Headlines
Loading...
Krisis Sudan: Bukti Dominasi Barat terhadap Kaum Muslim

Krisis Sudan: Bukti Dominasi Barat terhadap Kaum Muslim

Oleh: Kurrotul Aini
(Mahasiswi, Aktivis Dakwah)

SSCQMedia.Com—Belum selesai konflik genosida di Gaza, dunia kini dikejutkan lagi oleh genosida di Sudan. Pada 29 Oktober 2025, laporan kekejaman di Kota El-Fasher, Sudan Barat, meningkat sejak kota itu direbut oleh kelompok milisi Rapid Support Forces (RSF). Dilaporkan bahwa kelompok tersebut telah membantai warga sipil tak berdosa. Lebih dari 2.000 warga tak bersenjata dieksekusi dan dibunuh pada 26–27 Oktober. Kebanyakan dari mereka adalah perempuan, anak-anak, dan lansia (news.detik.com, 29-10-25).

Sudan adalah negara terbesar ketiga di benua Afrika, mayoritas penduduknya muslim, memiliki kekayaan sumber daya alam luar biasa, dan sungai Nil yang lebih panjang daripada di Mesir. Selain itu, posisi geografisnya sangat strategis sebagai jalur perdagangan, terletak di timur laut Afrika, serta menjadi penghubung utama antara Afrika Utara, wilayah Sahel, dan Afrika Sub-Sahara.

Krisis di Sudan sebenarnya telah berlangsung sejak lama, sejak Inggris merebut Sudan dari tangan Khilafah Islam pada 1898. Krisis ini bukan murni konflik etnis, tetapi terdapat keterlibatan negara adidaya Barat, yaitu Amerika Serikat dan Inggris, yang bertujuan mengokohkan hegemoni serta memelihara kepentingan mereka dengan menguras kekayaan alam Sudan yang melimpah ruah.

Sebagaimana di Gaza, rakyat Sudan juga mengalami penderitaan luar biasa. Mereka menjerit meminta tolong kepada kita, saudara muslimnya, termasuk kepada para penguasa muslim dunia. Akan tetapi, semuanya bungkam. Penguasa Arab yang selama ini menjadi tumpuan harapan rakyat Sudan justru mengkhianati mereka dengan bersekongkol bersama negara imperialis Barat, yang menjadi penyebab penderitaan berkepanjangan.

Inilah gambaran umat Islam di bawah kepemimpinan sistem sekuler kapitalisme global. Rakyat Sudan, Gaza, dan rakyat di negeri-negeri muslim lainnya menjadi korban kerakusan negara-negara adidaya Barat. Hal ini juga merupakan akibat bercokolnya ide nasionalisme (negara-bangsa) yang dicekokkan oleh penjajah, sehingga sebagian muslim nyaris kehilangan empati dan solidaritas dalam menolong kaum muslim di Sudan, Gaza-Palestina, dan wilayah lainnya.

Padahal Rasulullah saw. mengingatkan bahwa seorang muslim dengan sesama muslim lainnya bukanlah individu yang terpisah. Mereka satu, laksana satu tubuh. Sabda beliau: “Perumpamaan kaum mukmin dalam hal saling mengasihi, mencintai, dan menyayangi bagaikan satu tubuh. Jika salah satu anggota tubuh sakit, seluruh tubuh ikut terjaga dan demam (turut merasakan sakitnya).” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Semua ini terjadi karena dunia tidak lagi hidup dengan aturan Islam. Oleh karena itu, umat Islam semestinya menyadari bahwa krisis tidak akan pernah berhenti kecuali dengan kembali kepada Islam. Kaum muslim juga akan sulit menolong muslim Sudan, muslim Gaza-Palestina, dan lainnya sebelum mereka bersatu di bawah kepemimpinan politik Islam, yaitu Khilafah Islam.

Khilafah Islam dipimpin oleh seorang khalifah untuk seluruh dunia yang akan melindungi seluruh umat, termasuk kaum muslimin. Rasulullah saw. bersabda:
“Sesungguhnya imam (khalifah) itu adalah perisai (pelindung umat).” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Keberadaan Khilafah Islam telah dijanjikan Allah dan menjadi kabar gembira dari Rasulullah. Akan tetapi, Khilafah tidak akan tegak dengan sendirinya. Ia harus diperjuangkan, sebagaimana dahulu Rasulullah dan para sahabat mencontohkannya.

Cara memperjuangkannya adalah dengan membangun kesadaran dan memasifkan opini Islam di tengah-tengah umat tanpa kekerasan, baik mengenai kesempurnaan Islam mulai dari akidah dan syariat-syariatnya, maupun tentang bagaimana hukum-hukum Islam diterapkan sebagai solusi berbagai persoalan kehidupan. Dengan demikian, terwujudlah Islam rahmatan lil ‘alamin.

Wallahualam. []

Baca juga:

0 Comments: