Oleh. Ummi Fatih
(Kontributor SSCQMedia.Com)
SSCQMedia.Com—Apabila sebelumnya hari santri hanya diperingati oleh kalangan pondok pesantren dalam ruang lingkup mereka sendiri. Tahun 2025 ini perayaannya berhasil menyedot perhatian publik. Tidak hanya melantunkan kalimat selawat dan pembacaan kitab, kali ini dalam rangkaian acaranya pun menggelar pawai, karnaval, lomba, dan festival besar.
Dalam sebuah liputan Tangerangkota.go.id disebutkan, sebanyak 120 pondok pesantren beserta masyarakat sekitar ikut berpartisipasi dalam kegiatan tersebut. Mereka dijadwalkan mengikuti berbagai macam lomba, seperti balap karung, tari-tarian daerah, dan lain sebagainya (19/10/2025).
Selain itu, Presiden Prabowo menyampaikan rasa bangganya melalui kanal YouTube Sekretariat Presiden. Ia berharap para santri dapat bangkit menjadi penjaga moral yang berkontribusi dalam memajukan bangsa. Presiden juga mengajak para santri untuk kembali menumbuhkan semangat jihad dalam melindungi negara, dengan berbekal ilmu dan keimanan sebagaimana yang dicontohkan oleh Kiai Haji Hasyim Asy’ari, pendiri organisasi Islam Nahdlatul Ulama (NU) (setneg.go.id, 24/10/2025).
Namun demikian, seluruh hal tersebut perlu dikaji kembali secara mendalam. Sebab, momentum acaranya dinilai lebih bersifat seremonial dan berpotensi tidak sejalan dengan prinsip-prinsip syariat Islam. Pesan serta pujian bernuansa kenegaraan yang disampaikan pun dinilai kurang selaras dengan kebijakan yang dijalankan oleh pemerintah Indonesia saat ini.
Faktanya, dalam perayaan pawai tersebut justru terdapat praktik yang mencampuradukkan antara laki-laki dan perempuan nonmahram, sesuatu yang jelas dilarang dalam syariat Islam. Jika hal semacam ini dibiarkan, bukankah tujuan utama pendidikan di pondok pesantren — yakni mencetak generasi faqih fiddin — akan sulit tercapai? Para santri akan kesulitan menjaga diri dari hal-hal yang tidak bermoral, dan pada akhirnya tidak mampu menjadi agen perubahan yang membanggakan bagi bangsa Indonesia.
Adapun karakter para santri dan ulama di masa lalu yang tulus berjuang mengusir penjajah patut kita teladani. Sebab, mereka memahami makna sejati jihad fi sabilillah dalam membela dan mempertahankan tanah air dari penjajahan. Sebagaimana firman Allah Swt. dalam surah Al-Hajj ayat 39:
Ø£ُذِÙ†َ Ù„ِÙ„َّذِينَ ÙŠُÙ‚َٰتَÙ„ُونَ بِØ£َÙ†َّÙ‡ُÙ…ۡ ظُÙ„ِÙ…ُواْۚ ÙˆَØ¥ِÙ†َّ ٱللَّÙ‡َ عَÙ„َÙ‰ٰ Ù†َصۡرِÙ‡ِÙ…ۡ Ù„َÙ‚َدِيرٌ
"Diizinkan (berperang) bagi orang-orang yang diperangi, karena sesungguhnya mereka dizalimi. Dan sungguh, Allah Mahakuasa menolong mereka itu."
Sementara itu, dalam kondisi Indonesia yang kini menganut sistem sekularisme dan kapitalisme, semangat perjuangan para pahlawan muslim menjadi semakin sulit untuk dibangkitkan. Pondok pesantren pun cenderung diarahkan hanya sebagai lembaga pencetak agen moderasi beragama, yang orientasinya menjauh dari penerapan ajaran Islam secara kafah.
Dari sisi sekularisme yang bersifat munafik, pengakuan terhadap keberadaan Tuhan tidak pernah disertai dengan ketaatan yang sejati kepada-Nya. Akibatnya, berbagai dalih toleransi beragama yang dikemas dengan istilah moderasi atau wasathiyah justru berpotensi menyesatkan para santri tanpa mereka sadari.
Di Indonesia, masih terdapat budaya atau tradisi sesajen yang jelas diharamkan dalam ajaran Islam. Namun, praktik tersebut kerap tetap dipertahankan dengan dalih menjaga kearifan lokal dan menjunjung sikap saling menghormati.
Sementara itu, dari sisi landasan kapitalisme yang berorientasi pada keuntungan semata, para santri berisiko terjangkit penyakit cinta dunia. Sebab, mereka diarahkan untuk mengikuti standar kesuksesan yang bersifat materialistik — berpusat pada harta — bukan pada upaya meraih rahmat Allah Swt.
Para santri kini lebih banyak disibukkan dengan pekerjaan untuk mencari uang, bukan diarahkan untuk fokus beribadah dan mendakwahkan Islam. Padahal, kesibukan tersebut sejatinya merupakan bentuk penjajahan gaya baru yang justru dilakukan oleh para penguasa negeri ini sendiri.
Andaikata para penjajah dahulu mengambil sumber daya alam secara paksa untuk kepentingan mereka sendiri, maka kini para penguasa Indonesia pun masih tega melakukannya tanpa empati terhadap rakyatnya. Kekayaan negeri ini dijual dan disewakan kepada pihak asing, sementara masyarakat — termasuk para santri — hanya dijadikan buruh di tanah airnya sendiri.
Dengan demikian, bukankah sudah saatnya para santri meneladani semangat jihad para pendahulu mereka dengan cara berdakwah melawan berbagai bentuk kezaliman penguasa? Sebagaimana sabda Rasulullah saw. dalam hadis riwayat Abu Dawud:
"Jihad yang paling utama adalah mengatakan kebenaran di hadapan penguasa yang zalim."
Para santri sudah sepatutnya tampil menawarkan Islam sebagai solusi bagi para penguasa negeri. Sebab, melalui ajaran Islam yang telah mereka pelajari, mereka memahami bahwa Islam memiliki solusi yang sempurna untuk setiap persoalan kehidupan.
Sebagai contoh, dalam hal pengelolaan sumber daya alam, Islam mewajibkan negara untuk mengelolanya secara mandiri tanpa campur tangan asing. Rakyat dapat dilibatkan sebagai tenaga kerja dengan upah yang layak, sehingga persoalan pengangguran pun dapat teratasi. Selanjutnya, hasil ekonomi dari pengelolaan tersebut akan disalurkan ke dalam baitulmal (kas negara) sebagai sumber dana untuk memenuhi kebutuhan rakyat. Dengan sistem ini, insyaallah permasalahan utang besar negara dapat diakhiri secara tuntas dan berkah.
Demikian pula dalam bidang kemajuan teknologi, para santri yang sering dianggap kurang berkualitas sejatinya dapat menjadi pribadi yang unggul ketika dibekali dengan nilai-nilai Islam. Sebab, dalam dalil-dalil Al-Qur’an dan hadis telah terkandung prinsip-prinsip ilmu pengetahuan yang dapat dikembangkan menuju arah kemajuan dan kemaslahatan umat.
Sebagaimana para santri pada masa kejayaan Khilafah Islam dahulu, negara dan rakyat hidup dalam hubungan yang saling menasihati dengan landasan ideologi Islam. Dari sinilah peradaban emas Islam tumbuh dan berkembang. Para ulama dan ilmuwan mampu melahirkan berbagai teori ilmu pengetahuan yang bermanfaat hingga kini, setelah mereka mendalami ayat-ayat Al-Qur’an.
Salah satunya adalah Ibnu Sina, yang dikenal sebagai dokter dunia pada masanya. Teori-teori kesehatannya banyak terinspirasi dari ayat-ayat Al-Qur’an tentang penciptaan manusia dari tanah dan air. Oleh karena itu, jihad para santri di zaman sekarang hendaknya diwujudkan melalui dakwah yang berpijak pada petunjuk Islam, agar peradaban mulia itu dapat kembali tegak. [Ni]
Baca juga:
0 Comments: