenyum atau menangis ketika bersaksi nanti?”
Doaku hanya satu:
Ya Allah, jadikan tangan ini saksi kebaikan.
Jadikan kaki ini saksi perjuangan menuju-Mu.
Jadikan lidah ini saksi zikir kepada-Mu, bukan dusta.
Jadikan mataku saksi cinta pada Al-Qur’an, bukan pandangan yang melalaikan.
Dan jadikan hatiku saksi bahwa aku pernah berusaha mencintai-Mu lebih dari segalanya.
Aku tahu aku belum pantas, tapi aku ingin selalu mencoba. Karena aku tak ingin suatu hari tubuhku berkata,
“Ya Rabb, dia telah menzalimi dirinya sendiri.”
Aku ingin, ketika tangan ini bersaksi, ia berkata dengan lembut,
“Ya Rabb, dia pernah berjuang. Meski sering jatuh, tapi dia selalu kembali kepada-Mu.”
Dan di hari itu, semoga Allah menjawab:
“Sungguh, Aku telah ampuni dia.”
Kini setiap kali aku membaca Surah Yasin ayat 65, aku tak lagi hanya menyimak kalimatnya atau membayangkan peringatannya. Aku juga membayangkan kasih sayang-Nya.
Bahwa Allah sedang mengingatkanku agar berhati-hati, agar sadar, agar mempersiapkan diri. Karena nanti, tak ada lagi kata-kata yang bisa menipu. Yang tersisa hanyalah kesaksian tubuh.
Dan sejak hari itu, aku berjanji dalam hati bahwa aku ingin tubuhku menjadi saksi kebaikan.
Saksi bahwa aku pernah jatuh, tapi tidak berhenti berjuang.
Saksi bahwa aku pernah tersesat, tapi selalu mencari jalan pulang.
Saksi bahwa aku, hamba yang lemah ini, pernah mencoba mencintai Allah dengan segenap jiwa.
Ya Allah,
Jika hari itu benar-benar tiba, hari ketika setiap anggota tubuh berbicara,
maka jadikanlah setiap bagian diriku saksi kebaikan, bukan keburukan.
Ampuni segala dosa yang pernah dilakukan oleh tanganku,
ampuni langkah-langkah kakiku yang pernah menjauh dari jalan-Mu,
ampuni pandangan mataku yang pernah lalai dari mengingat-Mu,
dan ampuni lisanku yang kadang tergelincir dari kebenaran.
Ya Rabb yang Maha Lembut,
Ketika semua manusia berdiri di hadapan-Mu tanpa daya,
jadikan aku di antara hamba-hamba yang Engkau naungi dengan rahmat-Mu.
Jangan biarkan aku termasuk orang yang malu di hadapan tubuhku sendiri.
Jadikan setiap hela nafasku sebagai zikir, setiap langkahku sebagai ibadah,
dan setiap air mata yang jatuh sebagai saksi cinta kepada-Mu.
Ya Allah,
Peganglah hatiku agar tetap istikamah di jalan-Mu.
Kuatkan aku untuk terus memperbaiki diri hingga akhir hayat.
Dan bila tiba saatnya tubuh ini bersaksi,
biarlah ia bersaksi dengan indah,
bahwa aku pernah mencintai-Mu,
pernah berjuang untuk-Mu,
dan tak pernah berhenti berharap ampunan serta kasih sayang-Mu.
Aamiin... Aamiin yaa Rabbal ‘aalamiin.
Sidoarjo, 3 November 2025
[Hz]
Baca juga:
0 Comments: