Oleh: Rina Herlina
(Kontributor SSCQMedia.Com)
SSCQMedia.Com—Sampai saat ini, Zionis Israel masih melakukan serangkaian operasi militer di Jalur Gaza. Hal ini menunjukkan adanya pelanggaran nyata terhadap perjanjian gencatan senjata.
Apa yang dilakukan Zionis Israel di lapangan bukan sekadar operasi defensif, melainkan upaya sistematis untuk mengosongkan sejumlah kawasan dari penduduknya dan menempatkan wilayah tersebut di bawah kontrol militer Israel.
Operasi penghancuran dan peledakan rumah-rumah warga Palestina oleh tentara Israel bukan tindakan sporadis, tetapi strategi untuk memperluas wilayah yang berada dalam genggaman militer Israel. Tujuannya agar kelak wilayah itu dapat dijadikan bahan tawar-menawar saat memasuki fase kedua perjanjian.
Tindakan Israel jelas bertentangan dengan prinsip dasar gencatan senjata, yang seharusnya berarti penghentian total seluruh operasi militer dari kedua belah pihak. Namun, Israel justru menciptakan situasi yang memungkinkan terjadinya serangan baru melalui kelompok-kelompok milisi yang berafiliasi dengannya di Gaza, sehingga setiap insiden dijadikan alasan memperluas operasi.
Di bawah payung gencatan senjata, Israel berupaya meraih keuntungan cepat. Salah satu contoh adalah keluarga-keluarga di kawasan Shaja'iyya yang dipaksa meninggalkan rumah mereka hanya karena satu operasi di satu titik (gazamedia.net, 20/11/2025).
Seperti yang diharapkan Zionis Israel, kawasan tersebut kini menjadi area kosong yang sulit dikembalikan kepada penduduk pada tahap berikutnya. Israel pun dapat dengan mudah menukar kawasan kosong itu pada fase kedua dibanding menarik pasukannya dari garis kuning yang telah disepakati.
Hingga kini, meskipun gencatan senjata telah disepakati, situasi di lapangan justru menunjukkan bahwa Israel semakin memperkuat posisinya. Bagi warga Gaza, ini berarti babak baru ketidakpastian, sementara masa depan pembicaraan fase kedua semakin dipenuhi tanda tanya. Entah bagaimana nasib Gaza selanjutnya?[US]
Tasikmalaya, 21 November 2025
Baca juga:
0 Comments: